Momen Penentu di Menit Akhir
Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Komisi C DPRD Makassar, Jumat (24/7/2026), sejumlah persoalan ditemukan di kawasan perumahan GMTD. Kondisi yang mengejutkan adalah minimnya fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos), belum optimalnya penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU), serta potensi bertambahnya beban pasokan air bersih dari PDAM Makassar.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Sekretaris Komisi C DPRD Makassar, Ray Suryadi Arsyad, mengatakan kawasan GMTD pada awalnya dikembangkan sebagai kawasan pariwisata. Bahkan, berdasarkan kesepakatan pada masa pemerintahan gubernur sebelumnya, sekitar 70 persen kawasan itu diperuntukkan bagi pengembangan sektor pariwisata. Namun, menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan fungsi kawasan tersebut telah bergeser dan didominasi pembangunan klaster-klaster perumahan. “GMTD itu singkatan dari Gowa Makassar Tourism Development. Artinya sejak awal kawasan ini memang dirancang untuk pariwisata. Tetapi yang kami lihat sekarang sudah tidak sesuai dengan konsep awal,” kata Ray.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Politikus Partai Demokrat itu menilai pembangunan puluhan klaster perumahan tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas umum yang memadai bagi penghuni. Salah satu yang menjadi sorotan adalah belum tersedianya masjid sebagai sarana ibadah di kawasan tersebut. “Setelah GMTD mengembangkan banyak klaster perumahan, ternyata fasilitas umum yang menjadi kebutuhan masyarakat, termasuk masjid, masih sangat minim,” ujarnya. Selain fasilitas umum, DPRD Makassar juga menyoroti lambannya penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU) kepada Pemerintah Kota Makassar. Ray menyebut, dari sekitar 50 klaster yang telah dibangun di kawasan GMTD, baru sekitar tujuh klaster yang menyerahkan PSU kepada pemerintah. “Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya kepatuhan pengembang dalam memenuhi kewajibannya,” katanya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah kebutuhan air bersih. Ray menilai bertambahnya jumlah klaster perumahan akan meningkatkan kebutuhan air baku yang selama ini dipasok oleh PDAM Makassar. Menurutnya, jika seluruh klaster baru terus bergantung pada pasokan PDAM, dikhawatirkan distribusi air bersih bagi masyarakat di kawasan lain akan ikut terdampak. “Jika kawasan GMTD terus berkembang tanpa penanganan yang serius terhadap kebutuhan air bersih, maka masyarakat akan menghadapi krisis air yang parah,” kata Ray. DPRD Makassar khawatir bahwa jika kawasan GMTD kelola air sendiri, maka pasokan air PDAM untuk warga akan berkurang dan distribusi air bersih akan terganggu. Oleh karena itu, DPRD Makassar menekankan pentingnya penanganan secara serius terhadap kebutuhan air bersih di kawasan GMTD.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://makassar.tribunnews.com/kareba-parlementa/1845185/dprd-makassar-minta-gmtd-kelola-air-sendiri-khawatir-pasokan-pdam-untuk-warga-berkurang, without altering the facts of the original article.