Pemerintah Indonesia menargetkan 500.000 tenaga kerja terampil (skilled worker) asal Indonesia dapat terserap di pasar kerja internasional selama periode 2026 hingga 2029. Target ambisius ini diumumkan oleh Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) penguatan ekosistem perlindungan dan peningkatan kapasitas pekerja migran di Jakarta. Kerja sama ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan sektor industri untuk memperkuat ekosistem pekerja migran dari hulu hingga hilir.
Apa yang Terjadi?
Pemerintah menetapkan target penyerapan tenaga kerja secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Banten, Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta), dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Banten difokuskan pada sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah, sementara IKA Untirta berperan dalam edukasi, sosialisasi, dan peningkatan literasi mengenai migrasi yang aman bagi para calon pekerja.
Program “SMK Go Global” yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto bertujuan mencetak tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan bahasa yang mumpuni agar dapat bersaing di sektor formal internasional. PT Krakatau Steel terlibat dalam kerja sama ini sebagai penyedia sarana pelatihan vokasi. Melalui fasilitas pendidikan SMK yang dimiliki perusahaan, para calon pekerja akan dilatih secara spesifik di bidang teknis seperti pengelasan (welding) dan teknik mesin (engineering).
Mengapa dan Dampak
Menurut Mukhtarudin, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memperkuat ekosistem pekerja migran. “Kami berempat menandatangani MoU dalam rangka memperkuat ekosistem, baik dalam rangka peningkatan kapasitas pekerja migran maupun dalam konteks perlindungan bagi pekerja migran,” kata Mukhtarudin. Latar belakang dari target ini adalah untuk meningkatkan kemampuan daya saing pekerja migran Indonesia di pasar internasional. Dengan demikian, pekerja migran Indonesia dapat mengisi berbagai pekerjaan formal yang membutuhkan keahlian khusus.
Dampak dari program ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja migran dan keluarganya. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan citra pekerja migran Indonesia di mata internasional. Dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki, pekerja migran Indonesia dapat menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang membutuhkan tenaga kerja terampil.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Pemerintah masih memiliki jalan panjang untuk mencapai target 500.000 pekerja migran yang siap mengisi kebutuhan tenaga kerja global pada akhir periode 2029. Namun, dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan, target ini dapat dicapai. Pemerintah juga harus terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan daya saing pekerja migran Indonesia. Dengan demikian, pekerja migran Indonesia dapat menjadi pemain kunci di pasar kerja internasional.