6 Juli 2026
Thumbnail Artikel BEM (13)

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya โœ… ๐Ÿ“ Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa โœ… ๐Ÿ“ Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG โœ… ๐Ÿ“ Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia โœ… ๐Ÿ“ Jakarta Raya

Siapa yang tidak kenal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)? Di setiap kampus, nama ini selalu menjadi magnet bagi ribuan mahasiswa baru maupun mahasiswa tingkat akhir. BEM dikenal sebagai organisasi tertinggi, paling bergengsi, dan menjadi wadah impian bagi mereka yang ingin mengembangkan diri, berjuang untuk mahasiswa, serta mengukir prestasi dan pengalaman berharga.

Saat mendaftar menjadi calon pengurus, bayangan di kepala kita selalu indah. Kita membayangkan akan menjadi pemimpin hebat, disegani banyak orang, masuk ke ruangan-ruangan penting, berbicara dengan rektor, membuat program keren, dan menjadi kebanggaan kampus. Segala hal terlihat penuh warna, bersemangat, dan sangat keren di mata orang lain.

Namun, setelah resmi dilantik, memakai jaket almamater organisasi, dan mulai menjalani hari-hari sebagai pengurus, perlahan tapi pasti, bayangan indah itu mulai berubah. Muncul rasa kaget, heran, sampai bikin geleng-geleng kepala. Ternyata, menjadi pengurus BEM itu tidak semudah dan seindah di bayangan. Ada sisi manis yang bikin senyum-senyum sendiri, tapi ada juga sisi pahit yang bikin ingin menyerah, lelah fisik, lelah pikiran, sampai diuji kesabaran dan ketabahan hati.

Artikel ini akan mengupas habis Suka Duka Jadi Pengurus BEM, lengkap dengan perbandingan Ekspektasi vs Realita yang sering kali sangat jauh berbeda. Kamu yang sedang berniat mendaftar, yang sedang menjabat, atau yang sudah menjadi alumni, pasti akan mengangguk setuju sambil tersenyum mengenang masa-masa ini.

Siapkan secangkir kopi, karena kita akan membongkar semua rahasia, kebahagiaan, dan tantangan di balik jaket kebanggaan itu.


Bab 1: Awal Mula: Mengapa Kita Memilih Masuk BEM?

Sebelum masuk ke perbandingan ekspektasi dan realita, mari kita ingat kembali apa alasan kita mendaftar dulu. Hampir semua calon pengurus memiliki alasan yang sama, yang menjadi dasar ekspektasi mereka:

  1. Ingin Berkontribusi: Ingin mengubah kampus jadi lebih baik, menyalurkan aspirasi teman-teman mahasiswa, dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa.
  2. Ingin Belajar & Berkembang: Ingin melatih kepemimpinan, keberanian bicara, manajemen, dan kemampuan lain yang tidak diajarkan di bangku kuliah.
  3. Ingin Pengalaman & Relasi: Ingin kenal banyak orang, dosen, pejabat, dan punya cerita hebat untuk masa depan.
  4. Gengsi & Kehormatan: Diakui sebagai pemimpin, disegani, dan punya status sosial di lingkungan kampus.

Semua alasan ini benar, mulia, dan sangat wajar. Namun, kenyataan di lapangan akan menguji alasan-alasan ini satu per satu. Mari kita bedah satu per satu suka dukanya, mulai dari bayangan indah sampai kenyataan yang kadang bikin heran.


Bab 2: Ekspektasi vs Realita: Hal Paling Mengejutkan yang Dirasakan Pengurus BEM

Ini adalah bagian inti dari artikel ini. Berikut adalah perbandingan paling nyata antara apa yang kamu bayangkan vs apa yang sebenarnya kamu jalani setiap hari.

1. Ekspektasi: “Akan Banyak Duduk, Memimpin Rapat, dan Memberi Perintah”

Bayangan: Saya akan duduk di kursi empuk, memegang palu rapat, menyampaikan instruksi, dan orang lain yang akan mengerjakan semuanya. Gaya pemimpin yang berwibawa dan keren.

โŒ Realita: “Saya Jadi Kuli Serabutan, Bersih-Bersih, Angkat Barang Semua Saya”

Kenyataan: Ini hal pertama yang bikin kaget. Di BEM, jabatan tidak membuatmu duduk diam. Justru semakin tinggi jabatanmu, semakin berat pekerjaanmu.

