6 Juli 2026
Thumbnail Artikel BEM (15)

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya โœ… ๐Ÿ“ Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa โœ… ๐Ÿ“ Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG โœ… ๐Ÿ“ Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia โœ… ๐Ÿ“ Jakarta Raya

Sering Dianggap Sombong, Ini 5 Sisi Lain Anak BEM yang Jarang Diketahui

“Lihat deh, itu anak BEM. Jalannya angkat dagu, pandangannya ke atas, ngomongnya sok berkuasa. Pasti merasa dirinya paling hebat, paling penting, dan paling beda dari mahasiswa lain.”

Kalimat seperti di atas pasti sering kamu dengar, atau mungkin pernah kamu pikirkan sendiri saat melihat sekelompok mahasiswa memakai jaket organisasi berlogo Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) berjalan melintasi halaman kampus. Di mata banyak orang, sosok pengurus BEM sering kali dilabeli dengan predikat negatif: sombong, sok penting, cari muka, pencitraan, atau angkuh.

Label ini sudah melekat bertahun-tahun, seolah menjadi cap resmi yang menempel di dahi setiap mahasiswa yang berani mendaftar dan terpilih menjadi pengurus organisasi tertinggi di kampus ini. Ada anggapan bahwa begitu memakai jaket kebesaran itu, mereka berubah menjadi orang lain, menjadi orang yang lupa diri, dan merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan mahasiswa biasa.

Tapi, apakah benar demikian? Apakah semua anak BEM itu sombong dan angkuh? Apakah mereka benar-benar merasa lebih hebat dari orang lain? Atau, apakah pandangan itu hanya kulit luarnya saja, sementara di balik itu ada sisi lain yang jauh lebih manusiawi, lebih dalam, dan lebih hebat yang jarang sekali diketahui orang banyak?

Kenyataannya, label “sombong” itu sering kali salah kaprah. Sering kali, apa yang dianggap sombong itu hanyalah wujud dari tanggung jawab, beban pikiran, atau cara membawa diri yang berbeda. Di balik citra angkuh yang dibangun oleh persepsi publik, anak BEM memiliki sisi lain yang sangat menarik, mulia, dan patut diapresiasi.

Artikel ini akan membongkar fakta tersebut. Kita akan mengupas tuntas mengapa mereka sering dianggap sombong, dan yang paling utama, kita akan membahas 5 Sisi Lain Anak BEM yang Jarang Diketahui, sisi yang membuktikan bahwa mereka adalah manusia biasa yang berjuang, berkorban, dan memiliki karakter luar biasa yang tidak terlihat dari pandangan sekilas.

Siapkan sudut pandang baru Anda, karena setelah membaca ini, cara Anda memandang pengurus BEM akan berubah total.


Bab 1: Mengapa Anak BEM Sering Dicap Sombong? Memahami Persepsi Publik

Sebelum masuk ke sisi positif dan tersembunyi mereka, kita harus paham dulu dari mana asal tuduhan “sombong” itu muncul. Mengapa label ini begitu melekat? Ada alasan logis di balik pandangan tersebut, meskipun sering kali alasan itu keliru.

1. Gaya Bicara dan Pembawaan Diri

Pengurus BEM terlatih untuk berbicara di depan umum, berbicara dengan pejabat, dosen, atau rektor. Mereka terbiasa menggunakan bahasa yang baku, tegas, dan berwibawa.

Bagi mahasiswa biasa yang terbiasa bicara santai dan gaul, gaya bicara yang tegas, terstruktur, dan berani itu sering kali disalahartikan sebagai “sok tahu” atau “angkuh”. Padahal, itu hanyalah cara berkomunikasi yang mereka bangun agar didengar, dihargai, dan serius saat menyampaikan aspirasi atau program kerja.

Begitu juga dengan cara berjalan dan membawa diri. Karena sering memimpin dan bertanggung jawab, mereka terbiasa berdiri tegak, berjalan cepat, dan tampak serius. Orang melihatnya: “Lihat tuh, jalannya seperti punya kampus saja.” Padahal, di dalam kepala mereka sedang berpikir keras tentang 10 masalah yang harus diselesaikan hari itu. Keseriusan disalahartikan sebagai keangkuhan.

