Amerika Serikat (AS) mencabut blokade yang diterapkan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, demikian diumumkan oleh Komando Pusat AS pada Jumat (19/6/2026). Pencabutan blokade ini dilakukan atas perintah Presiden AS, Donald Trump, sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Iran. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran berkewajiban untuk mengizinkan kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz tanpa membayar bea selama 60 hari.
Momen Penentu di Selat Hormuz
Pasukan Amerika tidak menghalangi transit kapal ke atau dari pelabuhan Iran,” kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan. Wakil Presiden AS, JD Vance, juga mengonfirmasi tidak ada serangan yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyebut, Iran berkomitmen penuh terhadap kesepakatannya. “Sejauh ini mereka menghormati komitmen mereka,” kata Vance. Ia mengatakan, lebih dari 12 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz semalam.
Menurut data Kpler, terdapat tiga kapal tanker milik Arab Saudi yang membawa sekitar 6 juta barel melintasi selat tersebut. Diketahui, tercatat sekitar 14 juta barel minyak per hari dan 6 juta barel produk olahan per hari melewati Selat Hormuz sebelum pecahnya perang AS dan Israel melawan Iran. Dalam perang tersebut, Teheran pun menyerang kapal-kapal dan menutup Selat Hormuz, yang memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Apa Artinya Ini bagi Perekonomian Global?
Analisis Kpler menyebut, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat mencapai hampir 50% dari tingkat sebelum perang dalam 30 hari jika kesepakatan AS-Iran sepenuhnya diterapkan tanpa masalah. Namun, tidak jelas kapan ekspor melalui selat tersebut akan sepenuhnya kembali normal. “Semuanya akan berjalan lebih bertahap. Awalnya, tentu saja, kapal-kapal yang terjebak akan keluar, tetapi tidak akan kembali ke tingkat sebelum konflik dalam semalam,” kata Founder Energy Aspects, Amrita Sen.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kesepakatan AS-Iran ini merupakan langkah positif dalam mengurangi tensi antara kedua negara dan memulihkan pasokan minyak global. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam mengembalikan stabilitas di kawasan tersebut. Dengan pencabutan blokade ini, diharapkan kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dan lancar, sehingga dapat membantu meningkatkan pasokan minyak dan mengurangi dampak ekonomi dari konflik yang telah terjadi.
Dalam beberapa dekade terakhir, Selat Hormuz telah menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Oleh karena itu, stabilitas di kawasan tersebut sangat penting bagi perekonomian global. Dengan kesepakatan ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih kondusif bagi perdagangan minyak dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi global.