Berita Hari Ini – 02 April 2026 | Jumat (1/4/2026) tiga anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas dalam dua insiden terpisah di wilayah selatan Lebanon. Kedua insiden terjadi dalam rentang 24 jam, menambah ketegangan di zona konflik antara Israel dan milisi Hizbullah serta memicu serangkaian reaksi diplomatik dari pemerintah Indonesia, PBB, dan pihak Israel.
Kronologi Kejadian
Pada Minggu (29 Maret 2026) sebuah proyektil yang belum teridentifikasi meledak di dekat pos Indonesia di desa Adchit Al Qusayr, menewaskan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon (27 tahun). Proyektil tersebut diduga berasal dari tembakan tank atau ranjau yang dijatuhkan di area tersebut. Pada hari berikutnya, Senin (30 Maret 2026), kendaraan konvoi logistik UNIFIL yang mengangkut personel Indonesia melintasi jalan di sekitar Bani Hayyan terkena ledakan di pinggir jalan. Ledakan ini menghancurkan kendaraan dan menewaskan Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33 tahun) serta Sertu Muhammad Nur Ichwan (25 tahun). Dua personel lainnya, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, mengalami luka, salah satunya dalam kondisi kritis.
Identitas Korban dan Luka
- Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar – meninggal karena ledakan pada 30/3/2026.
- Sertu Muhammad Nur Ichwan – meninggal dalam insiden yang sama.
- Praja Farizal Rhomadhon – meninggal pada 29/3/2026 akibat proyektil.
- Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana – luka parah.
- Praka Deni Rianto – luka ringan.
Hasil Penyidikan Awal UNIFIL dan PBB
Jean‑Pierre Lacroix, Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB, menyampaikan temuan awal bahwa ledakan di pinggir jalan pada 30 Maret kemungkinan besar disebabkan oleh IED (alat peledak rakitan). Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, menambahkan bahwa insiden pada 29 Maret mungkin dipicu oleh bahan peledak yang jatuh pada posisi penjagaan Indonesia. UNIFIL menyatakan sumber ledakan masih belum dapat dipastikan dan menegaskan komitmen untuk melakukan investigasi menyeluruh.
Reaksi Pemerintah Indonesia
Menlu Indonesia Sugiono menuntut rapat darurat Dewan Keamanan PBB, menekankan kebutuhan investigasi yang cepat, transparan, dan menyeluruh. Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyampaikan dukacita mendalam dan mendukung penuh proses pemulangan jenazah serta upaya hukum internasional. Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Menteri Pertahanan juga menegaskan koordinasi intensif dengan markas UNIFIL untuk memastikan keselamatan personel Indonesia di zona konflik.
Sikap Israel dan Penolakan
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui akun Telegram resmi membantah keterlibatan mereka dalam kedua insiden. IDF menyatakan tidak ada pasukan atau peralatan peledak yang ditempatkan di area tersebut pada saat kejadian, serta menegaskan bahwa wilayah Lebanon selatan merupakan zona pertempuran aktif antara Israel dan Hizbullah, sehingga asumsi bahwa UNIFIL menjadi target IDF tidak dapat dipastikan.
Dampak Diplomatik dan Langkah Selanjutnya
Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB digelar pada Selasa (31 Maret) atas permintaan Prancis, yang menuduh Israel melakukan pelanggaran keamanan terhadap kontingen UNIFIL, termasuk pasukan Prancis di Naqura. PBB menegaskan pentingnya melindungi semua penjaga perdamaian, tanpa memandang asal negara. Sementara itu, pemerintah Lebanon melalui Menteri Luar Negeri Yousef Raggi berjanji akan berkoordinasi dengan pihak Indonesia dan PBB untuk mempercepat proses investigasi serta mengamankan pos‑pos UNIFIL di wilayah konflik.
Insiden ini menandai kematian pertama personel Indonesia dalam konflik yang kembali memanas antara Israel dan Hizbullah sejak akhir Februari 2026, setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Total korban tewas dalam misi UNIFIL sejak pembentukan pada 1978 mencapai 339, dengan sekitar 1.200 personel Indonesia terlibat dalam operasi tersebut.
Dengan tiga prajurit TNI yang gugur dalam dua hari, tekanan internasional untuk menuntaskan penyelidikan dan menegakkan akuntabilitas semakin kuat. Pemerintah Indonesia terus menuntut transparansi, sementara komunitas internasional mengawasi perkembangan situasi di perbatasan Lebanon‑Israel yang rawan pecah menjadi konflik berskala lebih luas.