**Batik Marunda Mengabadikan Lima Abad Jakarta Lewat Koleksi “Aku, Jakarta”** Pada malam hari yang cerah, Senayan menjadi saksi keindahan busana tradisional yang menggambarkan identitas ibu kota. Batik Marunda, karya para perajin Rusunawa Marunda, menampilkan sembilan rancangan busana dengan signature look “Sampir Jakarta â The Jakarta Drape”. Koleksi ini merupakan persembahan dari warga Jakarta untuk kota yang telah menjadi tempat mereka tumbuh dan berkarya. **Momen Penentu di Menit Akhir** Koleksi “Aku, Jakarta” disiapkan sebagai hadiah bagi Jakarta yang memasuki usia lima abad. Kisah perjalanan ibu kota diterjemahkan melalui selembar batik tulis dengan pendekatan yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas budayanya. Pembina Batik Marunda, Irma G. Sinurat, menjelaskan bahwa koleksi ini merupakan persembahan dari warga Jakarta untuk kota yang telah menjadi tempat mereka tumbuh dan berkarya. “Kami ingin memberikan sesuatu untuk lima abad Kota Jakarta. Rasanya ingin bercerita tentang Jakarta lewat sehelai kain sebagai hadiah untuk kota ini,” katanya. Berbeda dengan batik yang mengangkat ikon secara eksplisit, Batik Marunda memilih mengolah berbagai elemen khas Jakarta menjadi motif yang lebih kontemporer. Inspirasi diambil dari bangunan bersejarah, museum, hingga unsur topeng Betawi. Sementara ondel-ondel tidak ditampilkan secara utuh, melainkan diinterpretasikan menjadi elemen visual yang lebih urban. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Koleksi tahun ini didominasi perpaduan warna cokelat dan hijau yang dipilih mengikuti perkembangan tren fesyen sekaligus merepresentasikan karakter Jakarta. Konsep “Sampir Jakarta â The Jakarta Drape” juga menyimpan makna filosofis. Baginya, kain yang disampirkan di bahu bukan sekadar pelengkap busana, melainkan simbol kehangatan dan keterbukaan. “Kain yang disampirkan di bahu itu tidak membungkus atau menutup, tetapi memberi kehangatan. Kami berharap Jakarta juga menjadi kota yang terbuka dan selalu memberikan kehangatan bagi warganya,” jelasnya. Di balik koleksi yang tampil di IFW 2026, terdapat sekitar 20 perempuan penghuni Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Marunda, Jakarta Utara, yang menjadi perajin Batik Marunda. Mereka merupakan warga relokasi yang sebelumnya bekerja sebagai buruh cuci maupun pekerja serabutan sebelum mendapatkan pelatihan membatik. “Mereka dulunya buruh cuci dan pekerja serabutan. Sekarang mereka sudah bisa membatik dengan baik,” ungkap Irma. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Seluruh produk Batik Marunda hingga kini masih dikerjakan menggunakan teknik batik tulis. Proses pembuatan satu lembar kain memerlukan waktu sekitar satu hingga dua pekan sehingga setiap hasil karya memiliki karakter yang berbeda layaknya sebuah lukisan. “Karena semuanya masih batik tulis, prosesnya memang lama. Seperti melukis di atas sehelai kain,” imbuhnya. Dengan koleksi “Aku, Jakarta”, Batik Marunda berhasil mengabadikan lima abad Jakarta lewat karya batik yang unik dan menarik. Koleksi ini tidak hanya menampilkan identitas ibu kota, tetapi juga menjadi simbol kehangatan dan keterbukaan bagi warganya. Dengan demikian, Batik Marunda berhasil menulis sejarah baru dalam dunia batik Indonesia. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Sekarang, Batik Marunda terus berkomitmen untuk mengembangkan karya batik yang unik dan menarik. Dengan dukungan warga Jakarta, mereka berharap dapat terus mengabadikan identitas ibu kota lewat karya batik yang indah dan bermakna. “Kami berharap Jakarta juga menjadi kota yang terbuka dan selalu memberikan kehangatan bagi warganya,” jelas Irma. Dengan demikian, koleksi “Aku, Jakarta” akan terus menjadi simbol kehangatan dan keterbukaan bagi warga Jakarta.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://wartakota.tribunnews.com/news/896873/batik-marunda-rayakan-lima-abad-jakarta-lewat-koleksi-aku-jakarta-di-ifw, without altering the facts of the original article.