Aktivitas IGD Rumah Sakit Meningkat, Pemkot Pastikan Pasien Tetap Terlayani
Aktivitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejumlah rumah sakit di Kota Bandung mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi seiring bertambahnya warga yang datang dengan keluhan demam tinggi, batuk, pilek, dan gejala yang menyerupai influenza.
Peningkatan kunjungan IGD menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung. Meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kepadatan, Pemkot Bandung memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dan pasien yang membutuhkan pertolongan medis tetap mendapatkan penanganan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah juga meminta seluruh fasilitas kesehatan untuk tetap memberikan pelayanan kepada pasien, termasuk ketika jumlah kunjungan sedang meningkat.
Aktivitas IGD Rumah Sakit di Bandung Meningkat
Peningkatan aktivitas IGD terlihat di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Bandung. Pasien yang datang umumnya mengalami keluhan seperti demam, batuk, pilek, serta gejala lain yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan.
Salah satu rumah sakit yang mengalami peningkatan kunjungan adalah RSUD Bandung Kiwari. Berdasarkan laporan pada 25 September 2026, sekitar 2.860 pasien tercatat mengunjungi IGD rumah sakit tersebut selama periode 1 hingga 21 September.
Rata-rata kunjungan mencapai sekitar 136 pasien per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 61 persen pasien dilanjutkan ke perawatan di ruang rawat inap.
Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kunjungan IGD bukan hanya berkaitan dengan pasien yang mengalami gejala ringan. Sebagian pasien membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut setelah mendapatkan penilaian medis.
Keluhan Demam dan Gejala Influenza Banyak Ditemukan
Peningkatan pasien IGD terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap influenza. Beberapa warga datang ke rumah sakit setelah mengalami demam tinggi, batuk, pilek, atau kombinasi gejala tersebut.
Wali Kota Bandung menyebut kondisi IGD yang lebih ramai juga dipengaruhi meningkatnya kewaspadaan masyarakat. Warga yang sebelumnya mungkin memilih beristirahat dan mengonsumsi obat di rumah untuk gejala flu ringan kini lebih cepat mendatangi fasilitas kesehatan karena khawatir terhadap perkembangan influenza.
Kewaspadaan tersebut pada dasarnya dapat membantu masyarakat mendapatkan pemeriksaan lebih cepat. Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua gejala flu membutuhkan penanganan di IGD.
Pemkot Bandung Pastikan Pasien Tetap Terlayani
Di tengah meningkatnya aktivitas IGD, Pemkot Bandung memastikan fasilitas kesehatan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Farhan menegaskan prinsip pelayanan kesehatan harus tetap berjalan dan fasilitas kesehatan tidak boleh begitu saja menolak pasien yang membutuhkan pertolongan. Pemerintah kota juga memastikan seluruh layanan IGD tetap siaga selama 24 jam.
Kesiapan tersebut mencakup tenaga kesehatan, fasilitas, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan pendukung pelayanan medis.
Pemerintah juga menggunakan pengalaman dalam menghadapi pandemi Covid-19 sebagai salah satu pembelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.
Pasien IGD Tetap Ditangani Berdasarkan Kondisi
Ketika jumlah pasien meningkat, tidak semua pasien harus mendapatkan penanganan dengan tingkat urgensi yang sama. Tenaga medis akan melakukan penilaian berdasarkan kondisi pasien.
Pasien dengan kondisi yang membutuhkan pertolongan segera akan mendapatkan prioritas. Sementara pasien dengan kondisi yang tidak mengancam keselamatan dapat menunggu sesuai dengan sistem pelayanan yang berlaku.
Pemerintah Kota Bandung menjelaskan bahwa keputusan mengenai pasien yang harus menunggu, mendapatkan perawatan, atau diperbolehkan pulang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Sistem tersebut penting agar pasien dengan kondisi gawat dapat memperoleh pertolongan secepat mungkin.
Mengapa Kunjungan IGD Meningkat?
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan peningkatan kunjungan IGD saat ini. Salah satunya adalah meningkatnya kasus dengan gejala infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, informasi mengenai influenza yang beredar luas di masyarakat dan media sosial juga dapat meningkatkan kewaspadaan warga. Orang yang mengalami gejala flu mungkin menjadi lebih khawatir dan memilih segera memeriksakan diri.
Kondisi tersebut perlu dibedakan dari tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan. Kementerian Kesehatan melalui sistem surveilans hingga 19 September 2026 masih menempatkan aktivitas influenza secara nasional dalam kategori rendah dan menyatakan situasinya terkendali.
Artinya, peningkatan kunjungan di fasilitas kesehatan tertentu tidak otomatis berarti seluruh Indonesia mengalami kondisi yang sama.
Data Influenza Nasional Tetap Dipantau
Kementerian Kesehatan melakukan pemantauan influenza melalui fasilitas sentinel yang terdiri dari puskesmas, rumah sakit, dan balai karantina kesehatan.
Dalam laporan pekan ke-37, surveilans dilakukan melalui 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 Balai Karantina Kesehatan. Sistem ini digunakan untuk memantau tren penyakit, karakteristik virus, hingga tingkat keparahan kasus.
Pada pekan yang berakhir 19 September 2026, proporsi spesimen positif influenza di rumah sakit sentinel meningkat menjadi 31,7 persen dari 20,4 persen pada minggu sebelumnya. Meski demikian, tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih dikategorikan rendah.
