Dody Hanggodo: Raja Air Nasional, Dari Panen Raya Papua hingga Banjir Solok, Menegur Pejabat di Bekasi
Berita Hari Ini – 30 September 2026 | Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan, kini berada di garis depan kebijakan pengelolaan air nasional. Pada bulan September 2026, ia mengawasi dua proyek besar, satu di Papua Selatan dan satu lagi di Sumatera Barat, sekaligus menegur pejabat di Jawa Barat atas laporan data sawah kering yang tidak akurat.
Panen Raya di Wanam: Air Rawa dan Sumur Tanah
Di kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kementerian menyiapkan 160.000 meter kubik air rawa sebagai alternatif untuk mendukung panen raya padi. Kebutuhan air di bagian selatan lahan 107 hektar tercatat 48.384 m³, dengan ketersediaan 52.410 m³. Namun di bagian utara, 20 hektar hanya memiliki 805 m³, menciptakan defisit yang harus dipenuhi melalui sumber alternatif. Dody menekankan pentingnya sistem tata air yang disesuaikan dengan karakteristik lahan, mulai dari kering hingga rawa. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan jaringan irigasi rawa dan pengendalian banjir menjadi kunci keberlanjutan pertanian di wilayah tersebut.
| Lokasi | Luas Tanam (ha) | Kebutuhan Air (m³) | Ketersediaan Air (m³) |
|---|---|---|---|
| Selatan | 107 | 48.384 | 52.410 |
| Utara | 20 | 34.560 | 805 |
| Jumlah | 127 | 82.944 | 53.215 |
Penanganan Banjir Bandang di Solok
Di kabupaten Solok, Sumatera Barat, Dody meninjau kondisi pascabanjir bandang Sungai Batang Baliang pada malam hari. Ia menginstruksikan Dirjen Sumber Daya Air untuk mempercepat pembangunan Sabo Dam dan Cekdam di hulu sungai guna menahan lumpur dan kayu. Untuk menghemat waktu, sistem precast diproduksi di lokasi aman dan dipasang bertahap. Selain itu, Dody memastikan sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tetap berfungsi, dengan sekitar 200 kepala keluarga di pengungsian tetap mendapatkan air bersih.
Kontroversi di Bekasi: Teguran Terhadap Arnold Ritiauw
Video menampilkan Dody memanggil pejabat di Desa Karangharja, Bekasi, menuduh tidak menindaklanjuti masalah irigasi. Dalam percakapan, ia menuduh salah satu kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, yang kemudian diungkapkan sebagai Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, bukan dirinya. Ritiauw, mantan jenderal TNI dan Direktur Jenderal Sumber Daya Air sejak 1 Mei 2026, mengklarifikasi bahwa ia tidak menjadi sasaran teguran. Video tersebut memicu perdebatan tentang transparansi dan akuntabilitas data irigasi di kementerian.
Pengawasan Data Sawah Kering di Jawa Barat
Dody mengancam mencopot sejumlah pejabat Ditjen SDA setelah menemukan banyak sawah kering di Karawang, Bekasi, dan Cirebon. Ia mengeluhkan ketidaksesuaian data lapangan dengan laporan dashboard yang menunjukkan kondisi hijau. Menurutnya, sistem saluran tersier yang belum dibangun menjadi penyebab utama kekeringan. Ia menekankan perlunya tindakan cepat, seperti menambah pompa dan pipa sekunder, serta melibatkan petani dalam pembangunan saluran kecil.
Dengan serangkaian tindakan dan kritik tegas, Dody Hanggodo menegaskan komitmennya untuk memastikan ketersediaan air bagi pertanian dan masyarakat. Namun, kritik terhadap pelaporan data dan kebijakan pengelolaan air juga menyoroti tantangan birokrasi dan kebutuhan transparansi dalam kementerian.