Deportasi Keluarga Soleimani: ICE Guncang Gaya Hidup Mewah di Los Angeles
Berita Hari Ini – 12 April 2026 | Washington memperketat kebijakan imigrasi terhadap warga Iran yang memiliki ikatan dengan rezim Tehran. Pada awal April 2026, Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menahan dua warga Iran yang dikenal sebagai Hamideh Soleimani Afshar, 47 tahun, dan putrinya Sarinasadat Hosseiny, 25 tahun. Afshar merupakan keponakan mantan jenderal Qasem Soleimani, sementara Hosseiny adalah cicitnya. Penangkapan mereka terjadi tak lama setelah dua kerabat lain dari Soleimani, termasuk seorang istri dan anaknya, kehilangan status hijau mereka.
Profil Hamideh Soleimani Afshar dan Sarinasadat Hosseiny
Hamideh Afshar telah lama menonjol di media sosial dengan menyuarakan dukungan terbuka terhadap kepemimpinan Iran. Posting‑postingnya memuji kebijakan pemerintah Tehran dan mengkritik Amerika Serikat secara tajam. Gaya hidupnya di Los Angeles digambarkan sebagai “lavish”, dengan foto‑foto liburan, mobil sport, dan acara sosial kelas atas yang dipublikasikan secara rutin.
Sarinasadat Hosseiny, yang dikenal dengan sebutan “Sari”, mengikuti jejak ibunya dalam memamerkan kemewahan. Ia sering memposting foto‑foto pesta, restoran mewah, dan pemandangan pantai California, sekaligus menyertakan simbol‑simbol dukungan politik yang menonjolkan loyalitasnya kepada rezim Iran.
Langkah Pemerintah Amerika Serikat
Departemen Luar Negeri AS, dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio, mengumumkan pencabutan kartu hijau tiga warga Iran pada awal April. Selain Hamideh dan Sarinasadat, kartu hijau Dr. Fatemeh Ardeshir‑Larijani—anak perempuan mantan pejabat keamanan Iran—juga dicabut. Rubio menegaskan bahwa Amerika tidak akan menjadi “rumah bagi teroris anti‑Amerika atau keluarga mereka”.
Keputusan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang dimulai sejak era Trump, yang menutup program visa keberagaman (Diversity Visa) dan menargetkan individu‑individu yang dianggap memiliki hubungan erat dengan rezim Tehran. ICE menahan Afshar di fasilitas penahanan Texas, sementara Hosseiny berada dalam proses deportasi.
Implikasi Bagi Keluarga yang Dideportasi
Jika proses deportasi berjalan, Afshar dan Hosseiny diperkirakan akan kembali ke Iran, di mana mereka akan menghadapi kontrol ketat dari otoritas keamanan. Keluarga mereka memiliki ikatan langsung dengan Qasem Soleimani, yang dibunuh dalam serangan drone AS pada tahun 2020. Keterkaitan tersebut dapat menimbulkan risiko keamanan pribadi, termasuk potensi penahanan atau pengawasan intensif.
Selain risiko keamanan, kehilangan status legal di AS berarti mereka akan kehilangan akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan hukum yang selama ini mereka nikmati. Para ahli imigrasi mencatat bahwa proses deportasi sering kali memakan waktu berbulan‑bulan, dengan kemungkinan banding hukum yang dapat memperpanjang penahanan.
Kasus Lain yang Terkait
Penangkapan Hamideh dan Sarinasadat muncul bersamaan dengan penahanan Seyed Eissa Hashemi, putra Masoumeh Ebtekar—mantan juru bicara revolusi Iran yang dikenal sebagai “Screaming Mary”. Hashemi, istrinya Maryam Tahmasebi, dan anak mereka juga kehilangan status hijau dan sedang diproses untuk deportasi. Hashemi sebelumnya memperoleh visa pada 2014 dan menjadi penduduk tetap pada 2016 melalui program visa keberagaman.
Kasus-kasus ini mencerminkan upaya koordinasi antara Departemen Luar Negeri, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan ICE untuk menyingkirkan figur‑figur yang dianggap berpotensi mendukung atau mempromosikan agenda anti‑Amerika.
Secara keseluruhan, tindakan ini menegaskan bahwa kebijakan imigrasi AS kini tidak hanya menilai faktor ekonomi atau kemanusiaan, melainkan juga pertimbangan politik dan keamanan nasional. Pemerintah AS tampaknya bersiap melanjutkan kampanye serupa terhadap individu‑individu lain yang memiliki hubungan dekat dengan rezim Iran, terutama menjelang pemilihan umum mendatang.
Penegakan kebijakan ini menimbulkan perdebatan mengenai keseimbangan antara keamanan nasional dan hak asasi manusia, sekaligus menyoroti bagaimana jaringan keluarga elite Iran tetap menjadi sorotan utama dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.