Kamu tidak hanya memimpin rapat, tapi kamu juga yang menyiapkan ruangan, menyapu lantai, menata kursi, membeli air minum, mengetik notulen, sampai mengangkat meja dan kursi saat ada acara.

Ada ungkapan terkenal di organisasi: “Pemimpin adalah pelayan terdepan.” Dan itu benar-benar terjadi. Kamu akan sering kali menjadi orang pertama datang dan orang terakhir pulang. Saat ada barang bawaan, kamu yang memanggul beban terberat. Temanmu melihat, “Wah, ketua angkat barang semua, masa kita diam saja?”

Sisi Positifnya: Kamu belajar kerendahan hati. Kamu sadar bahwa jabatan itu amanah, bukan kemewahan. Kamu jadi orang yang tidak sombong, mau bekerja keras, dan tidak keberatan melakukan hal kecil sekalipun. Ini karakter emas yang tidak dimiliki orang lain.


2. Ekspektasi: “Disayangi Semua Orang, Dipuji, dan Jadi Idola Kampus”

Bayangan: Begitu pakai jaket BEM, semua orang akan melihat dengan kagum, tersenyum, dan mendukung apa yang kita lakukan. Pasti banyak yang suka dan memuji kerja keras kita.

โŒ Realita: “Jadi Sasaran Amukan, Tempat Curhat Marah, dan Sering Dikira Sok Penting”

Kenyataan: Ini yang paling bikin sakit hati. Di luar sana, banyak mahasiswa yang tidak paham apa kerja BEM. Mereka hanya tahu kalau ada masalah, cari BEM. Kalau ada fasilitas rusak, marah ke BEM. Kalau ada kebijakan kampus yang tidak enak, BEM yang disalahkan.

Kamu jadi tempat sampah keluhan semua orang. Padahal, kamu bukan pemilik kampus, kamu juga mahasiswa biasa yang punya keterbatasan wewenang. Tapi di mata mereka, kamu adalah wakil mereka, jadi segala amarah mereka tertuju padamu.

Belum lagi pandangan miring sebagian orang: “Ah, itu anak BEM cuma cari nama”, “Paling cuma mau pamer jabatan”, “Sok sibuk, sok penting”. Padahal kamu pulang malam, dompetmu bolong, dan tidurmu kurang demi mereka. Rasanya sedih sekali saat kerja keras tidak dihargai, malah dicibir.

Sisi Positifnya: Kamu belajar menjadi orang yang tebal muka dan tebal hati. Kamu belajar bahwa kamu bekerja untuk kebenaran dan kebaikan, bukan untuk pujian. Kamu belajar membedakan mana kritik yang membangun dan mana omongan kosong yang tidak perlu didengar. Kamu jadi lebih kuat mentalnya dari baja.


3. Ekspektasi: “Bisa Dekat dengan Dosen dan Pejabat, Pasti Nilai Kuliah Jadi Lebih Bagus”

Bayangan: Karena sering ketemu Rektor, Dekan, dan Dosen, pasti hubungan jadi akrab. Pasti kalau ujian atau tugas, dapat perlakuan istimewa, nilai aman, dan dipermudah segala urusan.

โŒ Realita: “Dikenal Itu Iya, Tapi Nilai Tetap Harus Berjuang Sendiri, Malah Sering Dikira Punya Waktu Banyak”

Kenyataan: Memang benar kamu jadi dikenal, kamu jadi punya akses, kamu jadi akrab. Tapi jangan berharap nilai kamu akan naik gratis. Justru sebaliknya. Dosen dan pejabat punya standar ganda untukmu. Karena kamu pengurus BEM, mereka menganggap kamu orang yang mampu, orang yang cerdas, orang yang punya tanggung jawab.

Mereka menuntutmu lebih tinggi dari mahasiswa biasa. Kalau kamu dapat nilai jelek, mereka akan bilang: “Lho, kamu kan pengurus BEM, kok nilainya begini? Harusnya kamu bisa lebih baik.”

Belum lagi, karena dianggap “punya banyak waktu”, sering kali kamu diminta bantuan ini-itu oleh dosen atau kampus. Jadwalmu yang sudah padat, makin bertambah sibuk. Dan yang paling menyedihkan: urusan administrasi kampus tetap saja sulit, antre tetap panjang, prosedur tetap berbelit-belit. Kamu tidak mendapatkan perlakuan istimewa layaknya pejabat, kamu tetap saja mahasiswa biasa yang harus mengikuti aturan.

