Berita Hari Ini – 28 April 2026 | Jakarta, VIVA – Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett kembali menjadi sorotan publik menjelang pemilihan umum Oktober 2026. Dari latar belakang militer elit hingga keberhasilan di bidang teknologi, Bennett menyiapkan strategi politik yang menantang posisi Benjamin Netanyahu yang telah lama berkuasa.
Latar Belakang Militer dan Teknologi
Bennett memulai kariernya sebagai anggota Sayeret Maglan, unit khusus Angkatan Darat Israel yang dikenal sebagai “Unit Ibis”. Unit ini didirikan pada Juni 1986 dan mengkhususkan diri dalam operasi senyap di belakang garis musuh dengan menggunakan teknologi canggih. Selama penugasan, Bennett terlibat dalam operasi melawan Hezbollah pada Perang Lebanon 2006, mengasah keahliannya dalam navigasi, kamuflase, dan pengembangan senjata tingkat lanjut.
Setelah mengakhiri karier militernya, Bennett melirik dunia bisnis. Pada tahun 1999 ia mendirikan Cyota, startup perangkat lunak anti‑penipuan berbasis di New York. Enam tahun kemudian, Cyota dijual kepada RSA Security seharga US$145 juta, menjadikannya jutawan teknologi. Kesuksesan tersebut diikuti dengan peran di Soluto pada 2009, perusahaan yang menyediakan layanan dukungan jarak jauh berbasis cloud untuk komputer pribadi dan perangkat seluler.
Karier Politik dan Koalisi Beyachad
Pergeseran ke dunia politik dimulai pada 2013 ketika Bennett bergabung dengan partai Yamina. Ia menjadi Perdana Menteri pada 2021 menggantikan Netanyahu dalam koalisi yang terbentuk setelah tiga pemilihan umum beruntun. Namun, masa kepemimpinannya singkat; pada 2022 ia kembali menjadi anggota oposisi.
Menjelang pemilu 2026, Bennett bergabung dengan mantan Perdana Menteri Yair Lapid untuk membentuk koalisi “Beyachad” (artinya “Bersama”). Tujuannya jelas: memecah dominasi Likud dan mengusung agenda reformasi ekonomi serta keamanan yang lebih modern. Meskipun keduanya bersedia menurunkan posisi pada daftar calon demi menarik dukungan, hasil survei menunjukkan dampak yang terbatas.
Data Survei Terbaru
Berbagai lembaga survei mengumpulkan data sejak pengumuman bergabungnya partai Bennett dan Lapid. Rata‑rata hasil survei menunjukkan bahwa koalisi Beyachad belum berhasil menambah suara secara signifikan. Berikut rangkuman hasil rata‑rata kursi Knesset menurut “Globes”:
| Partai | Rata‑Rata Kursi |
|---|---|
| Likud | 28 |
| Beyachad | 25 |
| Yashar | 13 |
| Joint Arab List | 10 |
| Shas | 9 |
| Democrats | 9 |
| Otzma Yehudit | 9 |
| Yisrael Beitenu | 8 |
| United Torah Judaism | 7 |
| Religious Zionist | 4 |
Beberapa survei bahkan menunjukkan penurunan satu hingga tiga kursi bagi blok oposisi, menandakan tantangan signifikan bagi Bennett dan Lapid dalam merebut mayoritas.
Strategi Politik Bennett
- Menonjolkan pengalaman teknologi untuk memperkenalkan kebijakan inovatif dalam bidang keamanan siber dan ekonomi digital.
- Menggunakan jaringan veteran militer untuk memperkuat narasi pertahanan nasional yang modern.
- Menawarkan posisi menengah pada daftar calon untuk mengakomodasi aspirasi pemilih moderat.
Selain itu, Bennett menekankan pentingnya memerangi korupsi dan meningkatkan transparansi dalam pemerintahan, tema yang diharapkan dapat menarik pemilih muda dan kelas menengah yang semakin kritis.
Reaksi Netanyahu dan Dinamika Politik
Benjamin Netanyahu menanggapi ancaman politik ini dengan menegaskan keberhasilan pemerintahannya dalam bidang keamanan dan diplomasi, sambil memperingatkan bahwa koalisi “Beyachad” tidak memiliki pengalaman memimpin pada masa krisis. Namun, tekanan internal dalam Likud dan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah menambah beban bagi Netanyahu menjelang pemilu.
Para pengamat menilai bahwa pertempuran politik antara dua tokoh utama ini akan semakin intens, terutama mengingat peran teknologi dalam kampanye modern. Jika Bennett mampu memanfaatkan jaringan teknologinya untuk kampanye digital yang efektif, ia berpotensi mengubah dinamika pemilih yang semakin terhubung.
Dengan pemilu yang hanya beberapa bulan lagi, pertarungan antara Naftali Bennett dan Benjamin Netanyahu akan menjadi sorotan utama tidak hanya di Israel, tetapi juga di panggung internasional. Kedua pemimpin tersebut kini berada pada persimpangan antara tradisi militer, inovasi teknologi, dan tuntutan politik masa kini.
Keberhasilan atau kegagalan Bennett dalam menggalang dukungan akan menentukan arah politik Israel selama dekade mendatang, serta mempengaruhi hubungan Israel dengan sekutu‑sekutunya di dunia.