Berita Hari Ini – 14 April 2026 | Pada awal pekan ini, warga di Lampung dan Bali melaporkan melihat kilatan cahaya yang melintas cepat di langit mereka. Rekaman video yang diunggah ke media sosial menimbulkan spekulasi luas, mulai dari fenomena alam hingga percobaan militer. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kemudian memberikan penjelasan ilmiah tentang dua objek yang terdeteksi tersebut, menegaskan bahwa keduanya merupakan sisa roket China yang tidak berhubungan satu sama lain.
Penjelasan Resmi BRIN tentang Jejak Cahaya di Lampung
Menurut Thomas Djamaluddin, peneliti senior BRIN, kilatan yang terlihat di wilayah Lampung pada awal April 2026 adalah bagian dari roket tipe CZ-3B. Roket ini awalnya diluncurkan pada 23 Januari 2015 dan kini menjadi sampah antariksa yang kembali ke Bumi setelah mengorbit selama lebih dari satu dekade. Pada 4 April 2026, sisa roket tersebut jatuh di wilayah Lampung, menimbulkan cahaya terang saat memasuki atmosfer.
Thomas menambahkan bahwa sisa roket tersebut bergerak dari arah India menuju Samudra Hindia sebelum masuk kembali ke atmosfer Indonesia. Ia menegaskan bahwa kejadian semacam ini merupakan bagian normal dari siklus sampah antariksa, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, meskipun biasanya berakhir di wilayah tak berpenghuni seperti lautan, gurun, atau hutan.
Roket Jielong‑3 (Smart Dragon‑3) di Langit Bali
Beberapa hari kemudian, pada 11 April 2026, warga Bali melaporkan melihat benda bercahaya lain melintasi langit. Video yang beredar memperlihatkan sebuah objek yang bergerak dengan kecepatan tinggi dan menghasilkan jejak cahaya yang khas. BRIN mengidentifikasi objek tersebut sebagai roket tipe Jielong‑3, yang juga dikenal dengan nama Smart Dragon‑3.
Jielong‑3 merupakan roket peluncur ringan milik China yang sedang dalam proses mengirimkan satelit ke orbit. Pada saat kejadian, roket tersebut berada pada fase peluncuran awal, sehingga menghasilkan kilatan cahaya yang tampak di langit Bali. Thomas menegaskan bahwa roket ini tidak memiliki kaitan dengan roket CZ-3B yang jatuh di Lampung.
Kebijakan Internasional dan Fenomena Sampah Antariksa
- Sampah antariksa jatuh ke Bumi hampir setiap hari, namun sebagian besar mendarat di area yang tidak berpenghuni.
- Negara-negara peluncur roket tidak diwajibkan meminta izin negara yang dilalui oleh lintasan roket, karena roket beroperasi di ketinggian di atas wilayah udara sipil.
- BRIN mencatat bahwa selain roket China, roket India juga sering melewati wilayah udara Indonesia.
Hal ini menjelaskan mengapa fenomena serupa dapat terjadi secara berkala di wilayah kepulauan Indonesia yang strategis secara geografis, terletak di antara jalur peluncuran roket internasional.
Dampak dan Tindakan Pemerintah
BRIN bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau aktivitas sampah antariksa yang masuk ke wilayah Indonesia. Sampai saat ini, tidak ada laporan kerusakan atau cedera pada penduduk akibat jatuhnya sisa roket tersebut. Pemerintah menekankan pentingnya edukasi publik mengenai fenomena ini, agar tidak menimbulkan kepanikan atau penyebaran informasi yang tidak akurat.
Selain itu, lembaga-lembaga riset nasional berkoordinasi dengan pihak internasional untuk memperkuat sistem pelacakan objek antariksa, sehingga dapat memberikan peringatan dini bila diperlukan.
Dengan penjelasan yang diberikan, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa kilatan cahaya yang muncul di langit Lampung dan Bali merupakan bagian dari aktivitas luar angkasa yang wajar, bukan ancaman militer atau fenomena supranatural.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menegaskan pentingnya kolaborasi ilmiah antara lembaga riset nasional dan komunitas internasional dalam mengelola dan memantau sampah antariksa, serta memberikan informasi yang transparan kepada publik.