Sisi Positifnya: Kamu belajar bergaul dengan siapa saja tanpa memanfaatkan jabatan. Kamu belajar menghargai proses dan hasil kerja keras sendiri. Hubungan baik dengan pimpinan menjadi modal jaringan emas untuk masa depan, bukan untuk keuntungan sesaat saat kuliah.


4. Ekspektasi: “Kerja Sama Tim Itu Indah, Solidaritas Tinggi, Satu Hati Sejiwa”

Bayangan: Pengurus BEM itu ibarat saudara kandung. Susah senang bersama, berjuang bersama, saling bantu tanpa pamrih. Harmoni sempurna.

โŒ Realita: “Konflik, Perbedaan Pendapat, Politik, dan Saling Tuduh Itu Makanan Sehari-hari”

Kenyataan: Inilah kenyataan paling pahit. BEM adalah miniatur negara. Di sana ada segala hal yang ada di dunia nyata. Ada perbedaan pendapat, ada kepentingan kelompok, ada ego masing-masing, ada geng, bahkan ada “perang dingin” antar bidang.

Rapat yang seharusnya selesai 1 jam, bisa molor sampai pagi hanya karena beda pendapat soal hal sepele. Ada anggota yang pasif, ada yang sok kuasa, ada yang tidak mau diajak kerja sama. Kadang rasanya capek sekali berjuang sama orang-orang yang tidak satu frekuensi.

Bahkan, konflik terbesar sering kali datang dari dalam sendiri, bukan dari luar. Ada rasa kecewa, sakit hati, sampai menangis karena dikhianati atau disalahpahami oleh teman sendiri.

Sisi Positifnya: Ini sekolah terbaik tentang Manajemen Konflik. Di sini kamu belajar cara meredam amarah, cara menyatukan perbedaan, cara menurunkan ego, dan cara tetap bekerja sama meski hati sedang kesal. Kamu belajar bahwa manusia itu berbeda-beda, dan kunci keberhasilan adalah kemampuan menyatukan perbedaan itu. Kamu jadi orang yang sangat dewasa dalam bersikap.


5. Ekspektasi: “Banyak Uang Saku, Banyak Sponsor, Hidup Enak”

Bayangan: BEM kan organisasi besar, pasti dananya banyak. Dapat uang saku tiap bulan, kalau ada acara dapat jatah makan enak, dapat seragam bagus, bahkan mungkin dapat bayaran.

โŒ Realita: “Dompet Bolong, Uang Sendiri yang Keluar, Dana Susah Cair”

Kenyataan: Kalau kamu masuk BEM cari uang, kamu salah alamat. Justru kebalikannya.

Di banyak kampus, dana operasional sangat terbatas. Sering kali kamu harus membeli pulsa untuk komunikasi, membeli tinta printer, beli kertas, beli makanan tambahan saat rapat, atau biaya transportasi ke sana ke mari pakai uangmu sendiri.

Mencari sponsor itu susah minta ampun. Harus keliling dari satu kantor ke kantor lain, ditolak berkali-kali, ditunggu berbulan-bulan, belum tentu dapat. Dan saat dana kampus cair, prosesnya berbelit-belit, butuh tanda tangan ini-itu, laporan ini-itu, baru cair berbulan-bulan kemudian.

Banyak pengurus BEM yang bulanannya habis untuk keperluan organisasi, sampai harus berhemat makan sehari dua kali.

Sisi Positifnya: Kamu belajar Kejujuran dan Pengorbanan. Kamu sadar bahwa menjadi pemimpin itu pengabdian, bukan mencari keuntungan materi. Kamu jadi pandai mengelola keuangan, pandai berhemat, dan pandai mencari jalan keluar saat dana minim. Nilai pengalaman ini jauh lebih mahal daripada uang saku yang kamu bayangkan.


6. Ekspektasi: “Bisa Kuliah Lancar, Nilai Aman, Tetap Asik Belajar”

Bayangan: Pasti bisa membagi waktu. Kuliah beres, organisasi beres. IPK tetap tinggi, lulus tepat waktu.

