Garda Revolusi Iran Pakai AI untuk Sindir Trump: Fakta di Balik Video Skateboard dan Rudal
Berita Hari Ini – 01 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengklaim pada akhir Maret 2026 bahwa Amerika Serikat berhasil melumpuhkan hampir seluruh kemampuan militer Iran, termasuk menenggelamkan 154 kapal, menghancurkan peluncur rudal, dan memutus jaringan komunikasi negara itu. Klaim tersebut disiarkan melalui berbagai kanal media internasional dan menimbulkan spekulasi luas tentang kondisi sebenarnya dari kekuatan militer Tehran.
Tak lama setelah pernyataan itu, sebuah video viral muncul dari akun resmi Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan. Video menampilkan Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Pasukan Garda Revolusi Iran, sedang bermain skateboard sambil memegang jus delima di satu tangan dan rokok elektrik di tangan lainnya, dengan latar belakang sebuah rudal yang tampak meluncur ke udara. Caption yang menyertai video menulis, “Unggahan menyenangkan hari ini. Minum jus pomegranate sehingga Anda bisa menembak Tel Aviv lebih akurat,” menambah kontroversi karena terkesan merayakan serangan udara ke Israel.
Analisis Teknologi dan Forensik
Tim verifikasi fakta IDN Times menggunakan aplikasi The Hive untuk memeriksa keaslian video tersebut. Hasil analisis menunjukkan hampir 100 persen kemungkinan video itu diproduksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pemeriksaan forensik mendalam, yang juga dikonfirmasi oleh Clemson University Media Forensics Hub di South Carolina, menemukan bahwa video tersebut mengandung jejak manipulasi digital yang konsisten dengan teknik deep‑fake modern, termasuk ketidaksesuaian pencahayaan, gerakan yang tidak realistis, dan lapisan visual yang dihasilkan secara algoritmis.
Media Korea Selatan, The Chosun Daily, melaporkan bahwa Iran secara sengaja mengadopsi strategi propaganda siber yang mirip dengan taktik yang pernah dipakai Amerika Serikat pada awal 2025, ketika pemerintahan Trump kedua menggunakan video buatan AI untuk menyebarkan pesan provokatif terhadap musuh-musuhnya. Menurut laporan tersebut, Iran menyiapkan kampanye digital terkoordinasi yang menargetkan audiens di Amerika Serikat, dengan dukungan teknis dari Rusia dan China yang membantu distribusi konten pro‑Iran di platform Instagram, X (Twitter), dan Bluesky.
Jejak Penyebaran dan Dampak Sosial
Penelusuran data mengungkapkan setidaknya 62 akun berbeda yang secara aktif menyebarkan versi video yang sama atau variasi serupa. Video tersebut meraih 2,8 juta tampilan, 441 kutipan, dan lebih dari 7.000 repost dalam waktu kurang dari 24 jam, menandakan potensi viral yang tinggi. Penyebaran lintas platform memperkuat narasi anti‑AS yang diinginkan oleh pihak Tehran, sekaligus mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa visual.
- Klaim Trump: Penghancuran kapal, peluncur rudal, dan jaringan komunikasi Iran.
- Respons Iran: Video deep‑fake yang menampilkan juru bicara bermain skateboard di depan rudal yang meluncur.
- Temuan Forensik: Video hampir sepenuhnya dihasilkan oleh AI.
- Pelaku Pendukung: Rusia dan China membantu distribusi konten.
- Skala Penyebaran: Lebih dari 60 akun menyebarkan video, mencapai jutaan tampilan.
Reaksi internasional beragam. Pemerintah AS menolak klaimnya sebagai propaganda, sementara pakar keamanan siber memperingatkan bahwa manipulasi visual semacam ini dapat menimbulkan ketegangan geopolitik yang tidak berdasar. Mereka menekankan perlunya literasi media yang lebih kuat, khususnya dalam mengenali deep‑fake, agar publik tidak terjebak dalam narasi yang sengaja dibentuk untuk memicu konflik.
Kesimpulannya, video yang memperlihatkan Ebrahim Zolfaghari bermain skateboard di depan rudal bukanlah rekaman kejadian nyata melainkan produk rekayasa AI yang dimanfaatkan sebagai alat propaganda digital. Klaim Trump tentang keberhasilan militer melumpuhkan Iran masih belum dapat diverifikasi secara independen, sementara Iran tampaknya mengandalkan teknologi canggih untuk menanggapi tuduhan tersebut dengan cara yang memancing perhatian global. Kedua belah pihak menunjukkan bagaimana perang informasi kini menjadi medan pertempuran yang sama pentingnya dengan pertempuran konvensional, menuntut kewaspadaan dan verifikasi yang ketat dari semua pihak yang terlibat.