Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bersama Institute for Essential Services Reform (IESR) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pelita Asa” dan diskusi publik bertajuk “Transisi Energi di Tengah Kepungan Batu Bara” di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Acara ini menjadi ruang dialog bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan dan peluang dalam mewujudkan transisi energi yang berkeadilan di Indonesia. Transisi energi menjadi topik yang sangat penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama batu bara. Film “Pelita Asa” menampilkan kisah masyarakat di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam, Kalimantan Timur, yang menghadapi persoalan keterbatasan akses energi dan dampak perubahan ekonomi.
Tantangan Transisi Energi di Indonesia
Indonesia sedang berada pada fase transformasi sistem energi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Namun, upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama batu bara, menghadapi tantangan besar. Salah satu tantangannya adalah memastikan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor energi konvensional tidak ditinggal dalam proses perubahan serta terpenuhinya akses energi yang merata. Manajer Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan IESR Martha Jesica Solomasi Mendrofa mengatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap batu bara masih tinggi, sekitar 70-80 persen bauran energi nasional masih berasal dari batu bara, sementara kontribusi energi baru terbarukan (EBT) masih berada di kisaran 11 persen.
Mengapa Transisi Energi Berkeadilan Sangat Penting
Martha mengatakan bahwa pembahasan mengenai transisi energi berkeadilan harus dimulai dengan menyadari adanya ketidakadilan yang telah berlangsung sejak lama akibat penggunaan energi berbasis fosil. Transisi menuju energi bersih tidak hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga menjadi upaya untuk memperbaiki dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang selama ini ditanggung masyarakat. Menurutnya, transisi energi tidak cukup hanya bergantung pada kebijakan sektor energi, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional yang lebih menyeluruh dan holistik karena masih banyak tantangan yang harus diselesaikan.
Dampak dan Arah ke Depan
Koordinator Ketenagalistrikan Direktorat Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa (TKKA) Kementerian PPN/Bappenas Jayanti Maharani mengatakan transisi energi di Indonesia terbagi dalam beberapa tahapan, mulai dari 2025 hingga 2045. Lima tahun pertama yang dilakukan adalah penguatan transformasi menuju energi bersih. Itu alasan mengapa saat ini di Indonesia masih banyak PLTU batu bara. Transisi energi yang berkeadilan sangat penting untuk memastikan bahwa masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor energi konvensional tidak ditinggal dalam proses perubahan. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Jalan panjang yang masih harus ditempuh dalam transisi energi di Indonesia membutuhkan komitmen dan kerja sama dari semua pihak. Dengan adanya diskusi dan nobar seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan. Indonesia harus terus berupaya untuk meningkatkan kontribusi energi baru terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, sehingga dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://tekno.tempo.co/read/2110282/aji-dan-iesr-angkat-tantangan-transisi-energi-via-nobar, without altering the facts of the original article.