Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Kenaikan ini menjadi yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir dan memunculkan ekspektasi tren suku bunga masih akan terus naik dalam waktu dekat. Kondisi ini turut memengaruhi berbagai instrumen investasi, termasuk obligasi dan reksa dana. Lalu, bagaimana strategi yang bisa dilakukan investor agar dapat memperoleh hasil optimal sekaligus mengelola risiko?
Apa yang Terjadi pada Investasi
Perencana keuangan membagikan strategi untuk investor reksa dana dan obligasi agar dapat memperoleh hasil optimal di tengah kenaikan BI rate. Kenaikan suku bunga umumnya akan menekan harga obligasi. Dampaknya juga akan dirasakan reksadana pendapatan tetap karena portofolionya berisi obligasi.
Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir dan memunculkan ekspektasi tren suku bunga masih akan terus naik dalam waktu dekat.
Mengapa Kenaikan Suku Bunga Penting?
Kenaikan suku bunga memiliki dampak signifikan pada investasi, terutama pada obligasi dan reksa dana pendapatan tetap. Dengan suku bunga yang sedang naik, maka harga obligasi akan tertekan dan reksa dana jenis pendapatan tetap juga pasti akan mengalami penurunan NAB karena portofolionya berisi obligasi.
Menurut perencana keuangan, investor yang ingin masuk ke reksa dana pendapatan tetap sebaiknya memilih produk yang memiliki portofolio obligasi bertenor pendek agar dampak kenaikan suku bunga tidak terlalu besar.
Strategi Investasi yang Tepat
Untuk investor yang ingin membeli obligasi secara langsung, perencana keuangan menyarankan memilih obligasi yang baru diterbitkan. “Kalau mau beli obligasi secara langsung, boleh pilih obligasi yang baru dikeluarkan karena sudah memiliki suku bunga yang lebih tinggi,” ujar Ahmad.
Strategi tersebut lebih cocok diterapkan oleh investor dengan profil risiko rendah hingga menengah yang mengutamakan keamanan investasi dan tidak menyukai fluktuasi harga yang tinggi.
Apa Artinya Ini bagi Investor?
Pilihan produk investasi di saat seperti sekarang tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Investor agresif dapat mempertimbangkan reksadana saham karena berpotensi memberikan imbal hasil paling tinggi dengan risiko yang juga tinggi.
Investor moderat lebih cocok memilih reksadana campuran atau pendapatan tetap. Adapun investor konservatif dapat memilih reksadana pasar uang.
Dalam berinvestasi, selalu sesuaikan dengan tujuan keuangan dan horison penggunaan dananya. Gunakan obligasi dan reksadana pendapatan tetap untuk horison investasi menengah, sekitar tiga sampai lima tahun.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Investor juga diimbau tidak menggunakan “uang panas”, yakni dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari atau hasil utang, sebagai modal investasi. Selain itu, investor juga diimbau tidak bersikap FOMO (fear of missing out) dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi saja.
Dengan memahami strategi investasi yang tepat dan mengelola risiko dengan baik, investor dapat memperoleh hasil optimal di tengah kenaikan BI rate.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260627074907-83-1373906/strategi-pilih-reksa-dana-dan-obligasi-saat-bi-rate-terus-naik, without altering the facts of the original article.