Bencana Alam di Bondowoso Membuat BPBD Bentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana di Semester I 2026 Bencana alam di Kabupaten Bondowoso mencatat tren peningkatan yang cukup signifikan sepanjang semester pertama (JanuariâJuli) tahun 2026. Jumlah bencana sudah menembus angka 195 kejadian, meningkat lebih dari 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. ## Momen Penentu di Menit Akhir BPBD Kabupaten Bondowoso mencatat tren peningkatan kejadian bencana alam yang cukup signifikan sepanjang semester pertama (JanuariâJuli) tahun 2026. Sepanjang tahun 2025 lalu, tercatat sebanyak 351 kejadian bencana alam di Bondowoso atau rata-rata terjadi satu bencana setiap dua hari sekali. Namun, hanya dalam waktu satu semester di tahun 2026, jumlah bencana sudah menembus angka 195 kejadian. Artinya, saat ini diestimasi terjadi 1 hingga 2 bencana setiap harinya. ## Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda Faktor alam memang tidak bisa dihentikan sepenuhnya, namun upaya untuk menekan dan mengurangi risiko dampak bencana terus dimaksimalkan melalui program pencegahan berbasis masyarakat dan sekolah. BPBD Bondowoso gencar mendorong pembentukan Desa Tangguh Bencana serta Sekolah Tangguh Bencana, termasuk memberikan edukasi pengelolaan lingkungan sejak tingkat dasar. “Kami sangat berharap ada perubahan perilaku yang dimulai dari tingkat dasar, khususnya di dunia pendidikan, terutama dalam hal pemilahan dan pengelolaan sampah,” tuturnya. ## Apa Artinya Ini ke Depan? BPBD Bondowoso berharap sinergi yang solid dan terukur dari seluruh elemen masyarakat ini mampu mengoptimalkan peta mitigasi serta meminimalkan risiko bencana di Kabupaten Bondowoso ke depan. “Keberhasilan penanggulangan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Adanya keterpaduan seluruh unsur sangat menentukan, baik pada fase pra-bencana, saat bencana, maupun pascabencana. FPRB memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah,” jelas Kristianto. Ia berharap sinergi yang solid dan terukur dari seluruh elemen masyarakat ini mampu mengoptimalkan peta mitigasi serta meminimalkan risiko bencana di Kabupaten Bondowoso ke depan. ## Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh BPBD Bondowoso resmi membentuk kepengurusan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) untuk periode 2027â2029. FPRB ini digawangi oleh lintas sektor dengan menerapkan konsep pentahelix, melibatkan akademisi/tenaga pendidik, aktivis lingkungan, jurnalis, komunitas sosial, PMI, dunia usaha, hingga LP2SM. “Keberhasilan penanggulangan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Adanya keterpaduan seluruh unsur sangat menentukan, baik pada fase pra-bencana, saat bencana, maupun pascabencana. FPRB memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah,” jelas Kristianto. Ia berharap sinergi yang solid dan terukur dari seluruh elemen masyarakat ini mampu mengoptimalkan peta mitigasi serta meminimalkan risiko bencana di Kabupaten Bondowoso ke depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jatim.tribunnews.com/jatim/554554/bencana-alam-di-bondowoso-melonjak-di-semester-i-2026-bpbd-bentuk-forum-pengurangan-risiko-bencana, without altering the facts of the original article.