2. Kesibukan yang Terlihat “Sibuk Sendiri”

Anak BEM selalu terlihat sibuk. Berjalan cepat sambil memegang berkas, memegang HP sambil berbicara serius, datang terlambat ke kelas, atau sering keluar masuk ruangan pimpinan.

Kesibukan ini sering kali tidak dipahami orang lain. Mahasiswa lain berpikir: “Ah, sibuk-sibuk gitu juga cuma cari nama saja, nggak jelas kerjanya apa.” Karena tidak tahu apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka perjuangkan, dan betapa berat beban yang mereka pikul, maka kesibukan itu dicap sebagai “sok sibuk” atau “pencitraan”.

Padahal, mereka sibuk mengurus hal-hal yang berdampak untuk banyak orang: mengurus beasiswa, mengurus fasilitas rusak, mengurus masalah biaya kuliah, atau mengadakan acara yang bisa diikuti semua mahasiswa. Karena pekerjaannya di balik layar, orang tidak melihatnya, lalu menuduh mereka cuma gaya-gayaan.

3. Posisi sebagai Perantara dan Pengambil Keputusan

Posisi BEM adalah perantara antara mahasiswa dan pimpinan kampus. Tugas mereka menyampaikan keluhan mahasiswa ke pimpinan, dan menyampaikan kebijakan pimpinan ke mahasiswa.

Di posisi ini, mereka sering kali harus berkata “TIDAK”, “BELUM BISA”, atau “HARUS DITUNGGU”.

Saat mereka tidak bisa memenuhi permintaan seseorang, atau saat mereka harus menegakkan aturan, mereka langsung dianggap sombong, pelit, atau tidak mau membantu. Padahal, mereka terikat aturan, terikat prosedur, dan tidak punya kuasa mutlak. Menjadi penengah itu berat, dan sering kali harus menjadi pihak yang disalahkan.

4. Fenomena “Jaket Membuat Beda”

Ada peribahasa: “Bukan jaket yang membuat pemimpin, tapi pemimpin yang membuat jaket itu berharga.” Namun kenyataannya, saat memakai jaket organisasi, ada perubahan perilaku yang sedikit terjadi.

Banyak orang merasa ada perbedaan sikap saat mereka memakai jaket dan tidak memakainya. Kadang, ada segelintir oknum yang memang berubah jadi sombong, dan kasus kecil ini lalu menjadi cerminan semua anak BEM. Satu orang berbuat salah, semua yang memakai jaket disamakan.

Itulah sebabnya cap “sombong” itu muncul. Tapi, di balik semua persepsi negatif itu, ada sisi lain yang jauh lebih besar, jauh lebih dalam, dan sangat jarang diketahui orang luar. Berikut adalah 5 sisi lain anak BEM yang membuktikan bahwa mereka jauh dari kata sombong, dan justru memiliki kualitas manusia yang luar biasa.


Bab 2: 5 Sisi Lain Anak BEM yang Jarang Diketahui

1. Di Balik Wibawa, Mereka Adalah Orang yang Paling Rendah Hati

Sisi Tersembunyi: Apa yang dianggap sombong itu sebenarnya adalah Kedewasaan dan Tanggung Jawab. Di balik itu, mereka adalah orang yang paling siap menjadi “kuli serabutan”, mau bekerja paling keras, dan tidak segan melakukan hal-hal kecil yang dianggap remeh orang lain.

Banyak orang berpikir pengurus BEM itu kerjanya cuma duduk, memberi perintah, dan tanda tangan. Itu salah besar.

Orang luar tidak tahu bahwa anak BEM adalah orang pertama yang datang dan orang terakhir yang pulang. Saat ada acara besar kampus, mereka bukan sekadar pembawa acara atau pejabat yang duduk di panggung. Mereka adalah orang yang menyapu lantai, mengangkat kursi, memasang spanduk, membeli air minum, membersihkan sampah, dan mengecek kabel listrik.

Ada prinsip emas di organisasi: “Pemimpin adalah pelayan terdepan.” Dan prinsip ini benar-benar dijalankan.

Saat ada masalah, mereka turun tangan sendiri. Saat ada mahasiswa yang kesusahan, mereka turun tangan membantu. Tidak ada pekerjaan kotor atau rendah bagi mereka.

