**Diculik Korea Utara dan Dipaksa Menikahi Tentara AS, Wanita Ini Mengalami Trauma Seumur Hidup** **Momen Penentu di Menit Akhir** Hitomi Soga, seorang wanita 19 tahun dari Jepang, kehidupan berubah selamanya setelah diculik oleh pemerintah Korea Utara pada tahun 1978. Saat itu, dia sedang berjalan kaki bersama ibunya untuk membeli bahan makanan di Pulau Sado, Jepang. Tiga laki-laki muncul dari belakang dan menculik Hitomi dan ibunya. Mereka meletakkan sesuatu ke mulut mereka dan membawa mereka ke sebuah perahu cepat, kemudian kapal yang lebih besar. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Hitomi tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi setelah diculik. Dia dipindahkan ke beberapa tempat berbeda, termasuk barak militer, di mana dia ditahan selama dua tahun pertama. Pada tahun 1980, Hitomi diberitahu bahwa dia harus menikahi seorang pria yang belum pernah dia temui, Charles Jenkins, seorang tentara Amerika Serikat yang membelot ke Korea Utara pada tahun 1965. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pemerintah Korea Utara menggunakan para korban penculikan sebagai “buku teks hidup” untuk mempelajari bahasa dan perilaku masyarakat Jepang. Tujuan akhirnya adalah memudahkan penyusupan para mata-mata ke Jepang. Hitomi dan Charles memiliki dua anak perempuan, tetapi pasangan itu tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup dalam keadaan yang tidak stabil. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Hitomi dan Charles akhirnya bebas dari tahanan Korea Utara pada tahun 2002, salah satunya lewat bantuan pemerintah Indonesia. Meskipun telah bebas, Hitomi masih mengalami trauma seumur hidup dari kejadian tersebut. Dia berusaha tetap berpegang pada harapan bahwa suatu hari nanti dia akan bebas, dan harapan itu tidak pernah hilang. Hitomi ingin menjadi saksi tentang kekejaman pemerintah Korea Utara dan berharap bahwa kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Kronologi kejadian ini sangat rumit dan kompleks. Hitomi diculik pada tahun 1978 dan dipindahkan ke beberapa tempat berbeda. Dia ditahan selama dua tahun pertama dan kemudian dipaksa menikahi Charles Jenkins. Mereka memiliki dua anak perempuan, tetapi pasangan itu tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup dalam keadaan yang tidak stabil. Pada tahun 2002, Hitomi dan Charles akhirnya bebas dari tahanan Korea Utara. Pemerintah Korea Utara menggunakan para korban penculikan sebagai “buku teks hidup” untuk mempelajari bahasa dan perilaku masyarakat Jepang. Tujuan akhirnya adalah memudahkan penyusupan para mata-mata ke Jepang. Jumlah korban penculikan yang sebenarnya mungkin lebih tinggi dari yang teridentifikasi, yaitu 17 warga Jepang antara tahun 1977 dan 1983. Hitomi masih mengalami trauma seumur hidup dari kejadian tersebut. Dia berusaha tetap berpegang pada harapan bahwa suatu hari nanti dia akan bebas, dan harapan itu tidak pernah hilang. Hitomi ingin menjadi saksi tentang kekejaman pemerintah Korea Utara dan berharap bahwa kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Pemerintah Korea Utara harus bertanggung jawab atas kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah mereka. Mereka harus mengakui kejadian ini dan membantu korban mencari kembali kehidupan mereka yang terganggu. Hitomi dan Charles telah berjuang selama bertahun-tahun untuk mencari keadilan, dan mereka harus terus berjuang untuk mencapai keadilan yang mereka inginkan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn8n7nnj02go?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.