BBM Langka, Jaecoo J5 EV Jadi Pilihan Utama: Hemat Sampai Rp 1,3 Juta Per Bulan!
Berita Hari Ini – 03 April 2026 | Jakarta – Harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus berfluktuasi menambah beban pengendara bensin di Indonesia. Dengan pertamax mencapai Rp 12.300 per liter pada April 2026, biaya operasional mobil konvensional semakin menggelincir. Di tengah kondisi ini, mobil listrik Jaecoo J5 EV muncul sebagai alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga jauh lebih ekonomis.
Perbandingan langsung antara Honda WR‑V, mobil bensin yang populer di segmen SUV mini, dan Jaecoo J5 EV menunjukkan selisih biaya operasional yang signifikan. Kedua model memiliki harga jual yang berdekatan, namun perbedaan utama terletak pada cara mereka menghasilkan tenaga.
Data Konsumsi dan Simulasi Jarak Tempuh
Uji jalan yang dilakukan oleh Kompas Otomotif mencatat konsumsi WR‑V sebesar 10,8 km per liter dalam kondisi lalu lintas padat (rata‑rata kecepatan 15 km/jam) dan 21,1 km per liter pada jalan luar kota dengan kecepatan rata‑rata 64 km/jam. Sementara itu, Jaecoo J5 EV mencatat penggunaan listrik rata‑rata 11,4 kWh per 100 km, atau sekitar 8,7 km per kWh dan mendekati 10 km per kWh pada kondisi optimal.
| Parameter | WR‑V | Jaecoo J5 EV |
|---|---|---|
| Konsumsi (kota) | 10,8 km/l | 8,7 km/kWh |
| Konsumsi (jalan luar kota) | 21,1 km/l | 10 km/kWh |
Simulasi penggunaan harian mengasumsikan perjalanan pulang‑pergi Bogor‑Jakarta sejauh 100‑120 km selama 30 hari, menghasilkan total jarak tempuh bulanan antara 3.000 km dan 3.600 km.
Biaya Operasional Bulanan
Dengan harga pertamax Rp 12.300 per liter, WR‑V membutuhkan 142‑170 liter bahan bakar per bulan. Total biaya bahan bakar berada pada kisaran Rp 1,75 juta hingga Rp 2,09 juta.
Untuk Jaecoo J5 EV, biaya tergantung pada tarif listrik. Jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif Rp 1.444 per kWh, mobil ini memerlukan 342‑410 kWh per bulan, menghasilkan biaya antara Rp 494 ribu hingga Rp 593 ribu. Pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dengan tarif Rp 2.400‑2.500 per kWh, biaya meningkat menjadi Rp 820 ribu hingga Rp 1,02 juta.
Selisih biaya operasional antara kedua kendaraan tetap menguntungkan bagi pengguna listrik, yaitu antara Rp 730 ribu hingga Rp 1,27 juta per bulan, terlepas dari lokasi pengisian.
Keunggulan Jaecoo J5 EV di Tengah Kelangkaan BBM
- Penghematan Finansial – Pengguna listrik dapat mengurangi beban biaya transportasi hingga lebih dari satu juta rupiah setiap bulan.
- Kemandirian Energi – Pengisian di rumah memungkinkan pemilik mengontrol beban listrik dan mengoptimalkan tarif listrik rumah tangga.
- Ramah Lingkungan – Emisi CO₂ yang jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin membantu mengurangi jejak karbon.
- Ketersediaan Infrastruktur – Pertumbuhan jaringan SPKLU di wilayah perkotaan memperluas pilihan tempat pengisian.
Selain itu, Jaecoo J5 EV menawarkan ruang kabin yang lega, fitur infotainment modern, dan paket keamanan yang kompetitif, menjadikannya pilihan yang tidak hanya hemat, tetapi juga nyaman untuk keluarga.
Implikasi Bagi Konsumen dan Industri Otomotif
Konsumen yang sebelumnya ragu beralih ke mobil listrik kini memiliki data konkret yang menunjukkan keuntungan ekonomi nyata. Selama periode BBM langka atau harga bensin naik, mobil listrik dapat menjadi penyangga keuangan yang penting.
Industri otomotif Indonesia juga diharapkan semakin mempercepat pengembangan dan produksi kendaraan listrik lokal, mengingat permintaan yang mulai menguat. Kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan infrastruktur pengisian serta insentif fiskal dapat mempercepat adopsi massal.
Dengan semua pertimbangan tersebut, Jaecoo J5 EV tidak sekadar menjadi alternatif, melainkan pilihan strategis bagi pengendara yang ingin menekan biaya operasional sekaligus berkontribusi pada upaya pengurangan ketergantungan pada BBM.
Seiring dengan penurunan harga baterai dan peningkatan jaringan pengisian, perbedaan biaya antara mobil listrik dan bensin diprediksi akan semakin lebar, menegaskan posisi Jaecoo J5 EV sebagai andalan utama di pasar otomotif Indonesia.