Kamu tahu apa bedanya anak BEM yang sudah matang dengan orang yang benar-benar sombong?

Orang sombong merasa dirinya lebih tinggi, ingin dihormati tapi tidak mau menghormati.

Anak BEM yang baik justru merasa dirinya adalah pelayan. Mereka tegas dan berwibawa saat di forum resmi, tapi di luar itu, mereka adalah orang yang paling ramah, paling mudah diajak bicara, dan paling siap membantu siapa saja tanpa memandang status.

Mereka belajar bahwa jabatan itu amanah, bukan kemewahan. Mereka belajar bahwa untuk memimpin orang lain, mereka harus bisa melayani orang lain dulu. Kerendahan hati inilah yang menempa karakter mereka menjadi manusia yang tidak sombong, tidak pilih-pilih, dan mau bekerja keras.

Fakta Jarang Diketahui:

Banyak pengurus BEM yang diam-diam menjadi relawan, ikut bakti sosial, atau membantu mahasiswa yang bermasalah secara pribadi tanpa mempublikasikannya. Mereka tidak mencari pujian, mereka hanya merasa itu kewajiban. Sisi pelayan inilah yang tertutup rapat oleh persepsi orang yang hanya melihat mereka saat sedang memakai jaket di acara resmi.


2. Di Balik Wajah Tegas, Mereka Punya Hati yang Sangat Lembut dan Peka

Sisi Tersembunyi: Apa yang dianggap dingin atau judes itu sebenarnya adalah Pertahanan Diri. Di balik wajah tegas itu, ada hati yang sangat peka, sangat mudah tersentuh, dan sangat peduli pada nasib orang lain, bahkan pada orang yang tidak mereka kenal sekalipun.

Kamu mungkin sering melihat anak BEM berbicara keras, berapi-api, atau menuntut hak di depan pimpinan kampus. Wajahnya terlihat garang, tegas, dan tidak kenal ampun. Lalu kamu beranggapan: “Wah, orang ini pasti keras hatinya, galak, dan tidak punya perasaan.”

Sekali lagi, itu hanya kulit luarnya saja.

Orang yang masuk dan bertahan di BEM adalah orang yang punya JIWA PENGABDIAN. Alasan utama mereka masuk adalah karena mereka peduli. Mereka tidak tahan melihat teman-temannya susah, tidak tahan melihat fasilitas rusak, tidak tahan melihat ketidakadilan.

Sering kali, di balik pintu tertutup kantor BEM, kamu akan menemukan sisi lain mereka yang sangat berbeda.

Mereka sering menangis saat mendengar keluhan mahasiswa yang berat. Mereka sering pusing dan sedih saat tidak bisa membantu teman yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Mereka sering merasa bersalah jika ada aspirasi yang belum bisa mereka wujudkan.

Mereka memikul beban perasaan seluruh mahasiswa di pundak mereka.

Saat ada mahasiswa yang tertimpa musibah, mereka yang paling cepat bergerak mengumpulkan dana. Saat ada kebijakan yang merugikan mahasiswa, mereka yang paling khawatir dan berjuang keras melawannya.

Wajah tegas yang kamu lihat itu hanyalah topeng agar mereka kuat saat berhadapan dengan pejabat atau sistem yang keras. Jika mereka lemah dan cengeng saat berdiplomasi, maka nasib mahasiswa tidak akan diperjuangkan. Mereka harus terlihat kuat, padahal di dalam hati mereka sangat lembut dan sangat peduli.

Fakta Jarang Diketahui:

Stres dan tekanan batin menjadi makanan sehari-hari mereka. Banyak anak BEM yang diam-diam mengalami kecemasan, sedih, atau bahkan depresi karena terlalu memikirkan nasib orang lain, terlalu memikirkan tanggung jawab, dan terlalu takut mengecewakan orang banyak. Sisi empati mereka begitu besar sampai-sampai mereka mengorbankan ketenangan hati mereka sendiri demi orang lain.


