**Naskah Kuno Bugis, Profesor Andi Sukri Ajak Warga Sulsel Rawat dan Konservasi** **Momen Penentu di Menit Akhir** Profesor Andi Sukri Syamsuri, M.Hum, yang dikenal sebagai Guru Besar Bahasa Bugis, telah mengajak masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk terlibat aktif dalam menjaga dan merawat naskah kuno yang masih tersimpan di rumah keluarga, komunitas adat, rumah ibadah, pesantren, serta lembaga pendidikan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka Kegiatan Diseminasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Penyimpanan, Perawatan, Pelestarian, dan Pendaftaran Naskah Kuno Angkatan I, yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar di Aston Makassar Hotel and Convention Center, Selasa, 28 Juli 2026. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Dalam kegiatan tersebut, Prof Andis membawakan materi bertajuk “Jangan Biarkan Sejarah Lapuk: Aksi Nyata Masyarakat dalam Penyimpanan Naskah Kuno”. Ia menekankan bahwa pelestarian naskah kuno tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada museum, perpustakaan, ataupun pemerintah. Menurutnya, keluarga dan komunitas pemilik naskah kuno justru merupakan penjaga utama naskah karena mengetahui asal-usul, fungsi, riwayat kepemilikan, serta makna sosial yang menyertainya. **Apa Artinya Ini ke Depan?** “Naskah kuno bukan sekadar benda lama. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, identitas, pengalaman, dan ingatan kolektif yang menghubungkan masyarakat hari ini dengan generasi terdahulu,” kata Prof Andis. Bagi keluarga, naskah dapat memuat silsilah keturunan, hukum adat, resep pengobatan tradisional, catatan keagamaan, hingga berbagai pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam konteks yang lebih luas, naskah kuno juga menjadi sumber penting untuk memahami sejarah masyarakat, perkembangan bahasa, sistem sosial, tradisi keagamaan, dan identitas kebudayaan bangsa. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Menurut Prof Andis, banyak naskah kuno masih berada di luar lembaga penyimpanan resmi. Naskah-naskah tersebut tersimpan di rumah keluarga, komunitas adat, rumah ibadah, pesantren, sekolah, dan kediaman tokoh agama. Kondisi itu menjadikan pemilik sebagai pihak yang paling menentukan keberlanjutan warisan tersebut. Pemilik tidak hanya menjaga benda fisiknya, tetapi juga menyimpan informasi mengenai tradisi pembacaan, fungsi sosial, serta kedudukan naskah di tengah masyarakat. Menurut Prof Andis, informasi tersebut tidak dapat digantikan hanya dengan foto atau katalog. Naskah yang dipisahkan dari cerita pemilik dan lingkungan sosialnya berisiko kehilangan sebagian besar maknanya. Dengan demikian, sangat penting bagi masyarakat Sulsel untuk terlibat aktif dalam menjaga dan merawat naskah kuno. Dengan demikian, warisan budaya dan sejarah bangsa dapat terpelihara dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://makassar.tribunnews.com/kampus/1845605/profesor-bahasa-bugis-andi-sukri-ajak-warga-sulsel-rawat-naskah-kuno, without altering the facts of the original article.