โŒ Realita: “Sering Terlewat Kuliah, Tugas Kebut Semalam, Stres Memikirkan Dua Dunia”

Kenyataan: Ini tantangan terberat. Saat ada acara besar, saat ada kunjungan, atau saat ada rapat mendadak, mau tidak mau kuliah harus dikorbankan. Kamu datang terlambat, izin pulang cepat, atau bahkan bolos (meski terpaksa).

Tugas kuliah dikerjakan di sela-sela rapat, di dalam mobil, atau dikerjakan jam 2 pagi setelah pulang dari kantor BEM. Kamu sering kali merasa bersalah pada dosen, merasa tertinggal pelajaran, dan takut nilai turun.

Ada masa di mana kamu merasa: “Kenapa sih aku masuk sini? Capek banget, kuliah jadi kacau.”

Sisi Positifnya: Justru di sinilah mental baja ditempa. Mereka yang bertahan dan berhasil menyeimbangkannya, akan menjadi manusia super dalam hal manajemen waktu. Kamu jadi sangat disiplin, sangat efisien, dan sangat menghargai waktu. Banyak pengurus BEM yang justru IPK-nya tinggi karena mereka tahu waktu mereka sedikit, jadi saat belajar, mereka belajar dengan sungguh-sungguh dan fokus.


7. Ekspektasi: “Setelah Selesai Jabatan, Akan Dikenang Sebagai Pahlawan”

Bayangan: Saat turun jabatan, akan ada pesta besar, akan ada pujian, akan ada rasa haru yang luar biasa, dan semua orang akan mengingat jasa-jasaku selamanya.

โŒ Realita: “Begitu Jaket Dilepas, Namanya Juga Hilang, Dunia Tetap Berjalan”

Kenyataan: Ini yang paling menyentuh hati. Satu hari setelah pelantikan pengurus baru, seolah-olah kamu tidak pernah ada. Kantor BEM sudah diisi orang baru, program kerjamu sudah diganti, masalah yang kamu perjuangkan dilupakan, dan nama kamu mulai hilang dari percakapan.

Orang baru punya masalah baru, punya semangat baru. Kamu kembali menjadi mahasiswa biasa, tidak ada lagi yang menyapa, tidak ada lagi yang minta tanda tangan. Rasanya kosong, sepi, dan sedikit sedih. “Lalu, apa gunanya saya berjuang setahun penuh?”

Sisi Positifnya: Kamu belajar tentang Kerendahan Hati dan Ketidakegoisan. Kamu sadar bahwa organisasi itu abadi, tapi pemimpin itu berganti. Kamu belajar bekerja bukan untuk dipuji, bukan untuk diingat, tapi karena itu kewajibanmu. Dan yang paling penting: Perubahan dan karakter yang terbentuk di dalam dirimu, itulah yang abadi. Tidak ada yang mengingat namamu, tapi semua orang merasakan dampak kerja kerasmu, dan dirimu sendiri berubah menjadi orang yang jauh lebih hebat dari sebelumnya.


Bab 3: Suka Jadi Pengurus BEM: Hal yang Bikin Semua Lelah Hilang Seketika

Setelah membaca kenyataan pahit di atas, mungkin kamu bertanya: “Terus kenapa masih banyak yang mau masuk BEM? Kenapa mereka bertahan?”

Karena di balik semua lelah, sakit hati, dan kerepotan itu, ada SISI MANIS yang nilainya jauh lebih mahal dari apa pun. Ada momen-momen yang bikin kamu lupa kalau dompetmu kosong, lupa kalau kamu kurang tidur, dan lupa kalau kamu pernah kecewa.

Berikut adalah Suka Jadi Pengurus BEM yang bikin semuanya terbayar lunas:

1. Rasa Bangga yang Tak Ternilai

Saat kamu berhasil mengadakan acara besar yang kamu impikan, saat program kerjamu berjalan sukses, saat mahasiswa terbantu oleh advokasi yang kamu lakukan, atau saat kamu berhasil menyelesaikan masalah kampus yang rumit.

Ada rasa bangga yang meletup di dada. Rasa bangga bukan karena kamu hebat, tapi karena kamu berhasil memberikan manfaat bagi orang banyak. Rasanya: “Aku ada, aku berjuang, dan aku berguna.” Itu adalah kebahagiaan terbesar manusia.

