Mengenal istilah ‘food noise’ yang belakangan ramai dibicarakan sebagai fenomena yang dialami banyak orang, terutama mereka yang sedang berusaha menurunkan berat badan atau mengatur pola makan. ‘Food noise’ sendiri merupakan pikiran yang terus-menerus muncul mengenai makanan, keinginan makan, atau kapan waktu makan berikutnya. Banyak ahli kesehatan yang menyebutkan bahwa kondisi ini cukup umum terjadi dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Apa yang Terjadi pada Food Noise?
Menurut ahli gizi Sandra Zhang, ‘food noise’ adalah pikiran yang menetap dan mengganggu tentang makanan, bahkan ketika seseorang sebenarnya tidak sedang lapar secara fisik. Seseorang yang mengalami ‘food noise’ bisa terus memikirkan camilan di kantor, menu makan malam setelah baru selesai makan siang, atau merasa bersalah setelah makan sehingga sulit berkonsentrasi pada aktivitas lain.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa ‘food noise’ sering muncul sebagai dialog di dalam hati atau pikiran tentang makanan yang berulang dan sulit dihentikan. Misalnya, seseorang terus bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang harus saya makan nanti?”, “Apakah saya sudah makan cukup?”, atau “Saya tidak boleh makan itu, tetapi saya sangat ingin mencobanya.” Pikiran semacam ini dapat muncul sepanjang hari meski tubuh tidak benar-benar membutuhkan makanan.
Mengapa Food Noise Terjadi?
Beberapa laporan menunjukkan bahwa kondisi ‘food noise’ cukup umum, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang sedang menjalani program penurunan berat badan atau diet. Salah satu laporan menyebut sekitar 57% orang dalam kelompok tersebut mengalami ‘food noise’. Menurut para ahli, kondisi ini juga dapat dialami baik oleh pria maupun wanita.
Food noise juga bukan berarti seseorang memiliki kontrol diri yang lemah dalam mengendalikan pola makan. Sandra Zhang menyebut seseorang mungkin mengalami ‘food noise’ jika terus-menerus memikirkan makanan, sulit mengalihkan perhatian dari keinginan makan, atau tetap makan meski sudah kenyang. Selain itu, rasa cemas terhadap makanan dan kebiasaan terus menghitung, membatasi, atau menebus asupan makan dengan diet ketat maupun olahraga berlebihan juga dapat menjadi tanda ‘food noise’.
Dampak Food Noise pada Kualitas Hidup
Ahli kesehatan Kelly Allison dari Penn Medicine, mengatakan tekanan dan frekuensi pikiran tentang makanan dapat mengganggu fokus seseorang saat bekerja atau berbicara dengan orang lain karena perhatian terus kembali pada makanan. Hal ini tentunya dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang dan membuatnya sulit untuk berkonsentrasi pada aktivitas sehari-hari.
Solusi untuk Mengatasi Food Noise
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa otak memiliki reseptor GLP-1 yang berperan dalam mengatur perilaku makan. Obat golongan GLP-1, termasuk semaglutide yang dikenal melalui merek Ozempic, bekerja dengan meniru hormon alami tubuh sehingga sinyal kenyang dan pengendalian nafsu makan menjadi lebih kuat. Ahli kesehatan Kelly Allison mengatakan banyak pasien merasa lebih mudah menikmati satu kali makan tanpa terus memikirkan makanan setelah menggunakan obat golongan GLP-1.
Penyelesaian ‘food noise’ tentunya membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini dan bagaimana cara mengaturnya. Dengan demikian, seseorang dapat memiliki kontrol yang lebih baik atas pola makannya dan meningkatkan kualitas hidupnya secara keseluruhan.
Jalan panjang yang masih harus ditempuh dalam memahami dan mengatasi ‘food noise’ tentunya membutuhkan penelitian lebih lanjut dan perhatian yang lebih besar dari masyarakat. Namun, dengan memahami kondisi ini, kita dapat mulai mencari solusi untuk membantu orang-orang yang mengalaminya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://food.detik.com/info-sehat/d-8548534/5-fakta-food-noise-kondisi-yang-membuat-pikiran-terus-tertuju-pada-makanan, without altering the facts of the original article.