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu tetap waspada tanpa langsung menyimpulkan bahwa kondisi sudah menjadi keadaan darurat.
Masyarakat Diminta Tidak Panik
Peningkatan aktivitas IGD memang perlu menjadi perhatian, tetapi masyarakat juga diminta tidak panik.
Kepanikan dapat membuat fasilitas kesehatan semakin padat apabila semua orang dengan gejala ringan langsung menuju IGD. Padahal, IGD diprioritaskan untuk kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Masyarakat yang mengalami gejala ringan dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sementara itu, pasien dengan kondisi yang memburuk atau menunjukkan tanda bahaya perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Pemkot Bandung sendiri menilai peningkatan kewaspadaan masyarakat sebagai hal positif, selama tidak berubah menjadi kepanikan.
Kapan Harus Membawa Pasien ke IGD?
Tidak semua demam, batuk, dan pilek harus langsung dibawa ke IGD. Namun, ada kondisi tertentu yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Kesulitan bernapas atau napas terlihat sangat cepat.
- Pasien tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan.
- Bibir atau wajah tampak kebiruan.
- Tidak mampu makan atau minum dengan baik.
- Muncul tanda dehidrasi.
- Demam disertai kondisi yang semakin memburuk.
- Pasien memiliki penyakit penyerta dan kondisinya mengalami penurunan.
Untuk bayi dan anak-anak, orang tua sebaiknya lebih memperhatikan perubahan perilaku, pola makan atau minum, serta pola pernapasan.
Cara Mengurangi Risiko Penularan Influenza
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Rajin Mencuci Tangan
Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah menyentuh benda atau permukaan yang sering digunakan bersama.
Gunakan Masker Saat Sakit
Orang yang sedang mengalami batuk atau pilek dapat menggunakan masker untuk mengurangi risiko menularkan virus kepada orang lain.
Istirahat di Rumah
Anak sekolah maupun orang dewasa yang sedang mengalami gejala flu sebaiknya beristirahat di rumah dan menghindari kontak dekat dengan orang lain selama kondisi belum membaik. Pemkot Bandung juga mengimbau anak yang mengalami gejala flu untuk tidak memaksakan diri bersekolah.
Hindari Kontak Dekat dengan Orang Sakit
Mengurangi kontak dekat dapat membantu menekan risiko penyebaran virus, khususnya di lingkungan keluarga.
Pertimbangkan Vaksinasi Influenza
Vaksinasi influenza dapat menjadi salah satu langkah pencegahan yang dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Pemkot Siapkan Fasilitas Kesehatan
Kesiapan fasilitas kesehatan menjadi salah satu fokus pemerintah daerah. Selain Bandung, pemerintah daerah lain juga melakukan langkah antisipasi terhadap peningkatan kasus influenza.
Pemkot Surabaya, misalnya, menyatakan seluruh fasilitas kesehatan dalam kondisi siap siaga dan meminta rumah sakit menyiapkan tenaga medis serta memperkuat koordinasi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan aktivitas penyakit pernapasan.
FAQ Aktivitas IGD Rumah Sakit Meningkat
Mengapa IGD rumah sakit di Bandung semakin ramai?
Peningkatan kunjungan berkaitan dengan bertambahnya pasien yang mengalami demam, batuk, pilek, dan gejala mirip influenza. Meningkatnya kewaspadaan masyarakat terhadap influenza juga disebut menjadi salah satu faktor.
Apakah IGD rumah sakit Bandung masih melayani pasien?
Ya. Pemkot Bandung memastikan fasilitas kesehatan tetap memberikan pelayanan dan layanan IGD tetap siaga 24 jam.
Apakah semua pasien flu harus ke IGD?
Tidak. Gejala ringan umumnya dapat dikonsultasikan terlebih dahulu melalui fasilitas kesehatan yang sesuai. IGD terutama diperuntukkan bagi kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Apakah peningkatan pasien IGD berarti terjadi wabah influenza?
Belum tentu. Kenaikan kunjungan di rumah sakit tertentu tidak otomatis menggambarkan kondisi nasional. Kemenkes pada pekan ke-37 September 2026 masih mengategorikan aktivitas influenza nasional sebagai rendah dan situasi terkendali.
Apa yang harus dilakukan jika anak mengalami flu?
Pastikan anak mendapatkan cukup cairan dan istirahat, pantau gejalanya, serta konsultasikan kepada tenaga kesehatan apabila kondisi tidak membaik atau muncul tanda bahaya.
Kesimpulan
Aktivitas IGD rumah sakit di Kota Bandung mengalami peningkatan seiring bertambahnya warga yang datang dengan keluhan demam, batuk, pilek, dan gejala yang menyerupai influenza. Di RSUD Bandung Kiwari, misalnya, sekitar 2.860 kunjungan IGD tercatat sepanjang 1–21 September 2026 dengan rata-rata sekitar 136 pasien per hari.
Meski demikian, Pemkot Bandung memastikan pasien tetap mendapatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan terus bersiaga. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan aktivitas influenza secara nasional masih berada pada kategori rendah dan terkendali. Karena itu, langkah yang penting dilakukan masyarakat adalah menjaga kebersihan, menggunakan masker ketika sakit, menghindari kontak dekat, serta segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala berat.
Dengan kerja sama masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah, peningkatan kunjungan IGD dapat ditangani sambil memastikan pasien yang membutuhkan pertolongan tetap mendapatkan layanan medis.
penulis: tika nur halimah