Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifAnak Kurang Main di Luar Ruangan? Waspada Risiko Mata Minus Sebelum Usia 8
Anak yang lebih sering menghabiskan waktu di depan layar gawai dan jarang bermain di luar ruangan berisiko mengalami miopia atau mata minus lebih cepat, bahkan sebelum genap berusia 8 tahun. Dokter spesialis mata mengingatkan perubahan gaya hidup anak saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus miopia. Aktivitas belajar yang padat, penggunaan gawai dalam waktu lama, hingga minimnya paparan sinar matahari membuat risiko gangguan penglihatan semakin besar.
Apa yang Terjadi?
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, Julie Dewi Barliana, mengatakan paparan sinar matahari dan aktivitas di luar ruangan memiliki peran penting dalam mencegah perkembangan mata minus pada anak. Sebaliknya, anak yang lebih banyak melakukan aktivitas jarak dekat (near work), seperti bermain gawai, membaca, atau belajar dalam waktu lama tanpa diimbangi aktivitas di luar ruangan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami miopia. “Jika kita menemukan seorang anak di bawah usia 8 tahun dengan hiperopia yang sudah hampir hilang, kemudian berasal dari etnis Asia, memiliki riwayat keluarga dengan miopia, serta faktor lingkungan seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah, kurang paparan matahari, dan aktivitas jarak dekat yang intensif, maka anak tersebut sudah masuk kelompok berisiko mengalami premiopia,” ujar Julie.
Mengapa dan Dampak
Perubahan pola hidup anak turut mempercepat munculnya kondisi tersebut. Jadwal sekolah yang semakin panjang membuat anak kehilangan waktu untuk beraktivitas di luar ruangan. “Dulu mungkin anak pulang sekolah jam 12 atau jam 1 siang. Sekarang banyak yang baru pulang jam 4 sore, kemudian masih melanjutkan les. Akibatnya waktu bermain di luar menjadi sangat berkurang,” ujarnya. Temuan ini sejalan dengan keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 yang memasukkan peningkatan aktivitas sedentari atau gaya hidup kurang aktif serta tingginya durasi menatap layar sebagai dampak perubahan gaya hidup anak yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kesehatan mata sekaligus kesehatan secara keseluruhan.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Miopia kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan refraksi yang cukup dikoreksi dengan lensa biasa, melainkan telah menjadi perhatian kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan sejak dini. Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan pihaknya telah mengembangkan teknologi lensa bernama HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) yang tidak hanya membantu mengoreksi penglihatan, tetapi juga dirancang untuk memperlambat pertambahan panjang bola mata (axial length), salah satu faktor yang berperan dalam progresivitas miopia.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
International Myopia Institute (IMI) dalam pembaruan panduan klinis pada 2023 menyebutkan bahwa memperbanyak waktu bermain di luar ruangan merupakan salah satu intervensi yang paling konsisten terbukti dapat menurunkan risiko munculnya miopia pada anak. IMI merekomendasikan anak menghabiskan sedikitnya dua jam setiap hari di luar ruangan untuk membantu menekan risiko mata minus. Oleh karena itu, orang tua perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya aktivitas di luar ruangan bagi kesehatan mata anak. Dengan demikian, anak dapat terhindar dari risiko miopia dan memiliki masa depan yang lebih cerah.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260712231215-255-1379910/anak-jarang-main-di-luar-berisiko-mata-minus-sebelum-usia-8-tahun, without altering the facts of the original article.