Warga Padukuhan di Gunungkidul Menghilang
Padukuhan Sari di Kalurahan Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul, menjadi kota mati karena banyaknya warga yang pindah setelah tetangga ikut program transmigrasi hingga keluarga berencana (KB). Warga Padukuhan Sari menghilang secara perlahan-lahan, meninggalkan dua rumah yang kini rusak parah dan tidak beratap. Salah satu rumah bahkan telah berubah fungsi menjadi kandang ayam.
Apa yang Terjadi di Padukuhan Sari?
Dukuh Sangen I, Suparno, mengatakan bahwa bangunan-bangunan itu dulunya merupakan tempat tinggal warga Sari. Suparno pernah mengunjungi Sari ketika menjabat sebagai Dukuh pada tahun 1998. “Saya menjabat dukuh itu tahun 1998, terus waktu saya menjabat itu Dukuh Sari masih aktif bahkan sempat berteman dengan saya. Tapi sekarang Pak Dukuh Sari sudah meninggal dunia,” katanya. Pada tahun 1998, hanya ada beberapa KK yang tinggal di Sari. “Seingat saya tahun 1998 saya menjabat jadi dukuh itu di sini tinggal tiga atau empat KK,” ucapnya. Namun, lambat laun penduduk di Sari pergi satu persatu. Suparno tidak mengetahui penyebab warga yang tiba-tiba pergi meninggalkan Sari.
Mengapa Warga Sari Pergi?
Lurah Banjarejo, Dwi Haryanto, membenarkan bahwa dahulu memang ada Pedukuhan Sari di Banjarejo. Akan tetapi, sekitar tahun 90-an, Pedukuhan itu akhirnya hilang dari wilayah administratif Banjarejo. “Kalau tidak salah tahun 90-an itu (Pedukuhan Sari dihapus dari wilayah administratif Banjarejo). Jumlah KK di Sari terbilang sedikit juga, dan karena semakin berkurang jadinya habis dan akhirnya dihapus,” ucapnya. Dwi menyebut bahwa saat ada program transmigrasi ke Sumatera, ada beberapa warga Sari yang ikut program tersebut. Selanjutnya, anak-anak dari warga Sari banyak keluar untuk memulai hidup baru. “Jadi dulu itu ada program transmigrasi ke Sumatera dan ada warga Sari yang ikut. Selain itu, banyak anak-anak dari warga Sari yang nikah lalu keluar dari Sari,” katanya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Akibat banyaknya warga yang pergi, Pedukuhan Sari hanya menyisakan para orang tua. Terlebih, ketika para orang tua yang tinggal di Sari meninggal dunia membuat banyak orang merasa kesepian. “Nah, lambat laun karena tidak ada perkembangan penduduk dan yang tinggal yang tua-tua itu terus meninggal dunia, lalu yang masih hidup akhirnya memutuskan untuk pindah satu persatu,” ujarnya. Kini, akses jalan di Sari tidak jelek dan lokasinya juga tidak terpencil. “Sebenarnya akses jalan tidak masalah, dekat dengan Pedukuhan Padangan dan tidak terpencil karena dekat dengan kantor Kalurahan juga,” ucapnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Warga Padukuhan Sari yang menghilang meninggalkan pertanyaan tentang apa yang terjadi di masa lalu. Apakah program transmigrasi dan KB menjadi penyebab utama warga pergi? Bagaimana ke depannya wilayah ini akan berkembang? Sampai saat ini, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, yang jelas, Padukuhan Sari kini menjadi kota mati yang hanya menyisakan kenangan masa lalu.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8545494/bak-kota-hantu-kisah-padukuhan-di-gunungkidul-yang-hilang-ditinggal-penduduknya, without altering the facts of the original article.