Intan Jaya Darurat: Konflik Papua Kembali Memakan Korban Sipil
Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau, dan anak muda Okto Tigau tewas dengan luka tembak dalam konflik yang terus berlangsung di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dalam dua bulan terakhir, setidaknya terjadi tujuh rangkaian kekerasan di wilayah tersebut, memicu keresahan dan protes dari warga sipil.
Pada awal Juli ini, ribuan warga di Sugapa, ibu kota Intan Jaya, turun ke jalan untuk memprotes rangkaian kekerasan yang telah terjadi. Mereka membawa berbagai poster tuntutan, termasuk mempertanyakan kapan konflik bersenjata akan berhenti dan apakah pemerintah Indonesia akan menarik pasukan militer yang jumlahnya mereka anggap berlebihan di Intan Jaya.
Apa yang Terjadi?
Pada 29 Juni, Pendeta Elianus Agimbau berpamitan ke keluarganya menuju Sugapa. Ia berangkat bersama adik laki-lakinya, Sandi Agimbua. Beberapa jam setelah berjalan kaki, mereka tiba di pangkalan ojek, Kampung Mbamogo. Di lokasi itu, sekumpulan pasukan TNI disebut menghujamkan tembakan ke arah Elianus dan Sandi. Sandi kemudian melompat ke arah tebing di bawah jalan dan bersembunyi di hutan.
Keesokan harinya, Sandi tiba Sugapa dan melaporkan peristiwa tersebut kepada keluarganya. Pihak keluarga bersama tim penanganan konflik kemudian menuju lokasi penembakan dan menemukan Elianus yang telah tak bernyawa. Jenazah Elianus ditemukan tergeletak di rerumputan dengan lima luka tembak di tubuhnya, serta luka sayatan dan telinga putus.
Mengapa dan Dampak
Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua, Latifah Anum Siregar, menyatakan bahwa rangkaian kekerasan dan kematian tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari operasi militer yang sedang terjadi di Intan Jaya dan beberapa episentrum konflik di Tanah Papua. “Tujuannya untuk melemahkan kekuatan anak-anak muda, calon pemimpin lokal, dalam mengadvokasi hak-hak masyarakat sipil, karena ada investasi di situ, seperti Blok Wabu,” kata Latifah.
Kematian Pendeta Elianus Agimbau dan warga sipil lainnya juga mendapat perhatian dari Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Bernard Ramandey. Ia menyebut rangkaian penyerangan terhadap warga sipil di Intan Jaya merupakan sebuah pelanggaran HAM. “Kami meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keamanan dan prosedur tetap aparat TNI dan satuan keamanan lainnya di Papua,” ujar Frits.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menyampaikan keprihatinan atas kematian Pendeta Elianus Agimbau. “Terkait penembakan pendeta di Intan Jaya dan Papua, saya minta Panglima TNI dan Kapolri untuk mengendalikan anggotanya yang bertugas di Papua,” ujar Pigai.
Situasi di Intan Jaya masih panas, dan warga sipil masih mengungsi dari kampung mereka. Pemerintah dan aparat keamanan diminta untuk mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan dan memastikan keamanan warga sipil. Jalan panjang yang masih harus ditempuh untuk mencapai perdamaian dan keamanan di Papua masih panjang, namun dengan kerja sama dan komitmen dari semua pihak, diharapkan situasi dapat membaik di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/ce375xpzkjdo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.