3. Di Balik Kesan “Punya Banyak Uang”, Mereka Adalah Orang yang Paling Banyak Berkorban Materi

Sisi Tersembunyi: Apa yang dianggap gaya-gayaan, makan enak, atau dapat uang saku itu hanyalah asumsi. Kenyataannya, menjadi anak BEM berarti Merelakan Uang Sendiri Keluar demi organisasi, demi acara, dan demi kepentingan bersama. Ini adalah sisi pengorbanan yang paling jarang dilihat orang.

Ini adalah salah satu kesalahpahaman terbesar. Banyak orang berpikir: “Anak BEM kan pegang uang organisasi, pasti hidupnya enak, makan gratis, dapat uang saku, dana melimpah.”

Padahal kenyataan di lapangan jauh dari kata itu.

Faktanya, di sebagian besar kampus, dana operasional BEM sangat terbatas, birokrasi pencairannya sangat lama, dan sering kali tidak cukup untuk menutupi kebutuhan kegiatan.

Apa yang dilakukan anak BEM? Mereka mengeluarkan uang pribadi.

Mulai dari membeli pulsa untuk komunikasi, membeli tinta dan kertas printer, membeli air mineral saat rapat, biaya transportasi ke sana ke mari, hingga menambah kekurangan dana kegiatan besar. Semua itu sering kali ditanggung sendiri dari uang saku bulanan mereka.

Ada ungkapan legendaris di kalangan pengurus BEM: “Dompet bolong tapi hati senang.”

Banyak dari mereka yang bulanannya habis tersedot untuk kepentingan organisasi. Mereka harus berhemat makan sehari dua kali, menunda keperluan pribadi, atau meminjam uang teman demi memastikan program kerja berjalan lancar dan mahasiswa mendapatkan manfaatnya.

Mereka tidak pernah menceritakan ini ke publik. Mereka tidak pernah memamerkan pengorbanan uang mereka. Mereka menganggap itu konsekuensi logis dari pilihan mereka.

Lalu, saat mereka terlihat memakai baju rapi, atau makan di luar setelah rapat, orang langsung beranggapan mereka boros atau dapat uang dari mana. Padahal, itu adalah uang hasil keringat sendiri yang mereka sisihkan.

Fakta Jarang Diketahui:

Menjadi pengurus BEM itu merugikan secara materi, tapi sangat menguntungkan secara pengalaman dan jiwa. Mereka tidak masuk untuk cari uang, mereka masuk untuk cari makna hidup. Pengorbanan materi ini melatih mereka menjadi orang yang tidak materialistis, orang yang rela berbagi, dan orang yang paham bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.


4. Di Balik Citra “Pintar Bicara”, Mereka Adalah Manusia yang Paling Sering Meragukan Diri Sendiri

Sisi Tersembunyi: Apa yang dianggap percaya diri berlebihan atau pamer keahlian bicara itu sering kali menutupi rasa gugup, takut salah, dan rasa tidak percaya diri yang luar biasa besar di dalam hati. Mereka adalah manusia biasa yang juga sering merasa tidak mampu, tapi memaksakan diri untuk berani demi tanggung jawab.

Kamu pasti sering melihat anak BEM berbicara di depan ratusan orang, berdebat dengan dosen, atau memimpin rapat dengan lantang. Kamu berpikir: “Wah, dia pasti orang yang sangat percaya diri, tidak pernah takut, dan merasa paling hebat.”

Tapi tahukah kamu? Beberapa menit sebelum berbicara, tangan mereka dingin, jantung mereka berdebar kencang, dan pikiran mereka penuh ketakutan: “Nanti kalau salah ngomong gimana?”, “Nanti kalau tidak ada yang setuju gimana?”, “Nanti kalau mengecewakan teman-teman gimana?”

Anak BEM itu tidak lahir langsung berani dan pintar bicara. Mereka dipaksa menjadi berani karena keadaan.

Mereka juga sering merasa ragu. Mereka sering merasa tugasnya terlalu berat. Mereka sering merasa tidak mampu mengatasi masalah yang datang. Mereka sering menangis diam-diam di kamar kosan karena merasa beban di pundak terlalu berat dan tidak ada tempat untuk mengadu.

Namun, paginya, mereka bangun lagi, memakai jaketnya, dan tersenyum. Mereka menyembunyikan keraguan itu dan tampil kuat di depan orang banyak.

