Prancis sedang menghadapi gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor, dengan suhu melonjak di atas 40 derajat Celsius. Warga melakukan segala cara untuk tetap sejuk, termasuk membeli kipas angin dan unit AC portabel. Namun, penggunaan AC di Prancis masih menjadi perdebatan sengit karena dianggap tidak ramah lingkungan.
Gelombang Panas Ekstrem di Prancis
Saat suhu memecahkan rekor dan melonjak di atas 40 derajat C minggu ini, warga melakukan segala cara untuk tetap sejuk. Tragisnya, puluhan dilaporkan tewas tenggelam di pantai, danau, dan sungai. Warga lainnya berebut membeli kipas angin dan unit AC portabel. Bahkan, kekacauan akibat desak-desakan terekam di sebuah toko elektronik di Chambery, bagian tenggara negara tersebut.
Prancis jauh lebih tidak siap menghadapi gelombang panas dibandingkan negara lain. Hanya sekitar 25% rumah tangga di sana punya AC, dibandingkan 50% rumah di Spanyol dan Italia, serta 90% di Amerika Serikat. Di Australia angkanya mencapai 63%. Tidak banyak pula sekolah atau rumah sakit di Prancis memiliki AC. Hal ini memicu kekacauan di mana sekolah-sekolah terpaksa ditutup dan perawat mengeluhkan kondisi panas bak neraka.
Mengapa Penggunaan AC Dibatasi?
Orang Prancis sejak dahulu memang selalu enggan atau curiga terhadap AC. Pertama, musim panas mereka dulu cukup sejuk sehingga sebagian besar rumah dan ruang publik tidak membutuhkannya. Secara tradisional, masyarakat cukup membuka jendela di malam hari dan menutup kerai pada siang hari untuk menjaga ruangan sejuk. Banyak orang Prancis juga percaya perubahan suhu yang tiba-tiba, seperti transisi dari luar ruangan yang panas ke ruang AC, dapat memicu flu, mual, hingga pingsan.
Beberapa tahun terakhir, unit AC bahkan ditarik ke ranah politik. AC secara luas dipandang tidak ramah lingkungan, mengeluarkan udara panas ke jalan, dan memakan terlalu banyak listrik, meski sebagian besar energi di Prancis berasal dari nuklir rendah karbon. Kubu sayap kanan-lah yang baru-baru ini mendobraknya dan mengadvokasi penggunaan AC secara nasional.
Dampak dan Reaksi
Kandidat presiden sayap kanan, Marine Le Pen, menyatakan tak masuk akal membiarkan orang meninggal karena kepanasan. Ia berjanji menerapkan pengadaan AC besar-besaran, dimulai di tempat dengan populasi paling rentan yaitu rumah sakit, panti jompo, dan sekolah. Namun, pemimpin sayap kiri ekstrem sekaligus kandidat saingannya, Jean-Luc Melenchon, menolak keras.
“Sama sekali tidak. Memasang AC di mana-mana hanya akan memperburuk kerusakan (lingkungan),” sebutnya. Surat kabar progresif L’Humanite juga berkomentar. Mereka menerbitkan opini bahwa AC harus menjadi pilihan terakhir dan menyebutnya solusi sayap kanan. Ironisnya, netizen menemukan fakta bahwa gedung mereka ternyata dilengkapi AC.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Senator Partai Komunis Prancis, Fabien Gay, yang juga direktur surat kabar tersebut, dicecar di radio RMC. “AC adalah milik sayap kanan. Komunisme percaya pada kemajuan teknologi? Bisakah Anda mengonfirmasi tempat Anda memiliki AC?” tanya pembawa acara. “Ya, benar, kami menyewa, kami penyewa,” jawab Gay.
Ia beralasan L’Humanite dan penyewa lain di gedung tersebut dapat menikmati AC karena baru saja dipasang sebagai bagian dari renovasi. “Lalu mengapa sebagian besar anak-anak kita berada di sekolah yang kepanasan saat ini? Mengapa para lansia dirawat di rumah sakit yang sangat panas?”
Prancis masih memiliki jalan panjang untuk meningkatkan kesiapannya menghadapi gelombang panas ekstrem. Dengan perdebatan sengit mengenai penggunaan AC, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menemukan solusi yang efektif dan ramah lingkungan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://inet.detik.com/science/d-8549126/prancis-dilanda-panas-ekstrem-tapi-penggunaan-ac-didebat-kok-bisa, without altering the facts of the original article.