Karhutla Gambut Kalimantan menoreh luka mendalam di wilayah tengah pulau ini, menimbulkan kebakaran hutan dan lahan yang meluas lebih dari dua ratus hektare pada tahun 2026. Kejadian ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan ekologis yang parah, tetapi juga menelan korban jiwa, termasuk seorang relawan yang tak henti memadamkan api. Suami korban, Akhmad Rizani, meninggal dunia pada 27 Agustus 2026 setelah berjuang memadamkan kebakaran di Jalan Rungan, Kota Palangka Raya.
Perjalanan Kebakaran dan Dampaknya Pada Komunitas
Menurut laporan foto ANTARA FOTO/Bayu Pratama S, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan pada tahun ini dianggap sebagai salah satu yang terparah dalam lebih dari satu dekade. Lebih dari ratusan ribu hektare gambut terbakar, menciptakan bayang-bayang abu yang menyelimuti langit. Dampak langsungnya tidak hanya merusak habitat alami, tetapi juga menimbulkan kerugian materi yang signifikan. Dalam konteks sosial, para penduduk yang hidup di sekitar kawasan hutan harus menghadapi risiko kebakaran, kehilangan mata pencaharian, dan gangguan kesehatan akibat polusi udara.
Di tengah duka dan kemalangan korban, telunjuk pun mengarah kepada pemerintah. Banyak pihak menilai bahwa kegagalan dalam mitigasi karhutla, salah satunya melalui kebijakan “membubarkan” Badan Restorasi Gambut dan Mangrove pada akhir 2024, menjadi penyebab utama. Tugas memulihkan gambut yang rusak akibat kebakaran kemudian dilimpahkan ke kementerian terkait, namun tidak ada upaya yang cukup untuk menanggulangi penyebab utama. Untuk pegiat lingkungan, keputusan Presiden Prabowo Subianto dianggap sebagai “kesalahan” yang harus dibayar mahal.
Perjalanan Akhmad Rizani Sebagai Relawan
Akhlam Rizani, Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan Raya, Kota Palangka Raya, menjadi contoh dedikasi relawan yang tak kenal lelah. Pada 27 Agustus 2026, ia terpaksa memutuskan untuk turun langsung di Jalan Rungan, kawasan belakang Kantor Kecamatan Jekan Raya, untuk memadamkan api yang telah menyebar di lahan gambut. Saat itu, ia duduk meringkuk kesakitan di tepi jalan, menghembuskan napas terakhir setelah menahan rasa sakit di dada. Anggota timnya mengaku bahwa Rizani tiba-tiba memberi tanda kepada rekan-rekannya sambil memegang bagian dada. Awalnya, isyarat itu dianggap gurauan, namun ketika kondisi Rizani semakin lemah, pucat, dan muntah, tim segera membawanya ke Kantor BPBD dan merujuknya ke rumah sakit terdekat.
Wahidah, istri Rizani, menuturkan bahwa ia tidak pernah menganggap bahwa suaminya akan terlibat dalam situasi berbahaya seperti itu. Ia mengingatkan diri sendiri, “Seandainya waktu bisa diulang, kalau tahu kejadiannya seperti ini… saya akan melarang suami ikut jadi relawan.” Kejadian ini menegaskan betapa pentingnya pelatihan dan penilaian risiko bagi relawan yang bekerja di area karhutla. Tanpa prosedur keselamatan yang memadai, relawan dapat menjadi korban langsung dari bencana yang mereka coba atasi.
Kenapa Kebakaran Gambut Kalimantan Menjadi Masalah Besar?
Kebakaran gambut di Kalimantan menjadi masalah besar karena gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar; ketika terbakar, karbon ini dilepaskan ke atmosfer, memperburuk emisi gas rumah kaca. Selain itu, gambut juga berfungsi sebagai penyerapan air, yang penting untuk mengontrol banjir dan menyediakan air bersih bagi masyarakat. Kebakaran yang meluas merusak fungsi ini, meningkatkan risiko banjir dan mengurangi kualitas air di daerah sekitarnya.
Selanjutnya, kebakaran gambut meningkatkan risiko kesehatan bagi penduduk setempat. Udara yang terkontaminasi asap dan partikel halus dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan bahkan penyakit kronis. Anak-anak dan orang tua menjadi kelompok yang paling rentan. Dampak kesehatan ini menambah beban bagi sistem kesehatan lokal, yang seringkali sudah terbatas sumber daya.
Respons Pemerintah dan Kritik dari Lingkungan
Setelah kebakaran, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah mitigasi yang efektif. Namun, keputusan membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove menimbulkan kritik tajam dari kalangan lingkungan. Mereka menilai bahwa tanpa lembaga khusus yang fokus pada pemulihan gambut, upaya pemulihan akan terbatas pada kebijakan kementerian yang lebih luas dan tidak spesifik. Akibatnya, proses restorasi menjadi lambat, dan gambut yang rusak tidak dapat dipulihkan dengan cepat.
Selain itu, kurangnya pelatihan bagi relawan dalam penanganan kebakaran gambut menambah risiko. Relawan seperti Akhmad Rizani seringkali tidak memiliki perlengkapan keselamatan yang memadai, seperti helm, sarung tangan, atau peralatan pemadam kebakaran yang sesuai. Tanpa perlindungan ini, relawan dapat mengalami luka serius atau bahkan kehilangan nyawa. Kritik ini menyoroti perlunya kebijakan yang lebih komprehensif, termasuk pelatihan, perlengkapan, dan sistem koordinasi yang kuat antara pemerintah, lembaga swadaya, dan masyarakat.
Pelajaran yang Harus Dipetik
Karhutla Gambut Kalimantan mengajarkan banyak pelajaran penting bagi semua pihak. Pertama, pentingnya peran lembaga khusus seperti Badan Restorasi Gambut dan Mangrove dalam menjaga ekosistem. Kedua, perlunya penilaian risiko yang cermat bagi relawan yang terlibat langsung di area kebakaran. Ketiga, pentingnya koordinasi antara pemerintah, lembaga lingkungan, dan masyarakat untuk mengurangi risiko kebakaran. Keempat, perlunya sistem pelaporan yang transparan dan akurat agar kebijakan dapat disesuaikan dengan realitas di lapangan.
Di sisi lain, kebakaran ini juga menyoroti betapa rapuhnya sistem mitigasi kebakaran di Kalimantan. Tanpa upaya preventif yang kuat, seperti pengelolaan lahan gambut, pem
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cwe87mlylj56o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.