Influenza A, sejak Pandemi 1918 hingga Lonjakan Kasus 2026
Influenza A merupakan salah satu kelompok virus influenza yang memiliki sejarah panjang dalam dunia kesehatan. Virus ini pernah menjadi penyebab pandemi besar pada 1918, kemudian kembali memicu pandemi pada 2009. Hingga 2026, influenza A masih terus bersirkulasi dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Di Indonesia, perhatian terhadap influenza A kembali meningkat pada 2026. Salah satu yang menjadi sorotan adalah influenza A(H3N2) subclade K yang sempat populer disebut “super flu”. Namun, istilah tersebut bukan nama resmi penyakit baru. Kementerian Kesehatan menggunakan istilah influenza A(H3N2) subclade K dan menekankan bahwa virus tersebut merupakan bagian dari influenza musiman.
Lalu, bagaimana perjalanan influenza A dari pandemi 1918 hingga kondisi 2026? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Influenza A?
Influenza A adalah salah satu tipe virus influenza yang dapat menginfeksi manusia dan sejumlah jenis hewan. Virus ini menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebabkan gejala mulai dari ringan hingga berat.
Influenza A memiliki beberapa subtipe yang dikenal berdasarkan kombinasi protein permukaan hemagglutinin atau H dan neuraminidase atau N. Contohnya adalah H1N1 dan H3N2.
Virus influenza juga dikenal memiliki kemampuan untuk berubah. Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa influenza terus dipantau oleh lembaga kesehatan di berbagai negara.
Influenza A yang beredar sebagai influenza musiman berbeda dengan virus influenza tertentu yang berasal dari hewan dan berpotensi menimbulkan ancaman zoonotik. Karena itu, setiap temuan virus perlu dilihat berdasarkan jenis virus, pola penularan dan kemampuan penyebarannya.
Pandemi Influenza 1918: Salah Satu Wabah Terbesar dalam Sejarah
Sejarah influenza A tidak dapat dilepaskan dari pandemi 1918 yang sering disebut sebagai “Flu Spanyol”.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan pandemi tersebut menginfeksi sekitar sepertiga populasi dunia atau sekitar 500 juta orang. Lebih dari 50 juta kematian diperkirakan terjadi selama pandemi yang berlangsung sekitar dua tahun.
Pandemi tersebut kemudian diketahui berkaitan dengan virus influenza A(H1N1).
Nama “Flu Spanyol” sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahwa virus tersebut berasal dari Spanyol. Pada masa Perang Dunia I, pemberitaan mengenai wabah di sejumlah negara mengalami pembatasan. Spanyol yang bersikap netral dalam perang memiliki pemberitaan yang relatif lebih terbuka sehingga wabah tersebut banyak diberitakan dari sana.
Peristiwa 1918 menjadi salah satu pelajaran penting mengenai bagaimana virus influenza dapat menyebar dengan cepat dan memberikan dampak besar terhadap masyarakat.
Pandemi Influenza Berikutnya
Pandemi influenza tidak berhenti pada 1918. WHO mencatat pandemi besar berikutnya terjadi pada 1957 dan 1968.
Pandemi 1957 dikenal sebagai “Asian Flu” dan disebabkan oleh influenza A(H2N2). Diperkirakan sekitar 1–4 juta orang meninggal akibat pandemi tersebut.
Kemudian pada 1968 muncul pandemi yang dikenal sebagai “Hong Kong Flu”, yang disebabkan influenza A(H3N2). Perkiraan korban meninggal juga berada pada kisaran 1–4 juta orang.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa influenza A dapat mengalami perubahan dan menghasilkan pola epidemiologi yang berbeda dari satu periode ke periode lainnya.
Influenza A(H1N1) dan Pandemi 2009
Pada 2009, dunia kembali menghadapi pandemi influenza. Kali ini penyebabnya adalah influenza A(H1N1).
