Eredivisie Terbalik: FC Twente Naik, Fortuna Sittard Bikin Sorotan, Sementara Liga Saudi Muncul Sebagai ‘Alternatif’
Berita Hari Ini – 24 September 2026 | Di tengah musim 2026‑2027, liga sepak bola Belanda menampilkan dinamika yang tak terduga. FC Twente, yang memulai musim dengan kekalahan 1‑0 melawan Heerenveen, kini menempati posisi keempat di klasemen. Kejayaan ini didukung oleh lima kemenangan dalam enam pertandingan terakhir, termasuk kemenangan dramatis 3‑2 atas PSV di De Grolsch Veste. Namun, analisis data Expected Position (xG) dari Opta menegaskan bahwa prestasi Twente sebenarnya lebih tinggi, menempatkan mereka di posisi kedua jika perhitungan didasarkan pada peluang yang dihasilkan.
Di sisi lain, Fortuna Sittard, yang secara konvensional diprediksi berada di posisi terbawah, kini menempati tempat keenam. Meskipun mereka telah mengumpulkan 13 poin dalam tujuh pertandingan, data xG menunjukkan bahwa mereka telah berlebihan dalam mencetak gol. Sebagai contoh, dalam pertandingan melawan ADO Den Haag, Fortuna mencetak tiga gol padahal hanya diprediksi 0,55 gol. Performa ini menempatkan Fortuna pada posisi “overperforming” dan menimbulkan pertanyaan tentang keandalan statistik tradisional di Eredivisie.
Perbandingan Data xG dan Klasemen Resmi
| Posisi Resmi | Posisi xG |
|---|---|
| 1. AZ | 2. Feyenoord |
| 2. Feyenoord | 3. FC Twente |
| 3. PSV | 4. AZ |
| 4. Ajax | 5. Ajax |
| 5. Ajax | 6. Fortuna |
| 6. Fortuna | 15. Willem II |
Perubahan posisi ini menyoroti ketidaksesuaian antara hasil pertandingan dan kualitas yang diukur melalui statistik lanjutan. Seorang analis menegaskan bahwa perbedaan ini mengindikasikan adanya “overperformance” di kalangan tim yang biasanya tidak menonjol, serta “underperformance” pada klub-klub besar yang biasanya mendominasi.
Reaksi Pelatih dan Pemain
Pelatih Feyenoord, Xavi Hernández, mengakui bahwa liga Saudi menampilkan standar kompetisi yang tidak bisa diabaikan. Ia menekankan bahwa jika seorang pemain menunjukkan kualitas di Liga Saudi, ia layak dipertimbangkan untuk tim nasional. Sementara itu, pemain asal Indonesia, Tijjani Reijnders, mengumumkan transfernya ke Al‑Qadsiah, menekankan bahwa ia menilai liga Saudi lebih tinggi daripada Eredivisie dan bahwa permainan di sana tidak “dapat dimainkan 65 persen” saja.
- Reijnders menyoroti adanya energi baru di kamp‑Oranje dan betah beradaptasi dengan gaya bermain di Saudi.
- Pelatih Xavi menyatakan kesiapan untuk menilai pemain dari liga tersebut bila mereka menunjukkan performa baik.
- Para penggemar FC Twente menganggap kemenangan melawan PSV sebagai titik balik, menambah semangat bagi musim berikutnya.
Kritik Terhadap Kualitas Liga Belanda di Eropa
Wim Kieft, mantan pemain, menilai bahwa klub-klub Belanda kesulitan di kompetisi Eropa karena kekurangan tekanan dalam liga domestik. Ia mengutip contoh kegagalan Feyenoord melawan Barcelona dan PSV yang hanya berhasil menduakan Shakhtar Donetsk. Menurutnya, “keberhasilan di kompetisi Eropa membutuhkan persiapan yang lebih keras, dan ini tercermin dari kurangnya kompetisi yang menantang di Eredivisie.”
Selanjutnya, Chris Woerts menekankan bahwa struktur klub harus diubah, menilai bahwa 18 klub di Eredivisie terlalu banyak dan menurunkan kualitas kompetisi. Ia mengusulkan penyempurnaan kebijakan klub dan pengurangan jumlah tim agar liga menjadi lebih kompetitif.
Kesimpulan
Pergerakan tak terduga di Eredivisie, baik dari sisi klasemen maupun statistik xG, menunjukkan bahwa liga Belanda sedang mengalami transformasi. FC Twente dan Fortuna Sittard menjadi contoh tim yang menantang konvensi, sementara kritik terhadap kualitas kompetisi di Eropa menandakan perlunya reformasi. Sementara itu, transfer pemain ke liga Saudi menambah lapisan kompleksitas dalam perbandingan kualitas liga global. Dengan dinamika ini, para penggemar, pelatih, dan analis harus menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.