33 Persen Kasus Influenza Terdeteksi pada Balita, Epidemiolog Ungkap Alasannya
Kasus influenza di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kelompok balita menjadi salah satu kelompok yang paling banyak terdeteksi mengalami infeksi. Berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes pada September 2026, sekitar 33 persen kasus influenza terdeteksi pada anak usia 0–4 tahun.
Temuan tersebut membuat orang tua perlu lebih memperhatikan kesehatan anak, terutama ketika muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau tubuh terlihat lemas. Meski demikian, meningkatnya temuan influenza tidak otomatis berarti sedang terjadi kondisi darurat kesehatan nasional.
Kementerian Kesehatan menyebut peningkatan aktivitas influenza menjelang akhir tahun masih dapat terjadi sebagai bagian dari pola musiman. Pemantauan terhadap kasus tetap dilakukan melalui fasilitas kesehatan sentinel untuk melihat perkembangan penularan di masyarakat.
Lantas, mengapa kasus influenza cukup banyak ditemukan pada balita? Berikut penjelasannya.
33 Persen Kasus Influenza Terdeteksi pada Balita
Data Kemenkes yang disampaikan pada September 2026 menunjukkan bahwa kelompok usia 0–4 tahun menyumbang sekitar 33 persen dari kasus influenza yang terdeteksi dalam surveilans.
Pada pekan ke-35, misalnya, dari 175 spesimen yang diperiksa, terdapat 66 spesimen yang terdeteksi positif influenza. Dari jumlah tersebut, 63 merupakan influenza A(H1N1)pdm09, dua influenza A(H3N2), dan satu influenza B Victoria.
Data yang lebih baru juga menunjukkan aktivitas influenza masih perlu dipantau. Hingga 19 September 2026, proporsi spesimen positif influenza dalam surveilans dilaporkan mencapai 46 persen dari 185 spesimen yang diperiksa. Temuan tersebut terdiri atas influenza A(H1N1)pdm09, influenza A(H3N2), serta influenza B Victoria.
Angka tersebut merupakan hasil surveilans dan tidak berarti 33 persen dari seluruh balita di Indonesia terkena influenza. Proporsi tersebut menggambarkan distribusi kasus yang terdeteksi dalam sistem pemantauan.
Mengapa Balita Lebih Banyak Terkena Influenza?
Epidemiolog menjelaskan bahwa balita termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap infeksi influenza. Salah satu alasannya berkaitan dengan sistem pertahanan tubuh anak yang masih berkembang.
Anak usia dini belum memiliki pengalaman paparan terhadap berbagai jenis virus sebanyak orang dewasa. Kondisi tersebut dapat membuat sistem imun mereka belum memiliki respons yang sama kuat terhadap sejumlah infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, saluran pernapasan anak masih berkembang. Ketika mengalami infeksi, pembengkakan dan produksi lendir dapat lebih mudah mengganggu pernapasan.
Epidemiolog Dicky Budiman juga menyebut anak di bawah lima tahun sebagai salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat ketika terkena influenza.
Balita Memiliki Risiko Komplikasi Lebih Tinggi
Influenza pada anak tidak selalu berkembang menjadi kondisi berat. Namun, kelompok balita perlu mendapatkan perhatian karena infeksi saluran pernapasan dapat berkembang menjadi komplikasi tertentu.
Menurut keterangan ahli yang dikutip dalam pemberitaan kesehatan, balita termasuk kelompok berisiko tinggi bersama lansia, orang dengan penyakit kronis, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Komplikasi influenza dapat berupa infeksi telinga, sinusitis, bronkitis, hingga pneumonia. Risiko komplikasi akan semakin perlu diperhatikan apabila anak memiliki penyakit penyerta atau kondisi tertentu yang memengaruhi daya tahan tubuh.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan apakah anak mengalami flu, tetapi juga melihat perubahan kondisi secara keseluruhan.
Gejala Influenza pada Balita yang Perlu Diperhatikan
Gejala influenza pada balita dapat menyerupai infeksi saluran pernapasan lainnya. Beberapa gejala yang umum antara lain:
- Demam.
- Batuk.
- Hidung berair atau tersumbat.
- Sakit tenggorokan.
- Tubuh terasa lemas.
- Nafsu makan menurun.
- Nyeri otot atau tubuh terasa tidak nyaman.
- Anak menjadi lebih rewel.
- Pada sebagian kasus dapat disertai muntah atau diare.
Tidak semua anak akan mengalami seluruh gejala tersebut. Karena itu, orang tua perlu melihat perkembangan kondisi anak dari waktu ke waktu.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas, tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau minum, mengalami tanda dehidrasi, atau kondisinya memburuk, orang tua sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Influenza A yang Banyak Ditemukan
Dalam pemantauan Kemenkes, influenza A menjadi jenis yang banyak ditemukan. Pada pekan ke-35 September 2026, sebagian besar spesimen positif merupakan influenza A(H1N1)pdm09.
Menurut dokter paru senior Prof Tjandra Yoga Aditama, dominannya influenza A bukan sesuatu yang sepenuhnya baru karena influenza A memang selama ini merupakan salah satu jenis influenza yang paling sering ditemukan pada manusia.
Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung menganggap setiap peningkatan influenza A sebagai munculnya virus baru yang luar biasa berbahaya. Pemantauan epidemiologis tetap penting untuk mengetahui pola penularan dan tingkat keparahannya.
Apakah Kasus Influenza Saat Ini Menjadi Lonjakan Nasional?
Kemenkes menyatakan bahwa kondisi influenza secara nasional masih terkendali. Peningkatan proporsi kasus dalam surveilans perlu dipantau, tetapi belum otomatis menunjukkan adanya lonjakan besar secara nasional.
Kondisi ini penting dipahami agar masyarakat tidak panik. Influenza merupakan penyakit yang dapat beredar secara musiman dan aktivitasnya dapat berubah dari waktu ke waktu.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi, balita, lansia, atau anggota keluarga dengan penyakit kronis.
Cara Mencegah Influenza pada Balita
Pencegahan influenza pada balita pada dasarnya dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari yang sederhana.
Cuci Tangan Secara Rutin
Ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah bermain, sebelum makan, dan setelah menyentuh benda yang digunakan bersama.
Hindari Kontak dengan Orang yang Sedang Sakit
Jika ada anggota keluarga yang mengalami influenza, sebaiknya kurangi kontak dekat dengan balita. Orang yang sedang sakit juga dianjurkan menerapkan etika batuk dan bersin.
Gunakan Masker Saat Sedang Sakit
Penggunaan masker bagi orang yang sedang mengalami gejala pernapasan dapat membantu mengurangi risiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.
Jaga Pola Hidup Sehat
Asupan makanan bergizi, tidur cukup, aktivitas fisik sesuai usia, dan menjaga kebersihan lingkungan dapat mendukung kesehatan anak.
Pertimbangkan Vaksinasi Influenza
Vaksinasi influenza merupakan salah satu langkah pencegahan yang dapat dipertimbangkan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi. Konsultasikan jadwal dan kebutuhan vaksinasi anak dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Pakar UGM juga menekankan pentingnya vaksinasi serta kebiasaan seperti mencuci tangan, etika batuk, menghindari kontak erat dengan orang yang sakit, dan menggunakan masker ketika mengalami gejala influenza.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Balita Flu?
Ketika balita mengalami gejala influenza, orang tua sebaiknya memastikan anak cukup beristirahat dan mendapatkan cairan yang cukup. Jangan memberikan obat secara sembarangan, terutama obat yang tidak sesuai usia anak.
Jika demam atau gejala pernapasan berlangsung dan kondisi anak tidak membaik, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Orang tua juga perlu memperhatikan tanda bahaya seperti napas cepat atau sulit bernapas, anak tampak sangat lemas, tidak mau minum, atau mengalami penurunan kesadaran.
FAQ tentang Kasus Influenza pada Balita
Benarkah 33 persen kasus influenza terjadi pada balita?
Data Kemenkes yang disampaikan pada September 2026 menunjukkan sekitar 33 persen kasus influenza yang terdeteksi dalam surveilans berasal dari kelompok usia 0–4 tahun. Angka tersebut merupakan proporsi kasus yang terdeteksi, bukan berarti 33 persen seluruh balita Indonesia terinfeksi.
Mengapa balita lebih rentan terkena influenza?
Balita memiliki sistem kekebalan yang masih berkembang dan saluran pernapasan yang masih dalam tahap perkembangan. Karena itu, infeksi pernapasan dapat memberikan dampak yang lebih serius dibandingkan pada sebagian orang dewasa.
Apakah influenza pada balita berbahaya?
Influenza umumnya dapat sembuh, tetapi pada kelompok berisiko seperti balita infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi. Orang tua perlu memperhatikan gejala dan segera mencari bantuan medis jika kondisi anak memburuk.
Apakah influenza A merupakan virus baru?
Tidak. Influenza A merupakan salah satu tipe influenza yang sudah lama dikenal dan memang sering ditemukan dalam surveilans influenza. Subtipe yang beredar dapat berubah dari waktu ke waktu.
Bagaimana cara mencegah influenza pada anak?
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah mencuci tangan, menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan orang sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Temuan bahwa sekitar 33 persen kasus influenza terdeteksi pada kelompok usia 0–4 tahun menunjukkan bahwa balita perlu mendapatkan perhatian lebih selama aktivitas influenza meningkat.
Epidemiolog dan pakar kesehatan menempatkan balita sebagai kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi karena sistem imun dan saluran pernapasannya masih berkembang. Meski demikian, peningkatan kasus yang terdeteksi saat ini tidak otomatis berarti terjadi keadaan darurat nasional.
Orang tua dapat mengurangi risiko penularan dengan menjaga kebersihan tangan, membatasi kontak anak dengan orang yang sedang sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga pola hidup sehat, serta berkonsultasi mengenai vaksinasi influenza.
Yang paling penting, jangan panik tetapi tetap waspada. Jika balita mengalami gejala berat atau kondisi semakin memburuk, pemeriksaan tenaga kesehatan menjadi langkah yang tepat.
penulis: tika nur halimah