Inilah sisi mental yang jarang diketahui: Mereka belajar menaklukkan ketakutan mereka sendiri setiap hari.

Apa yang kamu sebut “sombong” itu sering kali adalah Perlindungan Diri. Mereka membangun benteng kepercayaan diri agar orang lain percaya pada mereka. Karena jika pemimpinnya terlihat ragu, anggotanya akan panik. Jika pemimpinnya terlihat lemah, masalah tidak akan selesai.

Mereka adalah orang yang paling keras melatih diri sendiri. Mereka belajar dari kesalahan, belajar dari kegagalan, dan terus memperbaiki diri meski sering dikritik dan dicemooh. Di balik kesan sempurna dan hebat, mereka adalah manusia yang paling banyak jatuh bangun belajar menjadi lebih baik.

Fakta Jarang Diketahui:

Banyak pengurus BEM yang dulunya adalah orang pemalu, pendiam, dan tidak berani bicara. Organisasi inilah yang mengubah mereka. Keberanian yang kamu lihat itu adalah hasil dari perjuangan melawan rasa takut bertahun-tahun. Jadi, jangan iri dengan keberaniannya, tapi hargai prosesnya.


5. Di Balik Status “Sibuk dan Penting”, Mereka Adalah Orang yang Paling Mengerti Arti Kehilangan dan Pengorbanan Waktu

Sisi Tersembunyi: Apa yang dianggap gaya hidup keren, banyak teman, dan jalan-jalan terus itu ternyata adalah Pengorbanan Waktu Muda. Mereka mengorbankan hal-hal yang paling berharga dalam hidup mereka demi mengabdi pada orang lain.

Orang melihat anak BEM: “Enak banget ya, banyak kenalan, banyak teman, jalan terus, ada acara terus, hidupnya seru banget.”

Benar, mereka punya banyak teman dan pengalaman seru. Tapi yang tidak kamu lihat adalah apa yang mereka korbankan untuk mendapatkan itu semua.

Menjadi anak BEM berarti MELEPAS banyak hal indah masa muda:

  • Mereka melepas waktu tidur yang cukup.
  • Mereka melepas waktu santai untuk bermain atau hobi.
  • Mereka melepas waktu berkumpul dengan keluarga.
  • Mereka melepas kesempatan belajar lebih dalam untuk nilai kuliah.
  • Mereka melepas waktu untuk sekadar duduk diam tanpa beban.

Saat teman-teman lain liburan, mereka sibuk acara. Saat teman-teman lain tidur siang, mereka sibuk rapat. Saat teman-teman lain nongkrong santai, mereka sibuk mengurus administrasi.

Sisi lain yang jarang diketahui adalah rasa KESEPIAN yang sering mereka rasakan.

Ada banyak hal yang tidak bisa mereka ceritakan ke orang lain. Ada beban rahasia organisasi, ada masalah internal, ada konflik yang harus diselesaikan. Mereka tidak bisa curhat sembarangan. Sering kali, di tengah keramaian dan kesibukan, mereka merasa sendirian karena tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang mereka rasakan dan hadapi.

Mereka memilih jalan yang sulit. Mereka memilih jalan yang penuh duri, bukan jalan yang mulus dan enak.

Dan inilah sisi terhebatnya: Mereka rela mengorbankan masa muda mereka agar masa depan orang lain atau masa depan kampus menjadi lebih baik.

Mereka sadar, jabatan mereka hanya setahun atau dua tahun. Setelah itu, mereka kembali menjadi mahasiswa biasa. Tapi jejak perubahan yang mereka tinggalkan, dan karakter yang mereka bangun, adalah hal yang abadi.

Fakta Jarang Diketahui:

Setelah selesai menjabat, banyak anak BEM yang merasa kosong dan sepi. Jaket dilepas, jabatan hilang, perhatian orang berkurang. Tapi di situlah mereka menemukan jati diri yang sebenarnya: bahwa nilai diri mereka bukan pada jabatan, tapi pada apa yang ada di dalam diri mereka. Mereka pulang membawa kekayaan batin yang tidak dimiliki orang lain: kedewasaan yang luar biasa.


Bab 3: Mengapa Penting Menghapus Cap “Sombong”?