2. Saudara Seperjuangan, Saudara Sehidup Semati

Konflik memang ada, tapi ikatan yang terbentuk setelah melewati masa sulit itu tidak ada duanya. Teman-teman di BEM adalah orang-orang yang pernah melihatmu saat lelah, saat marah, saat menangis, saat senang, dan saat berjuang mati-matian.

Hubungan ini jauh lebih kuat dari teman sekelas biasa. Ini adalah persaudaraan yang ditempa oleh api kesulitan. Orang bilang: “Sahabat sejati itu adalah teman seperjuangan.” Dan itu benar. Sampai kapan pun, kalau kamu bertemu mereka lagi, rasanya tetap hangat. Mereka adalah jaringan pendukung terbesar di masa depanmu.

3. Pengalaman yang Tidak Bisa Dibeli Uang

Kamu pernah bicara di depan rektor dan pejabat? Kamu pernah mengelola anggaran puluhan juta rupiah? Kamu pernah memimpin ratusan orang? Kamu pernah bernegosiasi dengan perusahaan besar? Kamu pernah menyelesaikan konflik yang pelik?

Semua pengalaman ini adalah sekolah hidup yang mahal harganya. Orang harus membayar jutaan rupiah untuk ikut pelatihan kepemimpinan, tapi kamu mendapatkannya secara cuma-cuma lewat pengalaman nyata. Kamu jadi orang yang berani, pandai, dan matang jauh di atas teman-temanmu yang hanya duduk diam di kosan.

4. Dikenal Sebagai Pemimpin

Di mana pun kamu berada, di mata dosen, di mata teman, di mata masyarakat, aura pemimpin itu terbawa. Cara bicaramu, cara berjalanmu, cara berpakaianmu, dan cara berpikirmu berubah. Kamu terlihat lebih berwibawa, lebih dewasa, dan lebih dipercaya. Ini adalah modal besar saat kamu melamar kerja nanti. HRD langsung tahu bedanya lulusan biasa dengan lulusan yang pernah aktif di organisasi.

5. Kebahagiaan Sederhana

Ada kebahagiaan sederhana yang bikin hati senang. Saat ada mahasiswa mengucapkan terima kasih, saat melihat senyum orang yang terbantu, atau sekadar duduk santai di kantor BEM sambil ngobrol kosong dengan teman-teman setelah semua tugas selesai. Momen-momen kecil itulah yang menjadi kenangan terindah seumur hidup.


Bab 4: Duka Jadi Pengurus BEM: Luka dan Tantangan yang Harus Dihadapi

Agar seimbang, kita juga harus jujur soal sisi dukanya. Ini hal-hal berat yang sering kali menjadi beban batin pengurus BEM:

1. Lelah Fisik dan Mental

Ini paling nyata. Kurang tidur, sering sakit karena kelelahan, pikiran selalu dipenuhi masalah organisasi sampai ke mimpi. Stres tingkat tinggi karena harus memikirkan banyak hal sekaligus. Sering kali harus menahan emosi dan menahan sakit hati sendirian.

2. Hilang Masa Muda

Teman-temanmu yang tidak berorganisasi bisa jalan-jalan, liburan, tidur siang, main game, atau nongkrong santai. Kamu? Kamu sibuk rapat, sibuk urus surat, sibuk di lapangan. Ada rasa iri sesekali melihat kebebasan mereka. Kamu mengorbankan waktu santai demi tanggung jawab.

3. Sering Disalahpahami

Seperti yang dibahas sebelumnya, menjadi pengurus BEM itu berarti menjadi kambing hitam. Apapun yang terjadi, BEM yang disalahkan. Sangat melelahkan harus terus-menerus menjelaskan, membela diri, atau menelan ludah saat difitnah atau dikira salah.

4. Rasa Bersalah pada Diri Sendiri & Keluarga

Sering kali kamu merasa bersalah sama diri sendiri karena kuliah jadi terganggu, atau merasa bersalah sama orang tua karena uang kiriman habis untuk keperluan organisasi, atau jarang pulang ke rumah karena sibuk kegiatan. Beban batin ini sering kali menjadi beban terberat.


Bab 5: Mengapa Semua Perbedaan Ini Terjadi?

Kenapa ada jarak yang sangat jauh antara ekspektasi dan realita? Jawabannya sederhana: Karena kamu berubah.

