Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg, mengapresiasi gagasan Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI), Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, yang menempatkan masjid sebagai pusat peradaban, pendidikan, persatuan, dan diplomasi perdamaian dunia. Gagasan “Dari Masjid untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Perdamaian Dunia” itu dinilai sejalan dengan sejarah panjang masjid dalam membangun kehidupan umat Islam, termasuk di Aceh, yang sejak dahulu menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, pengembangan ilmu, dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Tiga Fakta yang Bikin Gagasan Menag Berbeda
Prof Mujiburrahman menyatakan bahwa dalam sejarah Aceh, masjid merupakan institusi peradaban yang memiliki peran besar dalam membangun masyarakat. Dari masjid lahir tradisi pendidikan, penguatan nilai-nilai keislaman, serta semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial. Menurutnya, masjid dalam tradisi Aceh bukan hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, musyawarah, pembinaan masyarakat, serta tempat tumbuhnya tradisi keilmuan Islam.
Momen Penentu di Menit Akhir
Prof Mujiburrahman juga menilai gagasan Menteri Agama tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kembali fungsi strategis masjid dalam konteks kekinian. “Masjid harus terus dikembangkan sebagai ruang yang menghadirkan ilmu pengetahuan, moderasi beragama, pemberdayaan masyarakat, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Inilah kontribusi penting Islam Indonesia bagi perdamaian dunia,” ujarnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Prof Mujiburrahman menambahkan, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab akademik untuk memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial. “Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi Islam dapat memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian,” ungkapnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kejadian ini merupakan bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan IGIC 2026 yang mempertemukan ulama, imam masjid, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia. Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Menurutnya, Jawa Timur merupakan representasi wajah Islam Indonesia yang moderat, nasionalis, dan penuh semangat persaudaraan.
Mengapa Gagasan Menag Ini Penting?
Gagasan Menag untuk menempatkan masjid sebagai pusat peradaban, pendidikan, persatuan, dan diplomasi perdamaian dunia memiliki latar belakang yang kuat. Dalam sejarah Aceh, masjid telah berperan besar dalam membangun masyarakat, dan gagasan ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab akademik untuk memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial. Dengan demikian, perguruan tinggi keagamaan Islam dapat memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Pesan yang Harus Dikirim
Kejadian ini menunjukkan bahwa gagasan Menag untuk menempatkan masjid sebagai pusat peradaban, pendidikan, persatuan, dan diplomasi perdamaian dunia memiliki potensi besar dalam membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju. Perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun kehidupan umat Islam yang lebih harmonis dan maju.
Kejadian ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus terus memperkuat kajian dan inovasi terkait peran masjid sebagai pusat transformasi sosial untuk memberikan kontribusi dalam membangun narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan bagi dunia. Gagasan Menag ini dapat mengembangkan peran masjid sebagai pusat transformasi sosial dan membangun
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1036941/rektor-uin-ar-raniry-dukung-gagasan-menag-jadikan-masjid-pusat-perdamaian-dunia, without altering the facts of the original article.