Tari Ronggeng Gunung dari Pangandaran merupakan salah satu kesenian tradisional yang kaya akan makna dan sejarah. Magis Ronggeng Gunung masih sangat kuat hingga saat ini, bahkan menjadi bagian dari upaya seorang istri untuk membalas dendam atas kematian suaminya. Kesenian ini telah mengalami perkembangan dan transformasi yang berbeda dari masa ke masa, namun esensi dasarnya tetap tidak berubah. Ronggeng Gunung merupakan salah satu ikon budaya Pangandaran yang selalu dinantikan dalam acara hajatan daerah maupun acara pribadi warga.
Asal-Usul Tari Ronggeng Gunung
Tari Ronggeng Gunung memiliki beberapa versi cerita asal-usul. Salah satu versi menceritakan tentang Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi, yang suaminya bernama Anggalarang terbunuh oleh Kalasamudera, seorang pemimpin bajak laut. Dewi Siti kemudian merencanakan pembalasan terhadap para Bajo dengan cara menggelar pertunjukan tari untuk memancing perhatian mereka. Ayahnya memberikan wangsit kepada Dewi Siti Samboja berupa petunjuk dan arahan untuk menumpas para Bajo. Demi memuluskan misi mengelabui Bajo, sang Dewi menyamar menjadi Nini Bogem, seorang penari.
Momen Penentu di Balik Tari Ronggeng Gunung
Dalam cerita tersebut, Dewi Siti Samboja belajar bela diri dan melahirkan tari Ronggeng Gunung. Kesenian ini kemudian menjadi bagian dari budaya Pangandaran dan selalu dinantikan dalam acara hajatan daerah maupun acara pribadi warga. Kepala Bidang Budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Sugeng, menyebutkan bahwa tarian Ronggeng Gunung kini telah diakui sebagai kesenian asli daerah Pangandaran.
Apa Artinya Ini bagi Masyarakat Pangandaran?
Tari Ronggeng Gunung memiliki makna mendalam, terutama saat dibawakan secara melingkar oleh banyak penari. Menurut Budayawan Pangandaran, Erik Krisna Yudha, “Sarendeuk saigel sabobot sapihanean”, artinya setiap gerakan harus se irama, selalu bersama-sama tak pernah bertengkar karena berbeda pendapat, rukun dan saling menghargai. Kesenian ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk mempromosikan nilai-nilai budaya dan sejarah Pangandaran.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meski telah diakui sebagai kesenian asli daerah Pangandaran, Tari Ronggeng Gunung masih perlu dilestarikan dan dikembangkan. Perlu upaya dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan kesenian ini agar tidak hilang ditelan waktu. Dengan demikian, Tari Ronggeng Gunung dapat terus menjadi bagian dari budaya Pangandaran dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang.