Salju abadi di Puncak Jaya terancam hancur, menimbulkan kekhawatiran global tentang perubahan iklim di wilayah Papua.
Perkiraan Kehilangan Lapisan Es Abadi
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, lapisan es yang menutupi puncak Jaya telah menurun secara signifikan selama dekade terakhir. Data menunjukkan penurunan 2 hingga 2,5 meter setiap tahun, dan diprediksi lapisan es abadi akan hilang total pada akhir 2026 atau awal 2027. BMKG menegaskan bahwa fenomena ini dipicu kombinasi perubahan iklim global dan El Nino yang meningkatkan suhu serta mengurangi curah hujan di wilayah tersebut.
Monitoring yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa luas tutupan es di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, turun dari 0,23 km² pada 2022 menjadi 0,11–0,16 km². Data historis dari 1988 mencatat luas es mencapai 4,3 km², namun pada September tahun lalu hanya sekitar 2 persen dari luas tersebut yang masih tersisa.
Ketebalan Es yang Cepat Menipis
Ketebalan es juga mengalami penurunan drastis. Pada 2010, tiang pengukur di permukaan es menunjukkan ketebalan sekitar 32 meter. Namun, pada 2023 ketebalan hanya tersisa sekitar 4 meter. Penurunan ini memperkuat indikasi bahwa lapisan es abadi tidak lagi dapat bertahan di kondisi suhu yang terus meningkat.
Faktor Penyebab dan Dampak Lingkungan
Peningkatan suhu Bumi, disertai pola cuaca kering akibat El Nino, mempercepat pencairan es. Dampaknya tidak hanya terbatas pada hilangnya habitat es, tetapi juga dapat memengaruhi aliran sungai, ketersediaan air, dan ekosistem aliran air di daerah sekitar. Penurunan es abadi dapat mengakibatkan perubahan iklim mikro, menurunnya kualitas air, serta memicu erosi tanah yang lebih cepat.
Selain itu, hilangnya salju abadi dapat memicu pergeseran pola cuaca regional, mempengaruhi pola hujan dan suhu di wilayah sekitarnya. Hal ini dapat berdampak pada pertanian, perikanan, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.
Upaya Pengamatan dan Penelitian Lanjutan
BMKG terus melakukan monitoring gletser di Pegunungan Jayawijaya. Data yang diperoleh memberikan gambaran jelas tentang tren penurunan es abadi dan membantu para peneliti mengembangkan model prediksi lebih akurat. Monitoring ini juga penting untuk memantau dampak perubahan iklim di daerah pegunungan tinggi yang sensitif terhadap suhu global.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Salju abadi di Puncak Jaya berada dalam fase kritis, dengan prediksi hilang total dalam hitungan bulan. Kondisi ini menandakan perlunya tindakan mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Meskipun tantangan besar, upaya pengamatan berkelanjutan dapat membantu memperkirakan dampak dan merancang strategi adaptasi bagi komunitas lokal dan ekosistem.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.