Ika Arista, seorang mpu perempuan langka di Indonesia, muncul di Kampung Keris, Desa Aeng Tongtong, Sumenep, Madura. Ia merupakan salah satu dari sekitar 600 perajin keris di desa tersebut, yang diakui UNESCO sebagai wilayah dengan konsentrasi mpu terbanyak di dunia. Kehadiran Ika di tengah dominasi para pria menjadi sebuah simbol penting dalam melestarikan warisan budaya di tanah kelahirannya.
Merawat Warisan Budaya dengan Keberanian
Ika Arista memiliki latar belakang yang unik dalam dunia keris. Sejak masa kanak-kanak, ia sudah terbiasa dengan kesibukan pembuatan keris, mulai dari menyortir bahan baku, mengukir, hingga merancang warangka (sarung keris). Ia mulai terjun ke dunia seni tempa besi ini sejak kelas 5 SD dengan alasan yang sangat sederhana, yaitu untuk mendapatkan uang jajan. Namun, seiring waktu, ia semakin mendalami makna dan nilai spiritualitas di balik pembuatan keris.
“Jadi hanya coba-coba iseng-iseng dan dipikirnya karena waktu itu SD sebagai yang saku lah, uang jajan setiap harinya, tidak kemudian sampai sedalam itu juga mempelajari keris. Baru setelah kuliah mulai melihat bahwa ini tidak hanya mengandung sisi ekonomis,” kata Ika. “Kita akhirnya bicara historis, spiritualitas bangsa, dan itu yang membuat bertahan sampai sekarang ini,” dia melanjutkan.
Tantangan dan Keunikan sebagai Mpu Perempuan
Hampir 70% warga di Aeng Tongtong menggantungkan hidupnya sebagai pembuat keris. Meski kaum wanita juga banyak terlibat, mayoritas dari mereka hanya ditempatkan pada fase akhir yang tidak membutuhkan banyak tenaga fisik. Ika menolak berhenti di batasan tersebut dan memilih untuk menguasai seluruh seni pembuatan keris dari awal hingga akhir.
“Perempuan itu kan terpetakan pada akhirnya, ada yang hanya bagian ukir, ada yang hanya bagian finishing, amplas, dan lain-lain. Biasanya pekerjaannya lebih ringan,” kata Ika. “Jadi mungkin saya yang kebetulan punya pengetahuan bisa proses dari awal sampai akhir,” dia menambahkan.
Proses Pembuatan Keris yang Sarat dengan Ritual
Waktu pengerjaan mahakarya ini sangat bervariasi. Sepotong keris biasa tanpa prosesi khusus umumnya selesai dalam dua hingga tiga minggu. Namun, jika keris tersebut dibuat melalui jalur spiritual, garis waktunya menjadi tidak terbatas karena harus tunduk pada hitungan adat dan hari baik.
“Satu, itu pasti pemilihan besi dan besi itu tidak langsung ditempa tapi biasanya dikalibrasi dulu di tempat-tempat tertentu dengan waktu tertentu. Baru setelah itu awal pengerjaan biasanya ada sesaji yang diberikan mpu kepada leluhurnya,” kata Ika. “Kapan sesaji diberikan kepada leluhur pemesan saat kerisnya sudah selesai, termasuk salah satunya adalah ritual tahunan yaitu menjamas pusaka,” dia menjelaskan.
Apa Artinya Ini bagi Ika dan Masyarakat?
Kehadiran Ika sebagai mpu perempuan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Aeng Tongtong. Ia membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi bagian penting dalam melestarikan warisan budaya dan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam bidang keris.
“Jadi jamasan itu yang dilakukan adalah memandikan (pusaka), jadi kalau mewarangi itu mewarangi proses untuk kemudian membersihkan keris dan menampilkan coraknya, membuat coraknya terlihat secara fisik. Tetapi jamasan lebih kepada arah spiritualnya, makanya hanya dimandikan,” ujarnya.
Ika Arista merupakan contoh nyata bahwa keberanian dan ketekunan dapat membawa seseorang mencapai kesuksesan dalam bidang yang tidak biasa. Ia terus melestarikan warisan budaya dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk mengikuti jejaknya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Ika masih memiliki jalan panjang dalam melestarikan warisan budaya dan mengembangkan kemampuan sebagai mpu perempuan. Dengan keberaniannya, ia membuka peluang bagi perempuan lain untuk terlibat dalam bidang keris dan melestarikan warisan budaya Indonesia.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8546028/mengenal-ika-arista-sosok-mpu-perempuan-langka-di-kampung-keris, without altering the facts of the original article.