Tragedi Memanah Ikan di DAS Tondano menambah beban emosional bagi warga Kairagi Weru setelah korban ditemukan meninggal. Peristiwa ini terjadi pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 22.30 WITA, ketika Menrabel Budiman, 27 tahun, bersama rekannya memutuskan untuk menyelam guna memanah ikan di aliran sungai. Kairagi Weru, yang terletak di bagian timur Kota Manado, menjadi lokasi yang sering dijadikan tempat bersantai dan berolahraga bagi penduduk setempat.
Lokasi dan Kondisi Geografis
Kairagi Weru terhubung dengan sejumlah ruas jalan utama, termasuk koridor Kairagi-Mapanget. Dari kawasan ini, jaraknya sekitar 3-4 kilometer ke pusat kota bagian timur, dan Zero Point Manado, salah satu ikon Kota Manado, berada di pusat kota. Kawasan Megamas di pesisir pusat Kota Manado dapat dijangkau lewat jaringan jalan utama menuju Boulevard, sedangkan Bandara Sam Ratulangi terletak di wilayah Mapanget, sekitar 8 kilometer dari Kairagi. Kondisi geografis ini memudahkan akses bagi warga, namun juga menambah risiko ketika melakukan aktivitas di air.
Peristiwa Tragis Memanah Ikan di DAS Tondano
Ketika Menrabel Budiman dan rekannya menyelam, rekan korban muncul ke permukaan setelah beberapa saat, namun tidak melihatnya. Setelah itu, pencarian awal dilakukan oleh keluarga dan masyarakat sekitar, namun korban belum ditemukan. Pada pukul 22.58 WITA, laporan diterima oleh petugas Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Manado, dan Basarnas Sulut langsung mengerahkan personel untuk melakukan pencarian.
Rabu (30/9/2026) pukul 06.10 WITA, Tim SAR Gabungan melaksanakan briefing dan melanjutkan pencarian. Sekitar pukul 06.42 WITA, korban berhasil ditemukan sekitar 7 meter dari lokasi kejadian dalam kondisi yang masih terhidup. Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan bahwa korban sudah meninggal. Keluarga Menrabel Budiman mengungkapkan rasa duka yang mendalam serta kisah pilu di balik hobi berbahaya memanah ikan di DAS Tondano.
Penyebab dan Dampak Tragedi Memanah Ikan di DAS Tondano
Aktivitas memanah ikan di sungai, meskipun dianggap sebagai hobi, membawa risiko tinggi. Faktor-faktor seperti arus deras, kedalaman air yang tidak terduga, serta keterbatasan peralatan penyelam dapat memperbesar kemungkinan kecelakaan. Dalam kasus ini, rekan korban mungkin tidak menyadari kondisi air di sekitar mereka, sehingga membuat pencarian menjadi sulit.
Dampak dari tragedi ini tidak hanya dirasakan secara emosional oleh keluarga, tetapi juga menimbulkan kesadaran baru tentang pentingnya keselamatan di lingkungan air. Warga Kairagi Weru kini lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas di sungai, dan pihak berwenang berencana memperkuat pengawasan serta edukasi tentang bahaya memanah ikan di DAS Tondano.
Upaya Penanganan dan Penyelamatan
Basarnas Sulut dan Tim SAR Gabungan bekerja secara koordinatif untuk mencari korban. Penerimaan laporan pada pukul 22.58 WITA menunjukkan reaksi cepat dari petugas Siaga. Penyelamatan dilakukan dengan bantuan peralatan pencarian modern dan tenaga profesional, namun sayangnya, korban sudah meninggal ketika ditemukan. Keterlibatan keluarga dan masyarakat setempat juga menjadi faktor penting dalam proses pencarian.
Refleksi dan Harapan
Tragedi Memanah Ikan di DAS Tondano mengingatkan kita semua akan risiko yang melekat pada aktivitas di alam. Meskipun hobi tersebut mungkin tampak menyenangkan, namun tidak boleh mengabaikan keselamatan. Keluarga Menrabel Budiman berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua warga untuk lebih berhati-hati dan menghormati alam.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://manado.tribunnews.com/manado/1895094/kronologi-seorang-warga-tenggelam-saat-memanah-ikan-di-das-tondano-korban-ditemukan-meninggal, without altering the facts of the original article.