Berita Hari Ini – 01 April 2026 | Teheran, 31 Maret 2026 – Serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Selasa pagi menimpa satu fasilitas produksi farmasi terbesar di Iran, Tofigh Daru Research and Engineering Company, yang dikenal memproduksi bahan aktif untuk obat anestesi, anti‑kanker, kardiovaskular, dan imunomodulator. Ledakan yang terjadi menghancurkan bagian utama pabrik, menutup jalur produksi obat‑obatan penting, dan menambah daftar korban sipil dalam konflik yang kini memasuki hari ke‑32.
Kerusakan pada sektor farmasi dan dampak medis
Tofigh Daru, anak perusahaan Social Security Investment Company yang dimiliki negara, melayani lebih dari 60 rumah sakit di dalam negeri. Kerusakan pada fasilitas tersebut diperkirakan akan mengganggu pasokan obat anestesi dan kemoterapi selama beberapa minggu, menimbulkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis dan pasien kanker yang sedang menjalani perawatan. Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur produksi kini terhenti dan tim teknisi sedang berupaya mengamankan sisa stok yang masih dapat dipergunakan.
Ruang lingkup serangan dan korban jiwa
Serangan pada 28 Februari 2026 memicu gelombang balasan yang meluas ke berbagai kota strategis, termasuk Isfahan, Kermanshah, dan Zanjan. Hingga kini, data resmi mengindikasikan hampir 1.937 warga Iran tewas dan lebih dari 5.000 luka‑luka, sementara di pihak Israel tercatat 20 korban jiwa. Di provinsi Kermanshah, sebuah kontraktor sipil di Qasr‑e Shirin menjadi target, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Di Teheran, situs keagamaan Syiah Husseiniya Azam di Zanjan juga mengalami kerusakan serius, dengan Palang Merah berhasil mengevakuasi dua korban terperangkap.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan lainnya
Selain pabrik farmasi, serangan juga menghantam Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina yang baru dibangun di ibu kota. Sekitar tiga puluh pasien berada di dalam gedung saat serangan terjadi pada Senin malam, mengakibatkan kerusakan pada pintu, jendela, dan dinding. Dokter yang berada di lokasi melaporkan kondisi kritis bagi beberapa pasien yang membutuhkan perawatan intensif, namun belum ada laporan pasti mengenai jumlah korban jiwa di rumah sakit tersebut.
Respon masyarakat dan diplomasi
Ribuan warga Iran turun ke jalan dalam aksi protes menentang serangan berkelanjutan, menuntut akhir operasi militer dan pemulihan layanan kesehatan. Sementara itu, upaya diplomatik masih berlangsung; pejabat Amerika Serikat mengklaim bahwa perundingan damai “masih aktif” meski belum menghasilkan gencatan senjata yang konkrit. Pemerintah Iran menilai bahwa serangan menargetkan infrastruktur sipil kritis dan melanggar hukum humaniter internasional.
Konsekuensi regional dan ekonomi
Penutupan sebagian lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran menambah tekanan pada pasar energi global, memicu kenaikan harga minyak mentah. Sementara itu, Israel dan sekutunya terus melancarkan operasi udara di wilayah industri pertahanan Iran, termasuk pangkalan udara Badr, 8th Shekari, dan 4th Air Force Base di provinsi Isfahan. Menurut laporan militer, serangan ini bertujuan menonaktifkan kemampuan misil balistik Iran, namun efek sampingnya memperburuk kondisi kemanusiaan di daerah perkotaan.
- Fasilitas farmasi: Tofigh Daru – kerusakan berat, produksi terhenti.
- Rumah sakit jiwa: Delaram Sina – 30 pasien terdampak, kerusakan struktural.
- Korban total: >1.900 jiwa di Iran, 20 jiwa di Israel sejak 28 Feb 2026.
- Target tambahan: situs keagamaan, pangkalan militer, infrastruktur energi.
- Dampak ekonomi: gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz, inflasi harga energi.
Dengan situasi yang semakin menghangat, tekanan internasional untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, terutama fasilitas kesehatan, diperkirakan akan meningkat. Pihak‑pihak terkait diharapkan dapat menemukan solusi diplomatik yang melibatkan penghentian blokade di Selat Hormuz serta jaminan keamanan bagi fasilitas farmasi dan rumah sakit yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan nasional.
Ke depan, pemulihan produksi obat di Tofigh Daru akan menjadi indikator utama bagi kemampuan Iran mengatasi krisis medis yang dipicu oleh konflik. Jika proses rehabilitasi tertunda, konsekuensi bagi ribuan pasien kanker dan prosedur operasi di seluruh negeri dapat menjadi beban tambahan yang memperparah penderitaan penduduk sipil di tengah perang yang belum menunjukkan tanda‑tanda mereda.