Berita Hari Ini – 01 Mei 2026 | Prajogo Pangestu, taipan terkaya Indonesia, kembali menjadi sorotan publik setelah laporan keuangan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menunjukkan penurunan laba yang signifikan pada kuartal I 2026. Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungan grupnya juga menghadapi kontroversi terkait afiliasi dengan entitas lain.
Kinerja Keuangan CDIA di Kuartal I 2026
CDIA mencatat pendapatan sebesar USD41,2 juta atau setara Rp712,7 miliar, meningkat 19 persen secara year‑on‑year dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan utama berasal dari penjualan daya listrik dan jasa kelistrikan (USD22,77 juta), jasa sewa kapal (USD13,88 juta), serta penjualan bahan bakar (USD2,56 juta). Segmen sewa tangki, dermaga, gudang, dan jasa lain menyumbang sisa pendapatan.
Namun, laba bersih hanya mencapai USD9,5 juta (Rp164,3 miliar), turun drastis 70,18 persen dibandingkan USD30 juta pada kuartal I 2025. Penyusutan laba ini terjadi meskipun pendapatan naik, karena beban pokok pendapatan melonjak 22,51 persen menjadi USD31,17 juta, menurunkan margin laba kotor menjadi USD10,07 juta.
| Item | Kuartal I 2026 | Kuartal I 2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan | USD41,2 juta | USD34,6 juta |
| Laba Bersih | USD9,5 juta | USD30 juta |
| Beban Pokok | USD31,17 juta | USD25,48 juta |
Penurunan Laba dan Peningkatan Pendapatan
Direktur CDI Group, Jonathan Kandinata, menekankan bahwa meskipun laba turun, CDIA berhasil meningkatkan adjusted EBITDA sebesar USD14,1 juta, naik lebih dari 125 persen year‑on‑year. Peningkatan ini didorong oleh ekspansi aset logistik maritim dan darat yang dilaksanakan pada 2025, termasuk penambahan kapal tanker kimia berkapasitas 9.000 DWT bernama Boreas.
Strategi diversifikasi ini dianggap penting untuk menjaga aliran pendapatan berulang dan mengurangi ketergantungan pada segmen energi tradisional. Kandinata menambahkan bahwa likuiditas perusahaan mencapai USD954,2 juta dengan rasio utang terhadap kapitalisasi 39 persen, memberikan fleksibilitas untuk menangkap peluang pertumbuhan.
Kontroversi Keterkaitan dengan Green SM
Prajogo Pangestu juga harus menanggapi isu terkait afiliasi perusahaan miliknya dengan Green SM setelah kecelakaan kereta api di Bekasi. Pihak perusahaan tegas membantah adanya hubungan kepemilikan atau afiliasi operasional dengan Green SM, menegaskan bahwa grupnya tidak terlibat dalam manajemen atau kepemilikan entitas tersebut.
Isu ini menambah tekanan pada citra publik grup, meskipun tidak berdampak langsung pada laporan keuangan kuartal ini. Pengamat pasar menilai bahwa transparansi dalam menanggapi kontroversi semacam ini penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Strategi Ekspansi Logistik Maritim
Penambahan kapal Boreas diharapkan memperkuat jaringan logistik maritim CDIA, melayani rute domestik dan internasional, serta meningkatkan kapasitas pengiriman bahan kimia. Dengan kapasitas 9.000 DWT, kapal ini dapat menembus pasar Asia dan Eropa, sejalan dengan rencana CDI Group untuk membangun platform logistik regional terintegrasi.
Selain itu, perusahaan berencana mengembangkan proyek energi surya sebagai bagian dari portofolio energi terbarukan, yang dapat menambah sumber pendapatan baru dan mengurangi jejak karbon operasional.
Secara keseluruhan, meskipun CDIA menghadapi penurunan laba yang signifikan, grup Prajogo Pangestu tetap menunjukkan ketahanan melalui diversifikasi aset, ekspansi logistik, dan fokus pada energi terbarukan. Tantangan utama ke depan adalah memulihkan margin laba sambil mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang stabil.
Kesimpulannya, kinerja keuangan kuartal I 2026 menandai fase transisi bagi grup Prajogo Pangestu, dimana fokus beralih ke optimalisasi aset dan penambahan kapasitas logistik guna mengimbangi tekanan profitabilitas.