Berita Hari Ini – 04 Mei 2026 | Pyongyang – Pada upacara peringatan 70 tahun Kemenangan Perang Pembebasan Tanah Air Besar, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara terbuka mengungkapkan kebijakan ekstrem yang diberlakukan kepada pasukannya yang bertugas di Ukraina. Ia menegaskan bahwa prajurit‑prajuritnya diperintahkan untuk mengakhiri hidup sendiri bila terancam menjadi tawanan, sekaligus meluncurkan museum peringatan bagi yang gugur.
Pengakuan kontroversial dari Kim Jong Un
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Kim Jong Un memuji keberanian tentara Korea Utara yang berperang bersama Rusia melawan pasukan Ukraina. Ia menyebut tindakan “tanpa ragu meledakkan diri” sebagai bentuk tertinggi dari kehormatan negara. Menurut keterangan resmi, lebih dari dua ribu prajurit telah tewas di medan perang, sementara hanya dua orang saja dilaporkan berhasil ditangkap hidup‑hidup oleh Ukraina.
Skala kehadiran militer Korea Utara di Ukraina
Intelijen regional memperkirakan sekitar 15.000 tentara Korea Utara dikirim ke Ukraina sejak Oktober 2024. Angka ini mencakup personel infanteri, ahli artileri, serta tim teknis yang mengoperasikan rudal balistik Hwasong‑11 (KN‑23/KN‑24) yang kini dipasok ke Rusia. Selama tahun 2026, Korea Utara melakukan tujuh kali uji coba rudal balistik, menandai intensifikasi kerja sama militer yang telah dimulai sejak perjanjian strategis 2024.
Rencana kerja sama militer jangka panjang
Kim Jong Un bersama Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, membahas agenda kerja sama hingga tahun 2031. Rencana tersebut mencakup pengembangan teknologi misil, pertukaran intelijen, serta penggunaan bersama fasilitas pelatihan militer. Kedua pemimpin menegaskan bahwa aliansi ini bersifat “patriotik” dan berlandaskan pada pertumpahan darah yang telah terjadi di garis depan.
Reaksi internasional
Komunitas internasional menanggapi dengan kecemasan. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan adanya peningkatan aktivitas di fasilitas nuklir Korea Utara yang berpotensi menambah ketegangan regional. Sementara itu, negara‑negara Barat mengutuk kebijakan “bunuh diri” yang dianggap melanggar Konvensi Jenewa tentang tawanan perang.
Data korban dan kondisi di lapangan
- Jumlah tentara Korea Utara di Ukraina: diperkirakan 10.000–15.000 personel.
- Korban tewas: hampir 2.000 prajurit.
- Tawanan hidup: hanya dua orang.
- Senjata utama yang dipasok: rudal balistik Hwasong‑11 (KN‑23/KN‑24).
Selain data tersebut, sejumlah saksi militer Ukraina melaporkan kasus prajurit Korea Utara yang mencoba melukai diri sendiri untuk menghindari penahanan, termasuk insiden menggigit pergelangan tangan. Kejadian ini menegaskan betapa kerasnya doktrin “penghancuran diri” yang diterapkan oleh Kim Jong Un.
Melalui museum baru yang dibuka di Pyongyang, pemerintah Korea Utara berusaha menata narasi heroik atas pengorbanan pasukan mereka. Museum menampilkan foto, peralatan, serta surat-surat pribadi prajurit yang diklaim telah “menyumbangkan nyawa demi kebebasan bangsa”.
Secara keseluruhan, pengakuan terbuka Kim Jong Un tentang perintah bunuh diri serta intensifikasi kerja sama militer dengan Rusia menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Eropa Timur. Sementara konflik di Ukraina terus berlarut, peran serta Korea Utara menambah kompleksitas diplomasi dan keamanan regional.
Kejadian ini menegaskan perlunya pengawasan internasional yang lebih ketat terhadap praktik perang yang melanggar hukum humaniter serta pemantauan ketat terhadap proliferasi senjata balistik di kawasan.