Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifJakarta dan sekitarnya belakangan ini mengalami fenomena cuaca dingin pada malam dan pagi hari, namun panas menyengat pada siang hari. Suhu udara di Jakarta dan sekitarnya pada malam hari berkisar antara 25 derajat hingga 28 derajat Celsius, sementara pada siang hari dapat mencapai suhu yang lebih tinggi. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah.
Fenomena Cuaca Dingin di Jakarta dan Sekitarnya
Salah seorang warga Bekasi, Saiful, mengaku cuaca di Bekasi pada malam hingga pagi hari cenderung dingin. Padahal, saat siang hari, cuaca terasa panas sekali. “Kalau malam hari jadi terasa dingin. Biasanya sampai subuh, cuaca lebih dingin,” kata Saiful. Sejumlah warganet di platform X juga melaporkan cuaca dingin yang terasa saat malam hari. Salah satu akun mengunggah foto tampilan HP-nya yang menunjukkan suhu di Jakarta berada di angka 24 derajat Celsius pada malam hari.
Penjelasan BMKG tentang Fenomena Cuaca Dingin
Menurut BMKG, fenomena cuaca dingin di Jakarta dan sekitarnya disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah Angin Monsun Australia. Angin ini bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah, sehingga menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin. “Angin ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, sehingga pada malam hari suhu mencapai titik minimumnya dan udara terasa lebih dingin,” jelas BMKG.
Mengapa dan Dampaknya
Fenomena cuaca dingin pada musim kemarau umum terjadi. BMKG menyebut hal ini sebagai fenomena Bediding. “Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai Bediding. Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal karena memang proses fisisnya berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau,” tulis BMKG. Pada musim kemarau, jarang terjadi hujan dan tutupan awan berkurang. Hal ini menyebabkan panas permukaan bumi akibat radiasi Matahari lebih cepat dan lebih banyak yang dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang. Kemudian, curah hujan yang kurang juga menyebabkan kelembapan udara juga rendah yang berarti uap air di dekat permukaan bumi juga sedikit.
Kondisi ini umum terjadi pada wilayah Indonesia dekat khatulistiwa hingga bagian utara. Pada wilayah ini, meski pagi hari cenderung lebih dingin namun pada siang hari udara akan terasa lebih panas. “Hal ini karena ketiadaan awan dan juga kurangnya uap air saat musim kemarau menyebabkan radiasi langsung matahari akan lebih banyak pula yang mencapai permukaan bumi,” jelas BMKG.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dalam beberapa hari ke depan, warga Jakarta dan sekitarnya masih akan mengalami fenomena cuaca dingin pada malam dan pagi hari, namun panas menyengat pada siang hari. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan. Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca dan mengikuti informasi yang dikeluarkan oleh BMKG.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260710200649-641-1379333/kenapa-jakarta-hingga-bekasi-dingin-saat-malam-tapi-panas-kala-siang, without altering the facts of the original article.