Berita Hari Ini – 02 Mei 2026 | Pada Desember 2021, langit di sekitar Daegu, Korea Selatan, menjadi saksi sebuah insiden tak terduga ketika dua jet tempur F-15K milik Angkatan Udara (AU) Korea Selatan bertabrakan. Penyebab utama yang terungkap bukan kesalahan teknis melainkan aksi selfie pilot yang berusaha mengabadikan momen penerbangan terakhirnya bersama unit militer.
Rangkaian Peristiwa hingga Tabrakan
Pilot berpangkat mayor memimpin formasi dua jet tersebut dalam sebuah misi latihan rutin. Sebelum lepas landas, ia menyampaikan niatnya untuk mengambil foto dan merekam video menggunakan ponsel pribadi sebagai bentuk penghormatan pada karir militernya yang akan berakhir. Sesampainya di udara, pilot utama tetap memimpin, sementara jet pendamping mengikuti di belakangnya.
Setelah kembali ke zona dekat pangkalan, pilot utama mulai mengambil gambar dengan ponsel, sementara ia meminta pilot pendamping untuk merekam video pesawatnya. Menanggapi perintah tersebut, pilot pendamping menaikkan ketinggian jetnya dan melakukan putaran agar dapat terekam lebih jelas. Manuver tersebut membuat jarak antar kedua F-15K sangat sempit.
Ketika pilot utama mencoba menurunkan ketinggian untuk menghindari risiko, kedua pesawat berada pada jarak yang terlalu dekat sehingga terjadilah tabrakan. Beruntung, kedua jet dapat mendarat dengan selamat tanpa korban jiwa, namun kerusakan signifikan terjadi pada sayap kiri pesawat utama dan penstabil ekor jet pendamping.
Kerugian Finansial dan Penanganan Audit
Nilai total aset yang rusak diperkirakan mencapai 135 juta dolar AS, setara dengan sekitar Rp2,3 triliun. Biaya perbaikan langsung tercatat 880 juta won (sekitar Rp10,2 miliar). Awalnya, pilot yang memicu manuver tersebut dikenai denda penuh untuk menutupi seluruh biaya perbaikan.
Namun, pilot mengajukan banding yang memicu penyelidikan oleh Badan Audit dan Inspeksi (BAI). Dalam laporan yang dirilis pada 22 April 2026, BAI menilai bahwa tanggung jawab tidak semata-mata berada pada pilot pendamping. Dikatakan bahwa pilot utama secara diam-diam menyetujui pengambilan gambar, sehingga kedua pihak memiliki andil dalam kejadian.
Setelah mempertimbangkan catatan kinerja baik pilot pendamping sebelum insiden dan fakta bahwa ia berhasil mengendalikan pesawat kembali ke pangkalan dengan aman, BAI memutuskan pilot pendamping hanya harus membayar 10 persen dari total kerugian, yakni sekitar 87,8 juta won (Rp1 miliar). Sisa beban kerugian ditanggung oleh Angkatan Udara Korsel, yang dinyatakan juga memiliki tanggung jawab karena belum mengatur penggunaan kamera pribadi secara ketat.
Tindakan Koreksi dan Dampak Kebijakan
Angkatan Udara Korsel secara terbuka meminta maaf kepada publik dan menegaskan komitmen untuk memperketat aturan penggunaan perangkat pribadi selama penerbangan. Kebijakan baru melarang penggunaan ponsel atau kamera pribadi tanpa izin resmi, serta menambahkan prosedur verifikasi sebelum melakukan perekaman visual di udara.
Insiden ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan militer internasional tentang batasan kebebasan pilot dalam mendokumentasikan misi mereka. Sementara sebagian pihak berargumen bahwa dokumentasi dapat meningkatkan moral dan transparansi, kasus selfie pilot ini menegaskan risiko fatal bila prosedur keselamatan diabaikan.
Pasca insiden, pilot mayor tersebut diskors dan kemudian keluar dari militer untuk berkarier sebagai pilot komersial. Hingga kini, tidak ada informasi resmi mengenai tindakan disipliner terhadap pilot lain yang terlibat.
Secara keseluruhan, tabrakan ini menjadi pelajaran berharga bagi militer Korea Selatan dalam menyeimbangkan inovasi teknologi pribadi dengan standar keselamatan yang ketat.
Dengan audit yang transparan dan penyesuaian regulasi, diharapkan kejadian serupa tidak terulang, sekaligus menegaskan pentingnya disiplin prosedural dalam operasi penerbangan militer.