MoU AS-Iran menjadi sorotan dunia setelah ditandatangani, namun pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Shofwan Al Banna Choiruzzad, mengungkapkan bahwa terdapat tiga dampak besar yang mungkin terjadi pascapenandatanganan nota kesepahaman tersebut. Menurutnya, kesepakatan damai ini tidak lantas menandai berakhirnya dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah.
Mengapa MoU AS-Iran Penting?
Pada Jumat, perundingan teknis antara AS dan Iran yang seharusnya akan dilangsungkan di Swiss untuk membahas implementasi kesepakatan gencatan senjata permanen ditunda. Penundaan terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Zionis di Libanon Selatan yang memicu keberatan Iran. Menurut sejumlah laporan, Iran menunda pengiriman delegasinya ke Swiss karena serangan militer Zionis yang terus berlangsung. Serangan yang terjadi sejak Kamis malam hingga Jumat itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Shofwan menuturkan setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang mungkin terjadi pascapenandatanganan nota kesepahaman tersebut. Yang pertama menurut Shofwan, Israel akan melakukan segala cara untuk menggagalkan perundingan damai lebih jauh. âIsrael menganggap kesepakatan damai ini merupakan bentuk kegagalan strategis, dan akan melakukan berbagai cara untuk menggagalkannya,â kata Shofwan seperti dikutip Tempo.
Pengamat hubungan internasional itu menilai upaya menggagalkan rekonsiliasi konflik merupakan keniscayaan bagi karier politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Selain itu, berbagai kalangan oposisi di pemerintahan Israel melabeli Netanyahu sebagai pemimpin yang gagal dan tunduk kepada AS. âPemerintah Israel bahkan sudah menyiapkan daftar target operasi yang akan ditembak, jika perdamaian yang final tidak dapat tercapai,â kata dia.
Dampaknya bagi Warga Palestina
Yang kedua, dia juga bahwa mengatakan Trump tengah mengevaluasi dampak politik dari perubahan pendekatan Washington terhadap perang Iran. Menurut dia, dukungan penuh kepada Israel dinilai menimbulkan biaya politik yang tidak setimpal sehingga mendorong perubahan strategi. Hal ini mengingat perang selama 112 hari itu menyeret AS ke dalam kerugian politik yang sangat mahal. âSekarang Trump akan melihat apakah perubahan strategi ini akan membuahkan hasil atau justru semakin terpuruk,â katanya.
Salah satu pendiri kanal independen Kontekstual itu memperingatkan kemungkinan munculnya narasi yang menyoroti kegagalan AS terkait perang di kawasan. Sebab, kata dia, narasi itu yang diinginkan rezim Zionis untuk mendorong kembali AS ke dalam pertempuran. Lebih lanjut, Shofwan menilai kekalahan Zionis terhadap Iran berpotensi meningkatkan kebrutalan operasi militer di Palestina. Menurut pandanganya, jika hal itu tidak segera dihentikan, Israel semakin menebar teror bahkan bertindak represif di Tepi Barat dan Jalur Gaza, wilayah otoritas Palestina.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dia mengimbau bahwa kesempatan ini merupakan peluang untuk mebangun solidaritas kemanusiaan serta mengupayakan perdamaian permanen bagi warga Palestina. âJadikan momentum kesepakatan damai ini bukan untuk melupakan Gaza, tetapi justru kesadaran bahwa kekuatan militer raksasa dapat dikalahkan dengan keteguhan,â tutur Shofwan.
Dengan demikian, MoU AS-Iran memang membawa dampak besar bagi kawasan Timur Tengah, terutama terkait dengan isu Palestina. Oleh karena itu, upaya untuk mempertahankan perdamaian dan meningkatkan solidaritas kemanusiaan sangatlah penting dalam situasi saat ini.