**Kota yang Tidak Berdaulat Atas Air? Banjarmasin Menghadapi Krisis Air Bersih** Banjarmasin, kota yang lahir dan tumbuh karena air, kini menghadapi krisis air bersih. Sungai Martapura, Sungai Barito, kanal, handil, dan jaringan air lainnya telah menjadi bagian dari sejarah panjang kota ini. Namun identitas geografis tidak selalu berjalan seiring dengan ketahanan ekologis. Pelayanan air bersih di Kota Banjarmasin telah menjangkau sekitar 82,52 persen wilayah kota, namun sumber air baku masih sangat bergantung pada aliran permukaan, terutama Sungai Martapura. **Momen Penentu di Menit Akhir** Lima abad lalu, Banjarmasin lahir dan tumbuh karena air. Sungai bukan sekadar bentang alam, tetapi jalan raya peradaban. Melalui sungai, manusia bergerak, berdagang, mencari penghidupan, membangun hubungan sosial, dan membentuk identitas kebudayaan Banjar. Air adalah alasan kota ini hadir. Namun menjelang usia ke-500 tahun, muncul sebuah pertanyaan yang terasa mengganggu: apakah Banjarmasin masih berdaulat atas airnya sendiri? **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Pada musim hujan, pasokan air relatif melimpah. Namun ketika musim kemarau panjang terjadi, debit sungai menurun dan ancaman intrusi air asin dari laut dapat masuk lebih jauh ke wilayah sungai. Situasi tersebut menunjukkan adanya kerentanan sistem air kota. Sebab teknologi pengolahan secanggih apa pun akan menghadapi keterbatasan apabila sumber air bakunya sendiri mengalami tekanan. Keberlangsungan pelayanan air bersih tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah air, tetapi juga oleh kemampuan menjaga sumber air yang akan diolah. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Dalam konteks inilah kedaulatan air sebuah kota diuji: bukan ketika air berlimpah, tetapi ketika sumber air menghadapi tekanan dan ketidakpastian. Di sinilah paradoks Banjarmasin terlihat. Sebuah kota yang dikelilingi air ternyata tidak otomatis menjadi kota yang berdaulat atas air. Sebab ukuran kedaulatan air bukanlah berapa banyak sungai yang dimiliki sebuah kota, melainkan seberapa kuat kemampuan kota tersebut menjaga keberlanjutan sumber air bagi generasi sekarang dan masa depan. **Masa Lalu dan Masa Depan** Dalam perjalanan sejarahnya, hubungan masyarakat Banjar dengan sungai mengalami perubahan besar. Dahulu sungai adalah ruang kehidupan. Sungai menjadi jalur transportasi, tempat perdagangan, sumber pangan, bahkan ruang sosial tempat masyarakat berinteraksi. Namun modernisasi kota perlahan mengubah hubungan tersebut. Perubahan hubungan manusia dengan sungai membawa konsekuensi ekologis. Kualitas air sungai menghadapi tekanan akibat pertumbuhan penduduk, limbah rumah tangga, aktivitas ekonomi, perubahan tata guna lahan, serta berkurangnya kawasan resapan air. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Masalah air Banjarmasin pada akhirnya bukan hanya masalah hilir. Ia juga merupakan masalah hulu. Apa yang terjadi di daerah tangkapan air dan daerah aliran sungai akan menentukan kualitas kehidupan masyarakat di kawasan hilir. Karena itu, masa depan air Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dari bagaimana manusia menjaga keseluruhan ekosistem sungai. Dengan demikian, Banjarmasin harus memulai langkah-langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sumber air dan memastikan bahwa kota ini masih berdaulat atas airnya sendiri.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kolom/1369610/kota-yang-tidak-berdaulat-atas-air, without altering the facts of the original article.