Sekarang kamu sudah tahu 5 sisi lain dari anak BEM yang tersembunyi di balik persepsi umum. Lalu, mengapa penting bagi kita untuk mengubah pandangan ini?

Karena Label “Sombong” itu merugikan kita semua.

Jika kita terus menganggap semua anak BEM itu sombong, angkuh, dan tidak berguna, kita akan menjauh dari mereka. Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling berjuang untuk kita, untuk hak-hak kita, dan untuk kemajuan kampus kita.

Mereka adalah pemimpin masa depan bangsa ini. Hari ini mereka memimpin organisasi mahasiswa, besok mereka akan memimpin perusahaan, memimpin instansi, atau memimpin negara. Karakter yang mereka bangun hari ini: kerendahan hati, kepedulian, pengorbanan, keberanian, dan tanggung jawab, adalah karakter yang kita butuhkan dari para pemimpin kita nanti.

Mereka bukan makhluk asing. Mereka adalah teman sekelasmu, mereka adalah anak tetanggamu, mereka adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.

Ada pepatah bijak: “Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang kamu lihat dari luar, sebelum kamu tahu apa yang sedang dia perjuangkan di dalam.”

Mungkin ada segelintir anak BEM yang memang sombong dan menyalahgunakan jabatan. Itu ada di setiap lingkungan. Tapi jangan jadikan segelintir oknum itu sebagai patokan untuk ribuan pengurus BEM lain yang berjuang tulus dan ikhlas.


Bab 4: Kesimpulan: Di Balik Jaket Itu Ada Hati yang Berjuang

Kembali ke pertanyaan awal: Apakah anak BEM itu sombong?

Jawabannya: TIDAK.

Apa yang sering dianggap sombong itu hanyalah kesalahpahaman. Itu adalah wujud dari wibawa, keseriusan, tanggung jawab, dan cara mereka menjaga diri agar kuat menghadapi kerasnya dunia organisasi.

Di balik citra sombong itu, tersembunyi 5 sisi emas yang patut dihargai:

  1. Mereka adalah orang yang paling rendah hati dan siap bekerja keras.
  2. Mereka punya hati paling lembut dan sangat peduli pada orang lain.
  3. Mereka paling banyak berkorban materi dan tidak mengharap balasan.
  4. Mereka berani bukan karena hebat, tapi karena berani melawan rasa takutnya sendiri.
  5. Mereka mengorbankan waktu muda dan kenyamanan demi pengabdian.

Menjadi pengurus BEM bukanlah tentang memakai jaket keren, duduk di kursi empuk, atau terlihat hebat di mata orang lain. Menjadi pengurus BEM adalah tentang MENGABDI, BERKORBAN, dan MEMBANGUN KARAKTER.

Jadi, lain kali kamu melihat anak BEM berjalan melewati mu dengan wajah serius atau berbicara tegas, jangan buru-buru menyebutnya sombong. Ingatlah sisi lain mereka. Ingatlah bahwa di balik jaket itu ada hati yang sedang berjuang, ada tenaga yang sedang dikuras, ada waktu yang sedang dikorbankan, dan ada pikiran yang sedang memikirkan nasibmu dan nasib kita semua.

Dan jika kamu pernah menjadi anak BEM, atau sedang menjabat sekarang: Banggalah. Biarkan orang beranggapan apa saja. Biarkan mereka bilang kamu sombong. Yang terpenting, kamu tahu isi hatimu, kamu tahu apa yang kamu korbankan, dan kamu tahu apa yang telah kamu berikan.

Suatu saat nanti, saat semua lelah dan sakit hati itu berlalu, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum bangga. Kamu akan sadar bahwa menjadi anak BEM adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupmu, dan segala cap buruk yang melekat dulunya, tidak ada artinya dibandingkan dengan manusia hebat yang kamu bentuk hari ini.

Teruslah berjuang, teruslah mengabdi, dan jadilah pemimpin yang rendah hati namun berkarakter kuat. Karena di situlah letak kehebatan sejati.

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya โœ… ๐Ÿ“ Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa โœ… ๐Ÿ“ Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG โœ… ๐Ÿ“ Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia โœ… ๐Ÿ“ Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *