Survei terbaru menunjukkan bahwa KDM lebih laku dibandingkan Prabowo, menandai pergeseran dukungan pemilih menjelang Pilpres 2024.
Data Survei SMRC Menunjukkan KDM Dominan di Basis Partai
Menurut survei SMRC yang dirilis pada 28 September 2026, Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan panggilan KDM, menunjukkan daya tarik yang lebih besar di kalangan basis pemilih banyak partai politik dibandingkan Prabowo Subianto. Pendiri SMRC, Saiful, menegaskan bahwa “pemilih partai‑partai itu umumnya lebih memilih KDM daripada Prabowo.”
Survei tersebut memaparkan hasil bagi sembilan basis partai yang dianalisis. Di antara mereka, tujuh partai cenderung mendukung KDM. Misalnya, di Golkar, 43 persen pemilih partai memilih KDM, sementara hanya 16 persen yang memilih Prabowo. Di PKB, KDM mendapat 46 persen, sedangkan Prabowo hanya 6 persen. NasDem juga menunjukkan 43 persen dukungan KDM berbanding 10 persen untuk Prabowo. PAN menonjol dengan 55 persen memilih KDM, sementara Prabowo hanya 6 persen.
Di PDIP, KDM memperoleh 29 persen dukungan, sedangkan Prabowo 12 persen. PSI menunjukkan kesetaraan, dengan KDM dan Prabowo masing-masing 28 persen. Gibran, sebagai alternatif lain, mendapatkan 22 persen, dan Gerindra juga menampilkan KDM serta Prabowo sama-sama 28 persen. Angka‑angka ini menegaskan pola dominasi KDM di berbagai basis partai.
Strategi Komunikasi yang Lebih Efektif bagi KDM
Saiful menjelaskan bahwa KDM lebih mudah “menjual” dirinya ke massa pendukung partai. Menurutnya, mengkomunikasikan KDM ke pendukung partai lebih mudah dibandingkan dengan Prabowo. “KDM itu penarik massa untuk partai‑partai politik,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pesan dan citra KDM lebih resonan dengan nilai‑nilai yang dipegang oleh basis partai.
Keberhasilan strategi komunikasi ini terlihat dari tingkat adopsi KDM di berbagai basis partai. Basis partai yang sebelumnya lebih netral atau bahkan condong ke Prabowo kini menunjukkan preferensi yang lebih kuat terhadap KDM. Ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika politik, di mana pemilih tidak lagi mengandalkan satu tokoh saja, melainkan lebih memilih kandidat yang dapat menyesuaikan diri dengan identitas partai.
Dampak Pergeseran Dukungan terhadap Pilpres 2024
Pergeseran dukungan ini berpotensi mengubah alur kampanye dan strategi politik menjelang Pilpres 2024. Partai-partai yang sebelumnya mengandalkan dukungan Prabowo akan harus menyesuaikan pesan kampanye mereka agar lebih memikat KDM. Hal ini dapat memperluas jangkauan pesan politik, mengingat KDM memiliki daya tarik yang lebih luas di kalangan basis partai.
Selain itu, pergeseran ini dapat mempengaruhi aliansi koalisi. Partai-partai yang mendukung KDM dapat lebih mudah berkoordinasi, karena mereka berbagi citra dan visi yang serupa. Ini dapat memperkuat posisi koalisi yang mengusung KDM sebagai calon presiden, sementara koalisi yang masih mengandalkan Prabowo mungkin perlu menyesuaikan strategi atau bahkan mempertimbangkan pergantian calon.
Dalam konteks pemilihan umum, dinamika ini menambah kompleksitas bagi para pengamat politik. Bagaimana partai-partai akan menyesuaikan kampanye mereka, serta bagaimana pemilih akan merespons perubahan ini, akan menjadi sorotan utama dalam beberapa bulan mendatang.
Kesimpulan: KDM Menjadi Pilihan Utama di Basis Partai
Survei SMRC menegaskan bahwa KDM lebih laku dibandingkan Prabowo di kalangan basis partai. Hal ini disebabkan oleh strategi komunikasi yang lebih efektif serta citra yang lebih resonan dengan nilai partai. Pergeseran ini berpotensi mengubah dinamika politik menjelang Pilpres 2024, mempengaruhi aliansi koalisi dan strategi kampanye. Pemilih dan partai politik harus siap menghadapi perubahan ini, karena KDM kini menjadi pilihan utama di banyak basis partai.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.dream.co.id/stories/survei-kdm-lebih-laku-ketimbang-prabowo-260928a.html, without altering the facts of the original article.