Negeri Kangguru Jadi Basis Kapal Selam Nuklir Barat, Namun Menlu Australia Pilih China
Berita Hari Ini – 29 April 2026 | Australia kini menjadi sorotan utama dalam aliansi keamanan Barat setelah mengukuhkan diri sebagai pangkalan utama kapal selam nuklir yang didukung oleh perjanjian AUKUS. Di tengah kebijakan pertahanan yang semakin tegas, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatur kunjungan resmi ke China pada 28–30 April 2026, menambah lapisan kompleksitas geopolitik di kawasan Indo‑Pasifik.
Landasan Strategis AUKUS dan Peran Australia
Aliansi AUKUS, yang dibentuk pada 2021 antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan maritim melalui penyediaan teknologi kapal selam bertenaga nuklir. Pada tahun 2024, Australia menandatangani kontrak dengan perusahaan pertahanan Barat untuk membangun dan mengoperasikan armada kapal selam nuklir yang akan berlabuh di pangkalan milik Angkatan Laut Australia, yang secara tidak resmi disebut “Negeri Kangguru”. Pembangunan infrastruktur ini mencakup dermaga khusus, fasilitas perawatan, serta zona latihan yang strategis menghadap Samudra Hindia dan Pasifik.
Visi Diplomatik Penny Wong ke Beijing
Meski menegaskan komitmen militer melalui AUKUS, Pemerintah Australia juga berupaya menyeimbangkan hubungan ekonominya dengan China. Penny Wong, yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sejak 2022, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam Dialog Luar Negeri dan Strategis kedelapan. Pertemuan ini akan membahas isu‑isu krusial seperti keamanan maritim, perdagangan bilateral, serta hak asasi manusia.
Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan harapan bahwa dialog tersebut dapat meningkatkan kepercayaan politik dan memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan. Ia menekankan pentingnya hubungan stabil, sehat, dan berkelanjutan antara kedua negara.
Dimensi Ekonomi dan Perdagangan
China tetap menjadi mitra dagang terbesar Australia. Pada periode 2024–2025, nilai perdagangan barang dan jasa antara kedua negara mencapai sekitar 309 miliar dolar AS, menyumbang sekitar 24 persen dari total perdagangan Australia. Komoditas utama meliputi mineral, batu bara, serta produk pertanian. Kunjungan Wong diharapkan membuka peluang bagi peningkatan investasi, terutama dalam sektor energi bersih dan teknologi tinggi.
Ketegangan Hak Asasi Manusia
Di sisi lain, hubungan Australia‑China tidak lepas dari dinamika politik. Australia secara konsisten menegakkan kebijakan “Satu China” dengan tidak mengakui kedaulatan Taiwan, namun tetap mengkritik isu hak asasi manusia di China, termasuk kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, serta perlakuan terhadap minoritas di Xinjiang dan Tibet. Kritik ini sering menjadi titik sensitif dalam dialog bilateral.
Implikasi Regional
Kombinasi antara keberadaan kapal selam nuklir di Australia dan kunjungan diplomatik ke China menandai posisi Australia sebagai negara yang berada “di dua kutub”. Keputusan ini mengirim sinyal kuat kepada negara‑negara Asia‑Pasifik bahwa Australia berusaha mempertahankan keseimbangan antara aliansi militer Barat dan kepentingan ekonomi dengan Beijing.
Para pengamat keamanan menilai bahwa kehadiran kapal selam nuklir di wilayah strategis Australia dapat memperluas jangkauan patroli anti‑kapal selam, sekaligus menambah beban operasional bagi China dalam menanggapi potensi ancaman di selat Malaka dan Laut China Selatan. Sementara itu, dialog diplomatik di Beijing dapat menjadi platform untuk meredakan ketegangan dan mencari kesepakatan mengenai penggunaan ruang laut secara damai.
Reaksi Publik dan Politik Dalam Negeri
Di dalam negeri, kebijakan pertahanan yang melibatkan kapal selam nuklir menimbulkan perdebatan di parlemen Australia. Beberapa anggota partai mengkritik biaya proyek yang diperkirakan mencapai miliaran dolar, sementara yang lain menilai langkah tersebut sebagai keharusan untuk menjaga keamanan nasional di tengah meningkatnya aktivitas militer China.
Penny Wong, dalam pernyataannya, menekankan bahwa kebijakan luar negeri Australia harus bersifat pragmatis dan berlandaskan pada kepentingan nasional jangka panjang, termasuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan regional.
Dengan berakhirnya kunjungan ke China, mata dunia akan memantau langkah selanjutnya Australia dalam mengelola dualitas peranannya sebagai basis militer Barat dan mitra ekonomi utama China. Dinamika ini kemungkinan akan membentuk pola kerja sama dan persaingan di Indo‑Pasifik selama beberapa tahun ke depan.