Virus tersebut kemudian populer dengan sebutan “swine flu” atau flu babi. Pandemi dimulai di Meksiko dan menyebar ke lebih dari 214 negara serta wilayah di dunia. WHO memperkirakan antara 105.000 hingga 395.000 orang meninggal selama tahun pertama pandemi tersebut.
Pandemi 2009 juga memberikan pengalaman penting dalam pengembangan vaksin pandemi, surveilans penyakit, komunikasi risiko dan kesiapan sistem kesehatan.
Berbeda dengan beberapa pandemi influenza sebelumnya, sebagian besar kasus H1N1 2009 bersifat ringan. Namun, anak-anak dan orang dewasa muda termasuk kelompok yang relatif lebih terdampak dibandingkan pola influenza musiman pada umumnya.
Mengapa Influenza A Terus Berubah?
Salah satu karakteristik influenza adalah kemampuannya mengalami perubahan genetik.
Perubahan tersebut membuat virus dapat memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan virus yang beredar sebelumnya. Karena itu, pemantauan influenza tidak hanya melihat jumlah pasien, tetapi juga jenis dan subtipe virus yang ditemukan.
Inilah alasan sistem surveilans influenza menjadi penting. Sampel dari fasilitas kesehatan dapat diperiksa untuk mengetahui virus yang sedang beredar dan melihat perubahan pola penyakit.
Surveilans juga membantu pemerintah dan tenaga kesehatan menentukan langkah yang diperlukan, termasuk kesiapan layanan kesehatan dan strategi pencegahan.
Influenza A di Indonesia pada 2026
Pada 2026, influenza A kembali menjadi perhatian di Indonesia. Salah satu fokusnya adalah influenza A(H3N2) subclade K.
Kementerian Kesehatan sebelumnya melaporkan subclade K telah terdeteksi di Indonesia dan termasuk bagian dari influenza musiman. Data Kemenkes hingga 10 Januari 2026 mencatat 74 kasus subclade K di 13 provinsi.
Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa influenza A tetap dipantau melalui sistem surveilans.
Dalam laporan pengawasan hingga minggu ke-36 2026, sebanyak 185 spesimen diperiksa dan 86 di antaranya positif influenza. Dari kasus positif tersebut, 76 merupakan influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua influenza B Victoria. Data pada beberapa minggu terakhir masih bersifat sementara dan dapat berubah.
Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa perhatian terhadap influenza A pada 2026 tidak hanya berkaitan dengan H3N2. H1N1pdm09 juga ditemukan dalam jumlah besar dalam pemeriksaan surveilans pada periode tersebut.
Apa Itu “Super Flu” yang Ramai Dibicarakan?
Istilah “super flu” banyak digunakan dalam pemberitaan untuk menyebut influenza A(H3N2) subclade K.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa “super flu” bukan istilah resmi untuk virus baru. Kemenkes menggunakan istilah influenza A(H3N2) subclade K.
Dalam data kumulatif yang dilaporkan pada September 2026, subclade K terdeteksi di sejumlah provinsi Indonesia. Sebelumnya, Kemenkes juga menjelaskan bahwa H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman yang telah beredar selama bertahun-tahun.
Karena itu, kemunculan subclade K tidak otomatis berarti Indonesia sedang mengalami pandemi baru.
Mengapa Kasus Influenza A 2026 Perlu Dipantau?
Pemantauan tetap diperlukan karena influenza dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan komplikasi pada kelompok tertentu.
Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih antara lain:
- Anak-anak, terutama balita.
- Lansia.
- Orang dengan penyakit kronis tertentu.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Ibu hamil.
- Orang dengan kondisi kesehatan yang meningkatkan risiko komplikasi infeksi saluran pernapasan.
Gejala influenza dapat berupa demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala dan tubuh terasa lemas.
Pada sebagian orang, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius, termasuk pneumonia.
Apakah Influenza A 2026 Sama dengan Pandemi 1918?
Tidak.
Meskipun sama-sama berkaitan dengan influenza A, kondisi epidemiologi dan karakteristik virus pada setiap periode tidak dapat disamakan begitu saja.
