Pria-Pria China Ditipu Pengantin Palsu, Kisahnya Membuat Hatimu Terpukau
Wang Zhuang, seorang pria 37 tahun yang masih lajang, telah mengalami nasib buruk setelah dipertemukan dengan seorang pengantin palsu melalui biro jodoh. Ia mengira telah menemukan jodohnya ketika dipasangkan dengan seorang perempuan yang tampaknya memenuhi semua kriteria, tetapi secepat kehidupan barunya dimulai, semuanya berakhir.
Momen Penentu di Menit Akhir
Wang mengatakan bahwa ia telah membulatkan tekadnya pergi ke Guiyang, sebuah kota di Provinsi Guizhou di barat daya China, dengan harapan menemukan belahan jiwanya. Ia mengira telah menemukan jodohnya ketika dipasangkan dengan seorang perempuan yang tampaknya memenuhi semua kriteria. Mereka hanya bertemu beberapa kali sebelum menikah, tetapi secepat kehidupan barunya dimulai, semuanya berakhir.
“Seluruh keluarga saya menjadi kacau,” katanya sambil menggelengkan kepala. Hingga kini, dia masih berusaha memulihkan hidupnya setelah mengetahui bahwa semua yang dikatakan istrinya adalah bohong. Perempuan itu adalah mantan pemandu karaoke yang telah menikah tiga kali, memiliki tiga anak, menderita penyakit menular seksual yang serius, dan terlilit utang besar.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Berikut adalah tiga fakta yang membuat kejadian ini berbeda:
1. Wang adalah salah satu korban dari biro jodoh yang menipu laki-laki dengan menawarkan perempuan yang tidak memiliki reputasi baik. Biro jodoh tersebut menawarkan untuk memperkenalkan pria lajang seperti dirinya kepada perempuan yang lembut dan setia.
2. Perempuan yang dipertemukan dengan Wang adalah mantan pemandu karaoke yang telah menikah tiga kali, memiliki tiga anak, menderita penyakit menular seksual yang serius, dan terlilit utang besar. Semua ini tidak diketahui oleh Wang sebelum menikah.
3. Wang masih berusaha memulihkan hidupnya setelah mengetahui bahwa semua yang dikatakan istrinya adalah bohong. Ia tidak dapat kembali ke kehidupan lamanya, setidaknya sampai dia bisa mendapatkan kembali sebagian tabungannya, yang menurutnya diserahkan kepada biro jodoh tersebut hanya beberapa jam setelah diperkenalkan kepada beberapa calon pasangan.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kasus seperti Wang adalah gejala ekstrem dari krisis demografi yang telah berlangsung lama di China. Selama beberapa dekade, Partai Komunis China menetapkan bahwa pasangan suami istri hanya boleh memiliki satu anak. Mereka mengubah kebijakan itu pada Januari 2016. Namun, pada saat itu kebijakan “satu anak”, ditambah preferensi terhadap anak laki-laki, telah menghasilkan jumlah perempuan yang terus menyusut dan ketimpangan gender yang mencolok.
Kini terdapat 30 juta lebih banyak laki-laki daripada perempuan di China. Jumlah itu lebih besar daripada populasi laki-laki di Inggris, atau bahkan seluruh populasi Australia. Kondisi ini membuat laki-laki seperti Wang, yang berusia akhir 30-an tahun dan tinggal di kota-kota kecil atau daerah pedesaan yang terpencil, memiliki sangat sedikit pilihan.
“Persyaratan bagi laki-laki sangat tinggi di kota saya. Saya harus memiliki mobil, rumah, dan keluarga saya harus punya usaha,” katanya. Banyak keluarga juga menuntut “uang mahar” yang tinggi, sebuah tradisi lama di China di mana keluarga mempelai pria memberikan uang kepada mempelai perempuan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Wang masih berusaha memulihkan hidupnya setelah mengetahui bahwa semua yang dikatakan istrinya adalah bohong. Ia tidak dapat kembali ke kehidupan lamanya, setidaknya sampai dia bisa mendapatkan kembali sebagian tabungannya, yang menurutnya diserahkan kepada biro jodoh tersebut hanya beberapa jam setelah diperkenalkan kepada beberapa calon pasangan.
“Orang tua saya menyalahkan saya. Saya mengalami insomnia dan kecemasan. Saya tidak bisa fokus bekerja,” katanya. Wang sedang berupaya untuk bercerai, tetapi prosesnya sangat sulit.
Kasus seperti Wang adalah contoh dari krisis demografi yang telah berlangsung lama di China. Kondisi ini membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan masalah ketimpangan gender dan krisis demografi yang telah berlangsung lama.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c3r031g81q5o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.