Masa Depan FIGC: Tiga Calon Presiden, termasuk Legenda AC Milan yang Pernah Raup Ballon d’Or, Siap Memimpin Italia
Transportasi Umum vs Ojek Online di Era Otonom: Siapa yang Bakal Menang Taruhan?
KompetitifBerita Hari Ini – 07 April 2026 | Setelah kegagalan mengejutkan Timnas Italia yang tidak lolos ke Piala Dunia 2026, Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina mengundurkan diri bersama Gianluigi Buffon sebagai Ketua Delegasi Gli Azzurri dan pelatih Gennaro Gattuso. Kepergian mereka meninggalkan kekosongan strategis di pucuk pimpinan federasi, memicu perbincangan hangat tentang siapa yang akan mengisi posisi tertinggi tersebut.
Desakan Fabio Capello untuk Rencana Jangka Panjang
Dalam sebuah wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, mantan pelatih legendaris Italia Fabio Capello menolak keras tawaran untuk bergabung dalam manajemen FIGC. Pada usia 79 tahun, Capello menegaskan bahwa Italia memerlukan proyek pembangunan sepak bola selama sepuluh tahun untuk mengembalikan kejayaan. Menurutnya, “kualitas pemain muda belum cukup, dan struktur pembinaan harus dirombak secara fundamental.” Pernyataan ini menambah urgensi bagi calon pemimpin FIGC untuk merancang kebijakan jangka panjang yang konkret.
Profil Tiga Calon Presiden FIGC
Berbagai nama mulai muncul sebagai kandidat potensial. Berikut tiga tokoh yang paling menonjol dalam perbincangan publik dan kalangan internal FIGC.
- Marco van Basten – Legenda AC Milan yang pernah meraih tiga kali Ballon d’Or (1988, 1989, 1992). Van Basten, yang kini menjabat sebagai penasihat teknis di klub Belanda AZ Alkmaar, dikenal dengan visi taktisnya dan kepiawaiannya dalam mengembangkan pemain muda. Meskipun tidak pernah melatih Timnas Italia, pengalaman internasionalnya serta reputasi sebagai ikon sepak bola Eropa dianggap dapat membawa perspektif baru bagi reformasi sistem pembinaan di Italia.
- Gianluigi Buffon – Penjaga gawang paling berpengaruh dalam sejarah Italia, sekaligus figur yang baru saja mengakhiri perannya sebagai Ketua Delegasi Gli Azzurri. Buffon telah lama terlibat dalam kegiatan sosial dan pengembangan olahraga di tingkat akar rumput, serta memiliki jaringan luas di dunia sepak bola Italia. Dukungan para veteran dan fans yang mengidolakan sosoknya menjadikan Buffon kandidat kuat yang dapat menyatukan berbagai kepentingan dalam federasi.
- Andrea Pirlo – Mantan gelandang maestro Italia yang kini menjabat sebagai manajer teknis Juventus. Pirlo dikenal dengan pendekatan modern dalam taktik dan penggunaan data analitik. Pengalamannya mengelola klub top Serie A serta kemampuan berkomunikasi dengan generasi pemain muda membuatnya menjadi pilihan yang menarik untuk memimpin proyek reformasi jangka panjang.
Agenda Utama yang Diharapkan dari Calon Presiden
Ketiga calon tersebut diharapkan dapat menanggapi tantangan utama yang diidentifikasi oleh Capello dan para analis sepak bola:
- Pembinaan Pemain Muda – Menghentikan praktik “skema” yang terlalu seragam pada usia 12 tahun, serta menekankan pada penguasaan teknik dasar dan kreativitas.
- Struktur Organisasi – Membentuk unit khusus yang mengawasi implementasi rencana 10‑tahun, termasuk kolaborasi dengan klub-klub Serie A, B, dan akademi regional.
- Transparansi Keuangan – Menyelesaikan isu-isu terkait pendanaan, termasuk penyelidikan atas penjualan klub seperti Chelsea yang melibatkan tokoh internasional.
- Pengembangan Infrastruktur – Memperbaiki fasilitas latihan nasional, meningkatkan standar pelatihan pelatih, serta mengintegrasikan teknologi modern dalam proses scouting.
Reaksi Publik dan Media
Suporter di seluruh Italia menunjukkan beragam reaksi. Di Roma, kekecewaan memuncak setelah tim kalah di playoff melawan Bosnia-Herzegovina, sementara di Milan, para pendukung AC Milan menyambut baik kemungkinan kehadiran van Basten di FIGC. Di media sosial, hashtag #FIGC2026 dan #VanBastenPresiden menjadi trending dalam hitungan jam.
Pengamat sepak bola menilai bahwa pemilihan calon yang tidak hanya mengandalkan popularitas, namun juga visi strategis, menjadi kunci. “Jika FIGC ingin kembali bersaing di level tertinggi, mereka harus memilih pemimpin yang mampu mengintegrasikan pengalaman praktis dengan inovasi modern,” ujar seorang analis senior pada sebuah talkshow televisi.
Proses Pemilihan dan Jadwal
Menurut aturan internal FIGC, pemilihan presiden baru akan dilaksanakan pada Kongres Tahunan Federasi yang dijadwalkan pada akhir Agustus 2026. Semua anggota asosiasi klub, regional, dan pemain berhak memberikan suara. Kandidat yang lolos harus menyerahkan program kerja terperinci, termasuk rencana pendanaan, sebelum batas waktu 30 Juni 2026.
Dengan tiga nama kuat yang kini bersaing, dinamika politik internal FIGC diprediksi akan semakin intens. Bagaimanapun, tekanan publik dan kebutuhan akan reformasi mendesak menuntut keputusan yang tepat dan cepat.
Jika salah satu dari ketiga tokoh ini terpilih, harapan akan terbangun kembali bagi Italia untuk kembali ke panggung dunia sepak bola, memulihkan kejayaan yang sempat terpuruk sejak kegagalan di Piala Dunia 2026.