Pandemi 1918 merupakan peristiwa global dengan dampak luar biasa besar. Sementara itu, laporan influenza A di Indonesia pada 2026 merupakan hasil pemantauan kasus influenza yang beredar dan tidak berarti sedang terjadi pandemi seperti 1918.
Kemenkes juga melaporkan bahwa data surveilans digunakan untuk memantau perkembangan virus dari waktu ke waktu. Pada laporan minggu ke-36 2026, total kasus subclade K sejak 2025 hingga minggu tersebut tercatat 184 kasus yang tersebar di 20 provinsi dalam sistem surveilans yang dilaporkan.
Angka surveilans tersebut juga tidak dapat diartikan sebagai jumlah seluruh orang yang terinfeksi influenza di Indonesia karena pemeriksaan hanya mencakup spesimen dari sistem pemantauan yang tersedia.
Cara Mengurangi Risiko Terinfeksi Influenza
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Beberapa di antaranya adalah:
- Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir.
- Menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin.
- Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
- Tidak menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum bersih.
- Menjaga ventilasi ruangan.
- Beristirahat ketika sedang sakit.
- Mengikuti anjuran vaksinasi influenza bagi kelompok yang membutuhkan.
WHO juga merekomendasikan langkah kebersihan tangan, etika batuk dan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit sebagai bagian dari pencegahan influenza.
Apakah Influenza A Bisa Dicegah dengan Antibiotik?
Antibiotik tidak digunakan untuk mengobati infeksi virus influenza.
Influenza disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik ditujukan untuk melawan bakteri. Karena itu, penggunaan antibiotik tanpa indikasi medis tidak tepat.
Apabila mengalami gejala berat atau kondisi memburuk, seseorang sebaiknya mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan. Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi dan faktor risiko masing-masing pasien.
FAQ Seputar Influenza A
Apa itu Influenza A?
Influenza A adalah salah satu tipe virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia dan beberapa jenis hewan.
Apa penyebab pandemi influenza 1918?
Pandemi 1918 berkaitan dengan virus influenza A(H1N1) dan menyebabkan dampak kesehatan global yang sangat besar. WHO memperkirakan sekitar 500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 50 juta orang meninggal.
Apakah Influenza A(H3N2) merupakan virus baru?
Tidak. H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Subclade tertentu dapat mengalami perubahan sehingga tetap perlu dipantau melalui surveilans.
Apa yang dimaksud super flu?
“Super flu” merupakan istilah populer yang digunakan dalam pemberitaan untuk menyebut influenza A(H3N2) subclade K. Istilah tersebut bukan nama resmi penyakit baru.
Apakah influenza A pada 2026 berarti pandemi baru?
Tidak otomatis. Temuan dan peningkatan kasus influenza perlu dilihat berdasarkan data surveilans, pola penularan, tingkat keparahan dan penilaian otoritas kesehatan.
Siapa yang paling berisiko mengalami komplikasi influenza?
Balita, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis tertentu dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Influenza A memiliki sejarah panjang, mulai dari pandemi 1918, pandemi 1957 dan 1968, hingga pandemi H1N1 pada 2009. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa virus influenza dapat berubah dan menyebar dengan pola yang berbeda dari waktu ke waktu.
Pada 2026, influenza A kembali menjadi perhatian di Indonesia, termasuk munculnya influenza A(H3N2) subclade K dan meningkatnya temuan influenza dalam sistem surveilans. Namun, kondisi tersebut tidak sama dengan pandemi 1918 dan tidak seharusnya disimpulkan sebagai pandemi baru hanya berdasarkan peningkatan temuan kasus.
Hal yang paling penting adalah mengikuti informasi resmi, menjaga kebersihan, mengenali gejala, serta mendapatkan pertolongan medis apabila kondisi memburuk. Dengan surveilans yang baik dan kesadaran masyarakat, perkembangan influenza A dapat dipantau secara lebih tepat dan respons kesehatan dapat dilakukan berdasarkan data.
penulis: tika nur halimah