Saat kamu mendaftar, kamu melihat BEM dari luar. Kamu melihat hasilnya, kamu melihat kemegahannya, kamu melihat simbolnya. Tapi saat kamu masuk ke dalam, kamu melihat PROSES di balik kemegahan itu.

Kamu melihat keringat, air mata, debu, kertas berantakan, lelah, dan perjuangan.

Perbedaan antara ekspektasi dan realita itu sebenarnya adalah BUKTI KEMATANGANMU.

Dulu kamu berpikir jadi pemimpin itu keren. Sekarang kamu tahu jadi pemimpin itu BERAT.

Dulu kamu berpikir jadi pemimpin itu disegani. Sekarang kamu tahu jadi pemimpin itu MENGABDI.

Dulu kamu berpikir jadi pemimpin itu enak. Sekarang kamu tahu jadi pemimpin itu BERKORBAN.

Dan perubahan pola pikir inilah yang menjadikanmu manusia luar biasa.


Bab 6: Pesan untuk Pengurus BEM: Masa Depanmu Ada di Sini

Untuk kamu yang sekarang sedang menjabat, yang sedang lelah, yang sedang kecewa, atau yang sedang bingung: TETAPLAH BERJUANG.

Sakit hati karena teman, capek kerja keras, dompet yang menipis, dan tidur yang kurang itu SEMUA SEMENTARA. Tapi perubahan karakter, keahlian, dan pengalaman yang kamu dapatkan itu SELAMANYA.

Ingatlah pesan ini:

“BEM bukan tempat untuk mencari nama, tapi tempat untuk menempa diri. Jaket ini bukan hiasan di badan, tapi tanda bahwa kamu bersedia mengabdi. Ekspektasi boleh runtuh, tapi semangat pengabdian tidak boleh padam.”

Semua hal yang bikin kamu geleng-geleng kepala, semua hal yang bikin kamu marah, semua hal yang bikin kamu sedih, kelak akan menjadi cerita paling berharga yang akan kamu ceritakan dengan bangga di depan anak cucumu nanti.

Kamu sedang membangun pondasi masa depanmu yang sangat kokoh. Di tempat lain, teman-temanmu mungkin hanya belajar teori, tapi kamu sedang belajar HIDUP.


Bab 7: Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Organisasi

Menjadi pengurus BEM itu ibarat naik roller coaster. Ada naik turunnya, ada momen serunya, ada momen menakutkannya, ada momen bikin pusing, tapi saat turun dari wahana itu, kamu merasa puas, berdebar, dan ingin mengulanginya lagi.

Ekspektasi vs Realita memang sangat jauh.

  • Ekspektasi bilang: Ini tempat jadi pemimpin. Realita bilang: Ini tempat jadi pelayan.
  • Ekspektasi bilang: Ini tempat enak-enak. Realita bilang: Ini tempat berkorban.
  • Ekspektasi bilang: Ini tempat disayang. Realita bilang: Ini tempat diuji.

Namun, di balik semua perbedaan itu, ada satu hal yang pasti: Menjadi Pengurus BEM adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kamu ambil selama masa kuliahmu.

Suka dukanya, tawa tangisnya, lelah bahagianya, semuanya menyatu menjadi kisah perjalanan hidup yang paling berwarna. Kamu pulang tidak membawa kekayaan materi, tapi kamu pulang membawa harta yang jauh lebih berharga: Karakter, Keahlian, dan Persahabatan Sejati.

Jadi, buat kamu yang baru mau masuk: Siapkan hati, siapkan fisik, dan buang jauh-jauh pikiran cari enak.

Buat kamu yang sedang menjabat: Nikmati prosesnya, maafkan yang salah, hargai yang benar, dan teruslah berjuang.

Buat kamu yang sudah lulus: Banggalah, karena kamu pernah menjadi bagian dari sejarah pembentukan pemimpin bangsa.

BEM bukan sekadar organisasi. BEM adalah sekolah kehidupan. Dan semua hal yang bikin geleng kepala itu, adalah cara hidup mendewasakanmu agar siap memimpin dunia di masa depan.

Teruslah berkarya, teruslah berjuang, dan jadilah pemimpin yang bermanfaat!

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya โœ… ๐Ÿ“ Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa โœ… ๐Ÿ“ Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG โœ… ๐Ÿ“ Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia โœ… ๐Ÿ“ Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *