Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakuan buruk yang dialami 12.500 tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku dan keluarga mereka, yang dipindahkan ke Belanda pada 1951. Permintaan maaf ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan kehidupan keturunan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) Maluku di Belanda, yang masih mengalami trauma dan diskriminasi hingga empat generasi.
Penderitaan yang Tak Terlupakan
Minggu, 21 Juni 2026, banyak orang Maluku berkumpul menghadiri peresmian Monumen Ulu Kora yang berbentuk haluan kapal tradisional, di Rotterdam, Belanda. Monumen ini dibuat untuk mengenang orang-orang Maluku pertama yang tiba di Belanda 75 tahun silam. Dalam acara itu, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi atas perlakukan buruk yang dialami tentara KNIL Maluku dan keturunan mereka.
“Atas pemecatan mereka yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara [KNIL] , atas penerimaan dan tempat tinggal mereka yang tidak layak, atas ketidakpedulian dan pengabaian terhadap mereka, atas kerinduan akan kampung halaman yang tak terpenuhi, atas kesedihan dan penderitaan di banyak keluarga Maluku,” kata Jetten.
Momen Penentu di Menit Akhir
Permintaan maaf ini diharapkan dapat menjadi titik balik bagi komunitas Maluku di Belanda. Namun, permintaan maaf saja tidak cukup. Menurut Minggus Pattiradjawane, generasi kedua keturunan mantan tentara KNIL Maluku di Belanda, ucapan maaf harus diikuti dengan aksi nyata.
“Tidak cukup kata maaf untuk penderitaan yang dialami generasi pertama. Hak mereka seperti gaji dan pensiun saat dipecat sepihak dari KNIL harus dipenuhi. Lalu dilakukan reparasi melalui restitusi, kompensasi, maupun rehabilitasi bagi mereka dan keturunannya yang menderita di Belanda,” kata Minggus.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Menurut sejarawan dari Vrije Universiteit Amsterdam Wim Manuhutu, langkah konkret yang dapat dilakukan adalah menguatkan edukasi yang mendalam dalam sistem pendidikan Belanda tentang sejarah orang Maluku. Selain itu, perawatan lansia Maluku dan jaminan permukiman bagi warga Maluku di Belanda juga sangat penting.
Permintaan maaf ini juga diharapkan dapat menjadi awal untuk memulihkan kepercayaan antara komunitas Maluku dan pemerintah Belanda. Namun, jalan panjang masih harus ditempuh untuk memulihkan kehidupan keturunan tentara KNIL Maluku di Belanda.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Keturunan tentara KNIL Maluku masih mengalami trauma dan diskriminasi hingga empat generasi. Oleh karena itu, pemerintah Belanda harus melakukan langkah-langkah konkret untuk memulihkan kehidupan mereka. Dengan demikian, permintaan maaf yang disampaikan oleh Perdana Menteri Belanda dapat menjadi titik balik bagi komunitas Maluku di Belanda.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cpq349rd9nro?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.