Bahasa Indonesia Benar menjadi topik hangat di kalangan pendidik dan peneliti bahasa setelah Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan rendahnya tingkat penggunaan bahasa Indonesia yang benar di masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Hafidz menyoroti pentingnya peran Badan Bahasa dalam menegakkan standar bahasa yang baik dan benar, sekaligus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan literasi bahasa melalui pendidikan yang terarah.
Peran Badan Bahasa dalam Menjaga Bahasa Nasional
Hafidz Muksin, seorang lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) dan Universitas Moestopo, telah menjabat sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sejak 2025. Pengalaman luasnya di bidang perencanaan, tata kelola pemerintahan, literasi, dan pengembangan bahasa menjadikannya sosok yang strategis dalam memimpin lembaga ini. Badan Bahasa, yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, memiliki tiga tugas utama: pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa serta kesusastraan.
Menurut Hafidz, ketiga tugas tersebut merupakan fondasi bagi bahasa Indonesia sebagai lambang negara. Ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia, sebagai bahasa suku yang dapat mempersatukan berbagai suku bangsa, menjadi kunci dalam meraih kemerdekaan pada 1945. “Dengan bahasa Indonesia yang benar, kita dapat menjaga identitas negara dan bangsa Indonesia,” ujar Hafidz dalam segmen GoodTalk yang disiarkan oleh Good News From Indonesia.
Program Prioritas Badan Bahasa
Selain tugas utama, Badan Bahasa juga memiliki program prioritas yang meliputi: menjaga permartabatan sastra Indonesia, peningkatan kecakapan literasi, pelestarian bahasa daerah, dan menginternasionalkan bahasa Indonesia. Program terakhir ini baru-baru ini telah diimplementasikan melalui berbagai inisiatif yang bertujuan memperkenalkan bahasa Indonesia ke komunitas internasional.
Dalam konteks pengembangan Bahasa Indonesia Benar, program peningkatan kecakapan literasi menjadi fokus utama. Dengan menanamkan standar bahasa yang baik dan benar di tingkat sekolah dan perguruan tinggi, diharapkan generasi muda dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan tepat dalam semua situasi, baik lisan maupun tulisan.
Rendahnya Penggunaan Bahasa Indonesia Benar
Hafidz Muksin menegaskan bahwa tingkat penggunaan Bahasa Indonesia Benar di masyarakat masih sangat rendah. Hal ini tercermin dari banyaknya kesalahan tata bahasa, ejaan, dan penggunaan kata yang tidak sesuai standar. Meskipun bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar di semua jenjang pendidikan, masih banyak siswa dan bahkan orang dewasa yang belum terbiasa mempraktikkan bahasa yang benar.
Penyebab rendahnya penggunaan Bahasa Indonesia Benar dapat dipahami melalui beberapa faktor. Pertama, kurangnya penekanan pada pelajaran bahasa di sekolah, di mana seringkali materi lebih difokuskan pada praktik berbicara daripada menulis dengan benar. Kedua, pengaruh media sosial dan internet, yang memfasilitasi komunikasi cepat namun tidak selalu memperhatikan aturan bahasa. Ketiga, kurangnya akses ke sumber belajar yang berkualitas, sehingga orang tidak memiliki referensi yang memadai untuk memperbaiki bahasa mereka.
Dampak Penggunaan Bahasa Indonesia Benar yang Rendah
Penggunaan Bahasa Indonesia Benar yang rendah berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Di dunia pendidikan, siswa yang tidak menguasai bahasa Indonesia dengan benar dapat mengalami kesulitan dalam menulis esai, laporan, dan tugas akademik lainnya. Hal ini dapat menurunkan prestasi akademik dan mempersulit proses belajar mengajar.
Di bidang profesional, kemampuan berbahasa yang baik dan benar menjadi nilai tambah bagi tenaga kerja. Perusahaan sering mencari karyawan yang dapat menyampaikan ide secara jelas dan tepat, baik dalam rapat maupun dalam dokumen bisnis. Kurangnya kemampuan Bahasa Indonesia Benar dapat menurunkan daya saing tenaga kerja di pasar global.
Secara sosial, bahasa yang tidak terstandar dapat memperburuk kesenjangan komunikasi antar generasi dan kelompok. Ketika orang dewasa menggunakan bahasa yang tidak konsisten, hal ini dapat mempengaruhi cara anak-anak belajar bahasa, sehingga kesalahan menjadi lebih terakar dan sulit diperbaiki.
Solusi Edukasi untuk Meningkatkan Bahasa Indonesia Benar
Hafidz Muksin menekankan bahwa solusi utama terletak pada pendidikan. Program edukasi yang terstruktur dan berkelanjutan dapat memperbaiki kesenjangan ini. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Integrasi Kurikulum Bahasa yang Lebih Kuat – Menambahkan modul tata bahasa, ejaan, dan penggunaan kata yang benar dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan menanamkan standar bahasa sejak dini, generasi muda akan lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia Benar.
2. Peningkatan Kualitas Guru Bahasa – Memberikan pelatihan dan sertifikasi bagi para guru bahasa agar dapat mengajar dengan metode yang efektif dan relevan. Guru yang kompeten dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kecakapan bahasa siswa.
3. Penyediaan Sumber Belajar Digital – Membuat platform online yang menyediakan materi belajar bahasa, latihan soal, dan panduan ejaan. Akses mudah akan membantu masyarakat belajar kapan saja dan di mana saja.
4. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif – Menggunakan aplikasi dan game edukatif yang menekankan penggunaan bahasa Indonesia Benar. Pendekatan yang menyenangkan dapat meningkatkan minat belajar, terutama di kalangan remaja.
5. Kolaborasi dengan Media Massa – Mengajak media untuk mempromosikan penggunaan bahasa yang benar melalui program khusus, seperti kuis bahasa, konten edukatif, dan kampanye kesadaran. Media massa memiliki jangkauan luas dan dapat memengaruhi perilaku bahasa masyarakat.
6. Penguatan Peran Badan Bahasa – Badan Bahasa dapat mengadakan workshop, seminar, dan publikasi yang membahas standar bahasa. Dengan publikasi yang mudah diakses, masyarakat dapat merujuk pada pedoman resmi saat men
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.