Dalam suatu upacara yang unik, Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda atau Nabe Napak diberangkatkan ke Krematorium Tyaga Margananda Karangasem untuk melaksanakan Bumi Suda. Prosesi ini merupakan hasil dari wasiat terakhir sang pandita, yang juga merupakan sulinggih. Keluarga dan kerabatnya menghormati keinginan sang sulinggih, meskipun ada pilihan lain yang telah disediakan.
Momen Penentu di Menit Akhir
Prosesi palebon digelar di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Karangasem, sesuai dengan wasiat almarhum semasa hidup. Pelaksanaan palebon tersebut menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya sejak diresmikan pada 27 September 2025, Krematorium Tyaga Margananda digunakan sebagai lokasi palebon seorang sulinggih.
Jenazah diberangkatkan dari Bangli menuju Karangasem menggunakan ambulans. Setibanya di krematorium, rangkaian upacara diawali dengan prosesi di padma, dilanjutkan Purwasaya, kemudian jenazah ditempatkan di petulangan lembu sebelum memasuki proses kremasi.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Sebelum prosesi Bumi Suda dilaksanakan, jenazah diberangkatkan dari Bangli menuju Karangasem menggunakan ambulans. Upacara diteruskan dengan pengiriman, nganyut di Segara Ujung Mantri, pengedetan hingga penyekahan. Prosesi kremasi ini merupakan hasil dari wasiat terakhir sang pandita, yang juga merupakan sulinggih.
Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda atau Nabe Napak menjelaskan, pilihan melaksanakan kremasi merupakan amanat langsung dari almarhum semasa hidup. Padahal, keluarga telah menyiapkan tegal suci sebagai lokasi palebon apabila prosesi dilakukan secara konvensional.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Menurut Nabe Napak, keberadaan krematorium tidak bertujuan mengubah adat maupun tradisi pelaksanaan yadnya umat Hindu. Fasilitas tersebut justru menjadi alternatif bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan lahan, waktu, maupun kondisi tertentu, tanpa mengurangi kesakralan upacara.
Putra almarhum, I Komang Pujawan, mengatakan keluarganya hanya menjalankan pesan terakhir sang ayah. “Ini memang permintaan Ida Sulinggih semasa hidup. Kami hanya menjalankan pesan beliau. Kebetulan di desa juga sedang ada upacara adat, sehingga kremasi menjadi pilihan yang lebih sederhana tanpa mengurangi makna yadnya,” ungkapnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Prosesi palebon Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda atau Nabe Napak di Krematorium Tyaga Margananda Karangasem merupakan suatu langkah yang unik dalam pelaksanaan yadnya umat Hindu. Meskipun ada pilihan lain yang telah disediakan, keluarga dan kerabatnya menghormati keinginan sang sulinggih.
Keberadaan krematorium tidak bertujuan mengubah adat maupun tradisi pelaksanaan yadnya umat Hindu, tetapi sebagai alternatif bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan lahan, waktu, maupun kondisi tertentu. Prosesi ini merupakan suatu contoh bahwa wasiat terakhir seseorang harus dihormati dan dijalankan dengan baik.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://bali.tribunnews.com/karangasem/602340/perdana-palebon-sulinggih-di-krematorium-tyaga-margananda-karangasem-wasiat-terakhir-sang-pandita, without altering the facts of the original article.