Petani Tanahlaut Risau, Kekeringan Areal Persawahan Meluas dan Bulir Padi Hampa Kurau, Tanahlaut – Sekitar 70 persen tanaman padi di Desa Handilnegara, Kecamatan Kurau, berisiko gagal panen akibat kekeringan. Kepala Desa Handilnegara, Supian Sauri, yang juga petani, mengatakan tanaman padi lokal yang ditanam menjelang berbunga paling terdampak. Ketika memasuki fase pembungaan, tanaman tidak lagi berkembang normal akibat kekurangan air sehingga bulir yang terbentuk menjadi hampa. Momen Penentu di Menit Akhir Tanaman padi yang ditanam menjelang berbunga paling terdampak kekeringan. Menurut Supian, tanaman tidak lagi berkembang normal akibat kekurangan air sehingga bulir yang terbentuk menjadi hampa. “Sekitar 70 persen diperkirakan gagal panen. Yang sudah mulai berbunga tidak berkembang lagi menjadi bulir berisi,” ujarnya, Rabu (12/8). Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda Keterlambatan tanam terjadi setelah wilayah tersebut sebelumnya dilanda banjir dan rob. Petani yang baru bisa menanam pada April hingga Mei kini justru menghadapi kemarau saat tanaman memasuki fase membutuhkan banyak air. “Tanaman saya juga rusak karena tanamnya terlambat, awal Mei,” kata Supian. Sementara itu, sekitar 30 persen petani sempat memanen karena melakukan tanam lebih awal, sekitar Februari. Namun, hasilnya pun tidak maksimal. Apa Artinya Ini ke Depan? Kondisi serupa dialami Wardani Sabri, petani Desa Kurau sekaligus Ketua Kelompok Tani Barokah II. Ia mengatakan seluruh lahan sekitar 30 hektare yang tergabung dalam kelompok taninya kini mengalami kekeringan dan retak-retak. Menurut Wardani, kondisi kemarau tahun ini terasa jauh lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Air di sawah surut sangat cepat hingga tanah pecah-pecah. “Belum pernah seperti ini. Tahun lalu sawah memang kering, tetapi tidak sampai retak-retak seperti sekarang,” tuturnya. Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh Ironisnya, ketika petani membutuhkan air, sungai di sekitar sawah justru mulai berubah asin. Air sungai masih terlihat, tetapi tidak dapat digunakan karena dikhawatirkan membuat tanaman mati. Padahal, setiap kelompok tani sebenarnya telah memiliki mesin pompa. Persoalannya kini bukan lagi ketersediaan mesin, melainkan sumber air yang bisa dipompa. Tanaman yang sudah memasuki fase berbunga pun ikut terdampak. Bulir padi yang seharusnya berkembang menjadi berisi justru berubah putih dan hampa. Wardani menyebut kondisi tersebut terjadi hampir merata pada lahan yang terlambat tanam di kawasan Kurau, terutama tanaman padi lokal. Bahkan varietas unggul seperti Inpari 200 juga ikut terdampak ketika sumber air di lahan menghilang. Wardani berharap pemerintah dapat membantu penyediaan sumur bor hingga ke hamparan sawah. Menurutnya, keberadaan sumber air alternatif akan sangat membantu petani.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1371930/kekeringan-areal-persawahan-di-tanahlaut-meluas-petani-risau-sebagian-besar-bulir-padi-hampa, without altering the facts of the original article.