Komisi XI DPR Segera Undang BI untuk Bahas Kebijakan Moneter ke Depan, Fokus pada Strategi Inflasi dan Likuiditas menjadi sorotan utama dalam pertemuan kerja di Gedung DPR, Jakarta, pada Senin, 28 September 2026. Rapat ini dihadiri oleh anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) dan para wakil ketua Komisi XI, yang semuanya bertujuan untuk membahas arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh BI dalam jangka pendek dan menengah.
Agenda Rapat dan Penyampaian Judul Evaluasi
Rapat dimulai sekitar pukul 11.20 WIB, dipimpin oleh Ketua Komisi XI, M Misbakhun, yang juga turut hadir dalam sesi Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test calon Gubernur Bank Indonesia sebelumnya. Pada awal sesi, Misbakhun menegaskan bahwa agenda rapat kali ini tidak berfokus pada evaluasi, melainkan pada agenda kerja dan prioritas kebijakan BI. Ia menekankan bahwa kata “evaluasi” dalam paparan yang dihadirkan dapat menimbulkan sentimen negatif di publik, sehingga perlu dihindari dalam penyampaian rapat ini.
Para wakil ketua Komisi XI, yakni Dolfie OFP, Mohamad Hekal, dan Fauzi Amro, turut mendukung pandangan Misbakhun. Mereka menilai pentingnya menegaskan bahwa rapat ini bertujuan untuk memperoleh klarifikasi mengenai strategi kebijakan moneter yang akan diterapkan oleh BI, bukan sekadar menilai kinerja BI di masa lalu.
Perwakilan Bank Indonesia dan Permintaan Penyampaian Arah Kebijakan
Di pihak Bank Indonesia, Gubernur Destry Damayanti bersama Deputi Gubernur Senior Aida S Budiman, Deputi Thomas Djiwandono, Deputi Filianingsih Hendarta, dan Deputi Ricky P. Gozali hadir sebagai perwakilan. Gubernur Destry menegaskan pentingnya agar paparan evaluasi tidak disampaikan dalam rapat kerja ini dan langsung berfokus pada penyampaian arah kebijakan prioritas BI. Ia mengajak Komisi XI untuk mengarahkan diskusi pada strategi inflasi dan likuiditas, dua hal yang menjadi fokus utama dalam kebijakan moneter saat ini.
Gubernur Destry juga menekankan bahwa BI akan memprioritaskan strategi inflasi dan likuiditas dalam kebijakan moneter ke depan. Ia menyatakan bahwa BI akan menyesuaikan kebijakan suku bunga dan intervensi pasar terbuka untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup bagi sistem keuangan.
Fokus pada Strategi Inflasi dan Likuiditas
Strategi inflasi menjadi titik fokus utama dalam rapat ini. Komisi XI menanyakan bagaimana BI akan mengelola tekanan inflasi yang masih cukup tinggi di pasar. Gubernur Destry menjelaskan bahwa BI akan menggunakan kebijakan suku bunga sebagai alat utama untuk menekan inflasi, sambil tetap memperhatikan dampak pada pertumbuhan ekonomi. Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan lembaga lain seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengelola risiko sistemik.
Selanjutnya, fokus pada likuiditas juga menjadi topik penting. BI akan meningkatkan pasokan likuiditas melalui operasi pasar terbuka dan penyesuaian suku bunga referensi. Gubernur Destry menjelaskan bahwa BI akan memastikan likuiditas yang cukup di pasar agar tidak terjadi ketidakseimbangan yang dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan. Ia juga menekankan perlunya transparansi dalam kebijakan BI agar pasar dapat merespons dengan tepat.
Implikasi Kebijakan Moneter bagi Pasar dan Ekonomi
Keputusan kebijakan moneter yang akan diambil oleh BI memiliki dampak signifikan pada pasar keuangan dan perekonomian Indonesia. Jika BI berhasil menekan inflasi tanpa menekan pertumbuhan ekonomi, maka pasar saham dan obligasi dapat mengalami kenaikan, karena investor merasa lebih aman. Namun, jika kebijakan suku bunga terlalu tinggi, maka kredit dan investasi dapat terhambat, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat menurun.
Selain itu, kebijakan likuiditas yang tepat juga dapat membantu menjaga kestabilan sistem keuangan. Jika BI dapat menyediakan likuiditas yang cukup, maka risiko kredit dapat berkurang dan pasar keuangan dapat beroperasi dengan lancar. Namun, jika likuiditas tidak dikelola dengan baik, maka risiko sistemik dapat meningkat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Reaksi dan Tanggapan Pihak Terkait
Setelah rapat, beberapa anggota Komisi XI mengungkapkan bahwa mereka menghargai kejelasan yang diberikan oleh BI terkait strategi kebijakan moneter. Mereka menyatakan bahwa transparansi dalam kebijakan akan membantu mengurangi ketidakpastian di pasar. Sementara itu, beberapa pihak di sektor swasta menilai bahwa kebijakan yang lebih fokus pada inflasi dan likuiditas akan menciptakan lingkungan investasi yang lebih stabil.
Gubernur Destry juga menegaskan bahwa BI akan terus memantau kondisi ekonomi dan menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara BI, pemerintah, dan lembaga keuangan lainnya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kesimpulan dan Prospek Kebijakan Moneter ke Depan
Komisi XI DPR Segera Undang BI untuk Bahas Kebijakan Moneter ke Depan, Fokus pada Strategi Inflasi dan Likuiditas menunjukkan bahwa kebijakan moneter Indonesia berada pada tahap penting. Rapat ini menyoroti pentingnya transparansi dan koordinasi antara BI dan Komisi XI dalam merumuskan kebijakan yang dapat menjaga stabilitas harga dan likuiditas.
Dengan strategi inflasi yang tepat dan likuiditas yang cukup, BI diharapkan dapat menciptakan kondisi ekonomi yang lebih stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menyeimbangkan antara kontrol inflasi dan pertumbuhan ekonomi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260928120511-17-771415/komisi-xi-dpr-panggil-bi-bahas-arah-kebijakan-ke-depan-bukan-evaluasi, without altering the facts of the original article.