Cara Memulai Bisnis Digital dengan Modal Kecil Sebagai Reseller Digital
KompetitifPetani singkong di Lampung Tengah was-was menghadapi ancaman kerugian besar akibat kegagalan tumbuh massal bibit singkong yang ditanam di lahan kering selama musim kemarau. Langkah nekat menanam bonggol bibit di atas hamparan tanah yang kering kerontang diambil para petani demi mengejar target masa panen saat harga singkong industri di pasaran sedang kompetitif dan menguntungkan. Namun, tanpa dukungan cuaca, bibit yang ditanam justru mengalami kegagalan tumbuh massal. “Nekat menanam bonggol di musim kemarau taruhannya adalah modal. Kami mengejar momen harga bagus, tetapi kalau alam tidak mendukung, ya begini jadinya,” keluh Angga, salah seorang petani di Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah, Minggu (12/7/2026).
Momen Penentu di Menit Akhir
Angga menjelaskan, dari total satu hektare lahan kering yang telah ditanami, tidak ada satu pun bibit singkong yang menunjukkan tanda-tanda perkembangan vegetatif. Tanpa adanya pasokan air hujan atau sistem pengairan yang memadai, bonggol singkong di dalam tanah dipastikan membusuk atau mengering (kerdil), sebuah fenomena yang biasa disebut petani sebagai kondisi “gabus”.
Kegagalan tumbuh massal ini terjadi karena petani tidak memiliki pilihan lain selain menanam bonggol bibit di lahan kering. Mereka berharap dapat memanfaatkan harga singkong yang sedang tinggi untuk meningkatkan pendapatan. Namun, keputusan ini terbukti berisiko tinggi karena tidak didukung oleh kondisi cuaca yang memadai.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Dampak buruk kemarau nyatanya tidak hanya mengancam bibit baru, melainkan juga membayangi tanaman singkong yang sudah memasuki fase siap panen. Para petani dilema karena jika dipaksa panen demi meraup untung dari harga pasar saat ini, mereka akan kesulitan memulai siklus tanam berikutnya akibat krisis air. Opsi pengairan buatan menggunakan sistem pompanisasi dinilai sama sekali tidak efektif. Selain berpotensi melambungkan biaya produksi, letak geografis lahan pertanian singkong di wilayah tersebut rata-rata berada sangat jauh dari sumber air alternatif seperti sungai maupun waduk.
Kini, para petani hanya bisa pasrah dan menggantungkan harapan pada turunnya hujan. Angga memprediksi, jikalau tanaman singkong nya dipaksakan bertahan hidup hingga masa panen tiba, penyusutan tonase hasil bumi akibat kekeringan ini dipastikan mencapai angka 50 persen.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Para petani singkong di Lampung Tengah masih harus menempuh jalan panjang untuk mengatasi masalah kekeringan dan kegagalan tumbuh massal. Mereka berharap pemerintah dapat membantu mereka dengan menyediakan sistem pengairan yang memadai dan membantu meningkatkan kualitas lahan pertanian. Dengan demikian, petani dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko kerugian akibat kegagalan tumbuh massal.
Saat ini, petani hanya bisa berharap bahwa hujan akan turun segera dan membantu tanaman singkong mereka tumbuh kembali. Namun, jika tidak ada hujan, mereka harus siap menghadapi kerugian besar dan mencari solusi lain untuk meningkatkan pendapatan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/lampung/1213488/ancaman-kerugian-bayangi-petani-singkong-di-lampung-penyebabnya-terungkap, without altering the facts of the original article.